
Cheryl membuka mata saat sinar matahari belum sepenuhnya menyapa. Dia mengulas senyum, entah kenapa pagi ini merasa begitu bahagia saat pertama kali bangun dari lelapnya semalam.
Dia pun menoleh ke sisi ranjang, melihat Orion yang masih tidur dengan pulas. Suaminya itu tidur dengan posisi miring memunggungi dirinya, bahkan sedikit meringkuk karena tidak kebagian selimut.
Cheryl pun turun dengan hati-hati. Dia lantas berjalan memutar ranjang, hingga kini berada di sisi Orion menghadap. Cheryl sedikit memiringkan kepala, menatap wajah Orion yang begitu tenang dan damai dalam lelap, sampai Cheryl tidak menyadari jika hatinya mengagumi ketampanan dan betapa manisnya pemuda itu.
“Manis,” gumam Cheryl dengan seulas senyum di wajah.
Dia mengingat ucapan Orion semalam, ucapan pemuda yang masih sangat kecil baginya, tapi bisa berpikir begitu dewasa.
Melihat Orion yang sedikit kedinginan, membuat Cheryl buru-buru menarik selimut dan menutupi tubuh pemuda itu sampai sebatas perut.
Sekali lagi Cheryl menatap wajah pemuda itu, sebelum kemudian memilih keluar dari kamar.
Setelah beberapa saat Cheryl meninggalkan kamar, Orion menggerakkan kelopak mata, semalam tidur sangat larut karena menunggu Cheryl benar-benar terlelap sebelum ikut tidur di ranjang. Kini Orion pun harus bangun kesiangan karena baru tidur sekitar pukul satu malam.
Pemuda itu membalikkan badan, hendak melihat apakah Cheryl sudah bangun, tapi ternyata istrinya itu sudah tidak ada di atas ranjang, membuat Orion langsung bangun dan melihat selimut menutup tubuhnya hingga kaki.
__ADS_1
“Ke mana dia?”
Orion menatap ke kamar mandi, tapi pintunya terbuka, menandakan jika Cheryl pasti tidak ada di kamar mandi. Dia pun menyibakkan selimut yang menutup kaki, kemudian turun dari ranjang untuk mencari Cheryl.
Cheryl sendiri ternyata berada di dapur. Sudah lama dia tidak berhadapan dengan kompor meski hanya sekadar membuat susu karena semua kebutuhannya disediakan Orion. Pagi ini dia ingin membuat sarapan sederhana dan tidak ingin mengganggu Orion tidur.
“Kamu lapar? Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Orion saat melihat Cheryl berada di dapur.
Cheryl sangat terkejut mendengar suara Orion, hingga hampir menjatuhkan kotak susu yang dipegangnya. Dia pun menoleh dan melihat Orion yang juga terkejut karena kotak susu yang dipegang hampir jatuh.
“Aku tidak ingin mengganggu tidurmu,” kata Cheryl terlihat kikuk. Dia bahkan menyematkan helaian rambutnya berulang kali ke belakang telinga.
“Kamu buat sarapan?” tanya Orion menatap sandwich di piring, kemudian memandang Cheryl yang berdiri berhadapan dengannya.
“Ya,” jawab Cheryl sambil menoleh ke sandwich buatannya. “Tapi kalau kamu tidak suka, kamu bisa buat sarapan lain,” kata Cheryl kemudian. Dia tidak pandai memasak, jadi membuat sarapan pun alakadarnya.
Orion tersenyum, kemudian berkata, “Aku suka.”
__ADS_1
Cheryl mengangguk-angguk sambil mengulum bibir, entah kenapa dia salah tingkah dan merasa malu.
“Kamu mau minum susu cair?” tanya Orion sambil menatap kotak susu yang dipegang Cheryl.
“Ya, sekalian menyajikan untukmu,” jawab Cheryl menatap kotak susu yang dipegangnya.
Orion mengambil kotak susu itu dari tangan Cheryl, membuat wanita itu terkejut.
“Kamu seharusnya minum susu khusus ibu hamil, karena kandungan gizinya lebih banyak daripada susu biasa,” ucap Orion.
Cheryl mengangguk-angguk, kemudian berkata, “Baiklah, aku akan membuatnya.”
“Duduklah, aku yang akan membuatnya.” Orion langsung membuka lemari penyimpanan tempat dia menyimpan susu khusus Cheryl.
Cheryl pun hendak membuka lemari itu, tapi urung karena Orion sudah membukanya terlebih dahulu. Dia menatap pemuda itu, kenapa sekarang Cheryl tidak pernah bosan memandang wajah manis suaminya itu.
Orion menuangkan tiga sendok susu buku ke gelas, kemudian menuangkan air panas untuk melarutkan sebelum akhirnya mengaduknya. Dia menyadari jika Cheryl menatapnya, hingga Orion pun menoleh secara tiba-tiba, membuat Cheryl salah tingkah dan langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.
__ADS_1
“Kamu terus memandangku, apa kamu ingin anak kita lebih mirip denganku?”