
"Astaga! Aku ketiduran. Ini udah hampir jam delapan malam."
Ellard tersentak kaget, melihat langit yang telah gelap dari jendela kamarnya. Dia langsung melompat dari sofa panjang, tempatnya berbaring tadi.
"Arella pasti sudah lama menungguku. Aku harus siap-siap pergi sekarang juga." Ellard melirik ke layar ponselnya. Dia terkejut karena tidak ada satu pun notifikasi dari Arella.
"Kenapa dia nggak menelepon? Apa dia sengaja menungguku untuk menelepon duluan?" Ellard mengerutkan keningnya. "Astaga! Jangan-jangan dia marah karena aku datang terlambat dan tidak ada kabar." Pria itu lalu buru-buru menelepon Arella.
"Nomor yang anda tuju salah. Silakan periksa kembali nomor tujuan Anda."
"Loh, kok salah, sih?"
Ellard berkali-kali mencoba menelepon Arella. Namun hasilnya tetap sama. Nomor tersebut tidak dapat menerima panggilan telepon.
"Ini memang benar kok nomor dia. Kenapa nggak bisa dihubungi, ya? Aneh. Jangan-jangan dia menipuku?"
Ellard mulai merasakan ada yang aneh pada Arella. Mulai dari rekening yang tiba-tiba berubah. Toko kue yang mendadak selesai direnovasi. Hingga arella yang hendak memberinya hadiah sebuah kapal mewah
Dia lalu mengecek M-bankingnya. Saldo di dalam rekeningnya masih seratus ribu. Itu artinya belum ada uang masuk ke dalam rekeningnya. Padahal Arella berjanji akan menyelesaikan masalah keuangan siang tadi.
"Tunggu! Dia kan pembisnis sukses. Nggak mungkin dong dia membohongi aku seperti itu. Pasti sekarang dia lagi berada diluar jangkauan. Sama seperti waktu dia keluar negeri dulu."
Ellard tetap berusaha berbaik sangka pada rekan bisnisnya tersebut. Dia mencoba berpikir jernih dan mencari jalan keluar dari masalah ini.
Brak!
"Ellard, cepat teleponkan bank lalu tanyakan, apakah limit kartuku bisa dinaikkan lagi?"
Lilith yang baru aja pulang dari belanja, melemparkan tas belanjaannya ke atas sofa. High heelsnya dia lempar ke sembarang tempat. Wajahnya terlihat kusut dan kelelahan.
"Haah! aku malu banget waktu mau membayar tas di toko barang mewah, karena kartuku ditolak. Katanya saldo tidak cukup lagi," lapor Lilith pada sang suami.
__ADS_1
"Glek! Dia nggak tahu kan, kalau separuh dari uang tabungannya telah aku kuras?" Ellard menelan ludah tanpa merespon kalimat istrinya.
"Sayang, kenapa kamu diam aja? Ayo cepat telepon. nyebelin banget sih padahal barangnya tinggal satu-satunya. Kalau aku mendapatkan tas itu, aku bisa pamer pada Arella dan grup sosialita lainnya nanti."
Lilith berdecak kesal sambil memerintah sang suami untuk segera menuruti keinginannya. Sikapnya benar-benar arogan, layaknya seorang Ratu yang ingin dilayani oleh pelayannya.
"Hei! Berhentilah berbelanja. Apa kamu taunya cuma menghambur-hamburkan uang?" Bentakan Ellard yang tiba-tiba, membuat Lilith terlonjak kaget.
"Apa? Kau memarahiku? Kau udah lupa janjimu saat menikah dulu, bahwa akan selalu membahagiakanku?" Lilith membalas bentakan Ellard dengan kasar.
"Persetan dengan janjiku dulu. Kamu juga nggak menepati janjimu padaku. Sekarang ini bukan saatnya menghambur-hamburkan uang. Karena hal ada hal yang lebih penting daripada itu," balas Ellard dengan sengit.
"Emangnya apa sih masalah yang lebih penting daripada masalahku?" balas Lilith tak mau kalah.
"Ah sudahlah! Orang kaya kamu mana bisa mengerti."
Ellard memakai jaketnya lalu mengambil kunci mobil. Tanpa memperdulikan Lilith, dia Lalu meninggalkan apartemen dengan terburu-buru.
"Loh, ini apa?"
Mata Lilith menangkap sebuah tas kertas kecil di rak buku. Dia pun melihat isinya.
"Gila! Sebuah gelang mewah? Ini beneran vivid blue diamond yang asli?"
Senyuman Lilith mengembang di wajahnya. Dia mengira bahwa hadiah itu untuk dirinya. Tapi senyuman itu hanya bertahan satu detik. Setelah itu kebahagiaannya pun sirna, saat melihat sebuah nama terukir di bagian dalam gelang emas dan berlian mahal itu.
"Arella Andzelika? Ini untuk Arella? Padahal sejak menikah dia nggak pernah memberi hadiah untuk aku." Lilith mendengus napas kesal dan kecewa.
"Tunggu! Benda ini bisa jadi milikku, jika aku menukarnya dengan uang. Lalu dengan uang itu, aku bisa membeli tas mahal tadi."
Asa Lilith yang sempat luntur, kini muncul kembali. Dia pun hendak pergi menjual perhiasan itu, tanpa tahu bahwa benda tersebut dibeli menggunakan uangnya sendiri.
__ADS_1
...***...
"Siapa? Arella Andzelika? Di sini nggak pernah ada penyewa atas nama itu."
Perugas apartemen sudah mengecek nama semua pelanggan yang pernah menginap di apartemen mewah itu berkali-kali. Namun, nama yang disebutkan oleh Ellard tetap tidak pernah terdaftar sebagai penyewa apartemen di sana, walaupun cuma sehari.
"Duh, kamu pasti salah ketik nama. Makanya nggak muncul," protes Ellard.
"Pak, bahkan saya cuma mengetik hutuf 'A' saja, nama Arella Andzelika tetap nggak muncul," kata pegawai perempuan itu ngotot.
"Tapi dia dan aku pernah menginap di sini. Tepatnya di kamar lima ratus lima puluh," desak Ellard sambil berbicara dengan nada tinggi.
"Itu lebih nggak mungkin lagi. Karena lantai lima di sini, jumlah kamarnya cuma ada empat. Dan setiap lantai di gedung ini, maksimal hanya memiliki enam belas kamar. Bapak pasti salah hotel dan apartemen," jelas wanita itu tak mau kalah.
"Aku yakin dia tinggal di sini. Karena aku pernah ke sini beberapa kali. Coba deh cek CCTV," pinta Ellard.
"Maaf, Pak. Kalau bukan karena kasus kriminal, kami dilarang sembarangan menunjukkan tayangan CCTV pada siapa pun. Jadi silakan kembali lagi ke sini bersama polisi, lalu kami akan mengecek semua CCTV dan mencari wanita yang Bapak sebutkan tadi," tegas pegawai wanita itu.
"Ck! Menyebalkan. Dia pikir aku cuma cowok miskin yang kerjanya menipu? Sampai harus disuruh bawa polisi segala," umpat Ellard seraya meninggalkan apartemen tersebut.
"Kalau mau mencarinya ke kantor perusahaan tempat dia bekerja, sekarang pasti nggak ada siapa-siapa. Apa nggak ada tempat lain yang bisa aku tuju untuk mencarinya. Mau menelepon ke kantornya pasti juga nggak ada yang mengangkatnya."
Ellard duduk bersimpuh di tangga pintu masuk apartemen. Beberapa petugas keamanan mengusirnya, mengira dia adalah gelandangan. Saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam, dan Ellard belum mengisi perut sama sekali.
Isi pikirannya saat ini adalah sebuah mansion dan villa yang letaknya di tepi perbukitan dan pantai, yang pernah dia kunjungi bersama Arella dan Lilith dulu. Mungkin dia bisa mencari tahu tentang Arella pada orang-orang di sana.
Tapi ini udah sangat malam. Tempat mansion itu juga cukup jauh jaraknya. Ellard nggak bisa pergi ke sana tanpa modal apa-apa. Sambil memupuk asa, Ellard pun kembali mencoba menelepon Arella.
"Nomor yang anda tuju salah. Silakan periksa kembali nomor tujuan Anda."
"Dasar bangsat!" Ellard mengumpat keras, sambil menendang anak tangga dengan kaki kirinya. "Gimana dengan semua gedung milikku? Lalu uangku?" Pria itu benar-benar stress, karena terjebak dalam permainan Arella.
__ADS_1
(Bersambung)