
Joya dan Kenzo menatap Orion yang berdiri di depan mereka sambil mengenakan celemek.
“Mi, Pi.” Orion langsung menyapa ibu dan ayah angkat istrinya itu. “Masuk Mi, Pi.” Orion membuka lebar pintu.
Joya tersenyum menanggapi sapaan Orion, lantas dia dan sang suami pun masuk sambil menenteng kantong plastik di tangan.
“Apa kami mengganggu?” tanya Joya sambil berjalan masuk.
“Tidak,” jawab Orion yang sedang menutup pintu.
Kenzo duduk di sofa, sedangkan Joya memilih langsung pergi ke dapur. Orion juga menyusul Joya ke dapur.
“Di mana Cheryl?” tanya Joya sambil meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja.
“Masih tidur,” jawab Orion.
Joya hendak membuka kantong plastik yang dibawanya, tapi terhenti ketika mendengar jawaban Orion. Joya memperhatikan pemuda itu, Orion sangat manis juga pengertian karena sudah bangun di pagi hari, meski sang istri masih bergumul dengan selimut.
“Mimi dan Papi mau minum apa? Biar aku buatkan,” tawar Orion.
Orion menyalakan kompor untuk memasak air.
“Kopi saja,” jawab Joya.
“Apa kamu selalu bangun pagi sebelum Cheryl?” tanya Joya sambil melanjutkan mengeluarkan kotak makanan yang dibawanya.
Orion menoleh dengan seulas senyum, kemudian mengangguk.
“Cheryl sering tidur malam karena lembur dengan pekerjaannya, jadi aku tidak tega kalau membangunkannya terlalu pagi,” ujar Orion menjelaskan.
Joya terlihat senang melihat Orion yang begitu perhatian kepada Cheryl.
“Tadi Mimi dan Papi mau cari sarapan, tapi ingat kalian. Jadi datang membawa sarapan dan berniat mengajak kalian sarapan sekalian,” ucap Joya setelah mengeluarkan semua makanan dari kantong plastik.
Orion hanya mengulas senyum dan menganggukkan kepala. Pemuda itu segera membuatkan kopi untuk Joya dan Kenzo, kemudian menyajikannya lantas pamit untuk membangunkan Cheryl.
“Cher.” Orion duduk di tepian ranjang, mencoba membangunkan Cheryl dengan cara memanggil.
Cheryl masih belum bangun, sehingga Orion pun menyentuh lengan Cheryl dan kembali membangunkan istrinya itu.
__ADS_1
“Cher, Mimi sama Papi di sini,” ucap Orion saat membangunkan.
Cheryl menggerakkan tubuh, seolah mendengar tapi belum bisa membuka mata sepenuhnya.
“Cher, bangun ya. Kasihan Mimi dan Papi kalau kamu tidak bangun menemui mereka,” ucap Orion lagi dengan lembut saat membangunkan Cheryl. Dia tidak ingin bangun karena terkejut.
Cheryl samar-samar mendengar Orion menyebut kata ‘Mimi’, membuatnya berusaha bangun dan membuka kelopak mata.
“Ada apa?” tanya Cheryl dengan suara berat, kelopak matanya masih belum bisa terbuka sempurna.
“Mimi ada di sana, mau sarapan bareng kita,” jawab Orion.
Cheryl langsung membuka mata, hingga menatap Orion yang tersenyum melihatnya.
“Mimi di sini?” tanya Cheryl yang tiba-tiba panik.
Orion mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Cheryl. Cheryl malah terlihat panik karena masih tidur di saat sang mimi datang berkunjung ke sana.
Cheryl hendak bangun dengan cepat, tapi langsung dicegah Orion.
“Kalau bangun jangan buru-buru, jangan langsung terlonjak,” ujar Orion ketika menahan Cheryl.
Cheryl keluar dari kamar bersama Orion, tapi penampilannya masih acak-acakan karena tidak sempat menyisir rambut dan hanya membasuh muka.
“Mimi!” Cheryl mendekat manja, lantas memeluk Joya yang duduk, kemudian berpindah ke Kenzo.
“Apa kamu lembur setiap malam, lihat wajahmu sampai pucat?” tanya Joya sambil mengusap lembut wajah putri angkatnya itu.
“Ga lembur, Mi. ‘Kan belum pakai make up, jadi ya pucet,” kilah Cheryl.
Cheryl memeluk dan menyapa ayah angkatnya, kemudian mereka duduk bersama.
“Apa kalian sengaja mau ke sini? Kenapa tidak memberi kabar dulu, jadi aku bisa bangun lebih awal,” kata Cheryl.
Joya mengulas senyum dan menoleh sang suami, sebelum kemudian kembali memandang ke Cheryl.
“Apa kalian sudah lapar? Bagaimana kalau sarapan dulu?” Joya menawari karena dia sendiri juga sudah lapar.
Mereka berempat pun sarapan bersama. Joya membelikan bubur ayam untuk Cheryl karena tahu kalau anak angkatnya itu suka bubur ayam di langganan biasanya.
__ADS_1
“Ah … Mimi tahu aja aku pengen makan ini.” Cheryl terlihat senang karena melihat bubur ayam favoritnya tersaji di meja.
“Kamu suka bubur ayam?” tanya Orion yang tidak tahu soal itu.
Cheryl menoleh ke suaminya, lantas mengangguk manja.
“Apa kamu mau buatkan? Aku akan senang memakannya setiap hari kalau kamu yang masak,” ucap Cheryl dengan nada manja.
Joya dan Kenzo sangat terkejut melihat Cheryl yang bersikap manja ke Orion, menandakan jika keduanya kini sangat dekat. Cheryl tidak akan bersikap manja jika dengan orang yang tidak dekat dengannya, sikap Cheryl saat ini menunjukkan jika menerima Orion apa adanya.
“Kalau kamu mau, nanti aku buatkan setiap pagi,” balas Orion menunjukkan perhatiannya.
Joya mengulum senyum, pasangan pengantin baru itu mengingatkannya dengan hubungannya dan sang suami saat masih muda dulu. Saling memberi perhatian dan melengkapi.
“Rambutmu masuk di bubur, biar aku ikatkan.” Orion berdiri dari duduk, mengambil ikat rambut yang selalu tersedia di laci meja pantry.
Orion pun mengikat rambut Cheryl, sedangkan sang istri hanya diam dan membiarkan Orion mengikat rambutnya.
Joya dan Kenzo dibuat melongo dengan sikap Orion juga Cheryl, keduanya benar-benar mengumbar kemesraan sehingga membuat dua orang tua itu bisa-bisa terkena serangan diabetes.
“Kalian sangat mesra, jangan-jangan kamu kurang tidur karena lembur hal lain,” goda Joya.
Cheryl langsung tersedak mendengar candaan sang mimi, kenapa Joya harus mengatakan hal itu di depan Orion, membuat wajah Cheryl langsung merona.
“Mimi! Aku benar-benar lembur karena pekerjaan. Ish … Mimi jangan berpikir aneh-aneh!” sanggah Cheryl.
Joya menahan tawa, Kenzo hanya bisa geleng kepala karena kelakuan iseng sang istri. Orion sendiri memalingkan wajah karena malu, meski paham tapi tidak mungkin ikut bicara.
“Tapi Mimi senang melihat kalian akur seperti ini. Calon bayi kalian pasti sangat bahagia di dalam rahim, mengetahui kedua orangtuanya penuh kasih sayang,” ucap Joya begitu lega karena rumah tangga Cheryl dan Orion baik-baik saja.
Joya awalnya berpikir kalau hubungan keduanya kurang baik, hingga sengaja datang ke sana untuk melihat langsung bagaimana keseharian mereka di pagi hari. Dugaannya dan Lusy salah, Cheryl terlihat begitu bahagia. Mungkin bisa dibilang kalau aura kebahagiaan benar-benar terpancar di wajah Cheryl, tidak seperti beberapa hari yang lalu, di mana Cheryl terlihat buruk sampai pergi ke psikiater.
“Dia pasti bahagia, apalagi calon ayahnya selalu perhatian kepadanya,” balas Cheryl memuji Orion, menunjukkan kalau suaminya adalah yang terbaik.
Orion menoleh Cheryl, hingga menatap sang istri penuh kasih sayang, begitu senang karena dipuji di hadapan Joya dan Kenzo.
Joya dan Kenzo melihat tatapan cinta di antara keduanya. Hingga Joya menggenggam telapak tangan suaminya, kekhawatirannya akan sang anak angkat sirna, kini tinggal kecemasan terhadap putra kandung yang begitu badung dan susah diatur yang masih berputar di kepala.
“Andai Langit seperti Orion yang kalem dan manis, pasti pikiranku akan terasa tenang,” gumam wanita berumur lima puluh tahunan itu.
__ADS_1