
“Kamar satunya belum direnovasi, jadi aku tidak masalah jika sekamar denganmu,” ucap Cheryl saat mereka sudah sampai di apartemen dua kamar itu.
Orion mengamati kamar yang berukuran lumayan besar itu, hingga kemudian menatap Cheryl yang hendak membongkar kopernya.
“Aku akan tidur di sofa,” kata Orion, dia benar-benar tidak ingin mengganggu privasi Cheryl.
Cheryl berhenti membuka koper, lantas menoleh Orion yang berdiri di dekat sofa.
“Sebenarnya tidak masalah jika kamu seranjang denganku. Aku tidak keberatan, dan itupun kalau kamu juga tidak keberatan,” ujar Cheryl menjelaskan.
Meski pernikahan mereka berlandaskan sebuah kesepakatan, tapi Cheryl juga tidak mau dianggap kejam karena tidak memedulikan perasaan Orion.
Orion tidak membalas ucapan Cheryl, memilih membongkar kopernya dan memasukkan pakaiannya ke lemari.
“Boleh aku tambah meja untuk belajar?” tanya Orion sambil menoleh Cheryl.
Cheryl mengangguk-angguk mengizinkan, memaklumi karena Orion masih seorang pelajar.
**
“Ngapain kamu kerja part time? Apa nyokap sama bokap sudah ga mau kasih kamu uang jajan?”
Teman-teman Orion sangat terkejut mendengar pemuda itu ingin mencari pekerjaan. Mereka tahu siapa Orion, anak pemilik salah satu perusahaan perbankan terbesar di negara itu.
“Bukan ga kasih uang jajan, aku hanya ingin mencoba mandiri. Ya, kebutuhan kuliah semua yang nanggung mereka, aku hanya ingin mandiri dengan cara kerja sampingan,” ucap Orion memberitahukan alasannya, dia tidak mungkin memberitahukan kalau bekerja untuk memberi nafkah ke istrinya yang baru saja dinikahi kemarin.
Teman-teman Orion sedikit tidak percaya jika pemuda itu ingin kerja part time, bagaimana seorang Orion yang biasa terlihat memiliki segalanya, kini malah ingin bekerja.
“Bukankah sepupumu punya kafe, kenapa kamu tidak meminta izin ikut bekerja di sana?” tanya teman Orion ketika ingat jika pemuda itu memiliki saudara yang memiliki kafe terkenal di kota itu.
“Tidak bisa, nanti malah akan terjadi perseteruan antara Papi dan Bibi. Nanti Bibi mengira Papi tidak mau membiayai ‘ku,” tolak Orion. Bibinya sudah tahu kalau dia menikah, takut kalau berpikir ayahnya terlalu keras dan masih marah karena Orion menghamili anak orang.
Teman-teman Orion pun berpikir, hingga salah satu dari mereka teringat akan sesuatu.
“Kemarin saat nongkrong di kafe dekat kampus, aku lihat di sana ada lowongan pekerjaan. Coba aja ke sana, siapa tahu masih ada,” kata teman Orion.
“Oke, nanti aku coba cek. Thanks, ya.”
__ADS_1
**
“Kamu bisa mulai bekerja besok sore sampai malam, jam kerja dari pukul empat sampai jam sepuluh malam,” kata manager kafe saat setuju jika Orion bekerja di sana.
Manager itu memiliki banyak pertimbangan menerima Orion bekerja, selain karena Orion yang terlihat memiliki tanggung jawab besar, pemuda itu juga tampan dan bisa menarik banyak pengunjung remaja.
“Baik, terima kasih,” ucap Orion sopan.
“Besok akan aku siapkan seragam untukmu,” ujar manager itu lagi.
Orion mengulas senyum dan kembali mengucapkan terima kasih, sebelum kemudian pamit meninggalkan kafe.
Saat dalam perjalanan pulang, Orion mampir ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan dapur dan kamar mandi. Dia melihat jika dapur dan lemari pendingin kosong.
Orion memilih sayur dan buah juga beberapa daging, hingga saat melintas di rak display susu, dia teringat dengan Cheryl. Orion pun mengeluarkan ponsel, lantas menghubungi istrinya itu.
“Halo.” Suara Cheryl terdengar dari seberang panggilan.
“Aku sedang berada di minimarket dan belanja beberapa kebutuhan rumah. Apa kamu mau nitip sesuatu?” tanya Orion menunjukkan perhatiannya ke Cheryl.
“Hanya kebetulan lewat, jadi sekalian saja. Aku juga tahu kalau kamu pasti sibuk, jadi tidak masalah jika aku yang belanja,” ujar Orion menanggapi ucapan Cheryl.
Terdengar hening sesaat, hingga kemudian Cheryl kembali bicara.
“Aku akan kirimkan daftar yang aku butuhkan, kirim nomor rekeningmu, aku akan mengirimkan uang untuk belanja,” ucap Cheryl pada akhirnya.
Orion hanya tersenyum mendengar ucapan Cheryl, lantas menunggu daftar barang yang ingin dibeli istrinya itu. Orion tidak mengirimkan nomor rekeningnya karena ingin bertanggung jawab dengan rumah tangga yang dijalaninya sekarang.
[Apa kamu tidak ingin beli susu hamil?]
Orion mengirimkan pesan dan bertanya apakah Cheryl tidak ingin membeli susu khusus ibu hamil karena di daftar yang dikirimkan, tidak ada susu hamil.
Di ruang kerjanya, Cheryl menatap pesan yang dikirimkan Orion. Kehamilannya benar-benar tidak pernah diharapkan, haruskan Cheryl memperhatikan kondisi kehamilannya.
[Tidak usah, aku mual saat minum susu.]
Cheryl mengetik pesan dan mengirimkan ke Orion. Lantas kembali mengetik dan mengirim pesan lagi.
__ADS_1
[Jangan lupa nomor rekeningmu.]
Di minimarket, Orion sudah mengambil beberapa barang yang diinginkan Cheryl, hingga membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh wanita itu.
Orion tidak membalas pesan Cheryl, lantas memilih memasukkan ponsel ke sakunya.
Meski Cheryl mengirim pesan jika mual kalau minum susu, tapi Orion tetap membeli karena merasa susu hamil adalah sumber nutrisi kehamilan yang bagus di usia kandungan yang masih kecil.
**
Orion pulang menggunakan taksi dengan banyak barang belanjaan di tangan kanan dan kiri. Dia meletakkan belanjaan itu di atas meja makan, lantas mengeluarkan satu persatu barang dari kantong plastik.
[Nanti malam mau makan apa? Aku akan memasak untukmu.]
Orion kembali mengirimkan pesan ke Cheryl, berharap Cheryl menginginkan sesuatu dan dia siap membuatkan.
[Tidak perlu memasak, nanti pesan makanan di luar saja.] – Cheryl.
Orion membaca pesan dari Cheryl, hingga kemudian mengetik pesan sebagai balasan ke Cheryl.
[Aku ingin memasak, aku harap kamu mau mencicipi masakanku. Jadi sebutkan, kamu mau makan apa?]
Di ruang kerjanya, Cheryl menatap pesan dari Orion, merasa jika pemuda itu memang tidak bisa dibantah.
[Terserah mau masak apa, akan aku makan apa pun yang tersaji.]
Di apartemen, Orion tersenyum manis membaca pesan dari Cheryl, kemudian bergegas menyiapkan bahan yang akan dimasaknya.
Orion sering membantu Annetha memasak ketika berada di rumah, sehingga pemuda itu bisa membuat beberapa menu makanan.
**
“Siapa yang berbalas pesan denganmu?” tanya teman Cheryl yang saat itu berkunjung ke kantor wanita itu. Teman Cheryl terus memperhatikan Cheryl yang menerima dan mengirimkan pesan, bahkan sesekali terlihat Cheryl seperti ingin tersenyum tapi ditahan.
“Suamiku,” jawab Cheryl kemudian meletakkan ponsel ke meja.
“Tunggu! Suami?” Teman Cheryl syok karena tidak tahu jika Cheryl sudah menikah.
__ADS_1