
Orion datang ke perusahaan membawa dua paper bag di tangan. Selain membelikan salad, dia juga membeli makan siang untuk dirinya dan Cheryl.
Sepanjang lobi hingga depan lift, karyawan yang melihat tampak terkesima dan terus memandang ke Orion yang sedang berdiri menunggu lift terbuka.
“Ya ampun, adiknya siapa itu?”
“Tampan sekali.”
Para karyawan wanita terlihat terus memandang ke arah Orion yang menunggu lft.
Zayn yang saat itu baru saja rapat dari luar kantor, keheranan saat melihat karyawannya berdiri di lobi sambil menatap ke lift. Belum lagi para model juga ikutan di sana dan tertuju ke satu titik, yang membuat Zayn penasaran.
“Ehem ….” Zayn berdeham, membuat karyawan dan model di perusahaan itu langsung menoleh.
“Pak Zayn.” Karyawan itu menyapa dan tersenyum canggung ke Zayn.
Zayn menatap satu persatu karyawan dan modelnya, hingga tatapannya tertuju ke Orion yang menunggu lift.
“Pantes,” gumam Zayn, kemudian mengabaikan para wanita itu.
Zayn pun berjalan menghampiri Orion, lantas menyapa menantu yang tidak sadar jika dirinya menghampiri.
__ADS_1
“Orion.”
Orion menoleh saat mendengar suara Zayn, hingga langsung membungkuk untuk memberikan hormat ke mertuanya itu.
“Da … Pak.” Orion masih canggung ingin memanggil Zayn dengan sebutan daddy, hingga akhirnya memanggil mertuanya itu dengan sebutan ‘Pak’.
“Daddy saja, Orion. Kalau memanggilku dengan sebutan ‘pak’, maka kamu akan terlihat seperti karyawan sedang memanggilku, padahal menantuku,” ucap Zayn sambil menepuk punggung Orion. Dia sengaja menyebut Orion menantu, agar para wanita di sana tahu kalau pemuda itu sudah ada pemiliknya.
Benar saja, semua orang terkejut mendengar ucapan Zayn.
“Menantu? Tunggu! Apa dia suaminya Bu Cheryl?”
“Kapan Bu Cheryl menikah?” Semua karyawan pun keheranan dan penasaran.
“Baik, Dad.” Orion benar-benar masih merasa canggung dengan Zayn, sebab Lusy belum menerimanya.
“Kamu ingin bertemu dengan Cheryl?” tanya Zayn kemudian.
Orion belum menjawab pertanyaan Zayn, tapi pintu lift sudah terbuka, sehingga keduanya pun memilih masuk ke lift terlebih dahulu dan berbincang sambil naik.
“Cheryl ingin makan salad, jadi aku membelikan untuknya. Pagi ini dia muntah dan sarapan yang masuk akhirnya keluar lagi, kemarin dia makan salad tidak mual, jadi aku berpikir untuk menuruti keinginannya,” jawab Orion.
__ADS_1
Zayn senang karena Orion sangat peduli dengan Cheryl, bahkan begitu perhatian. Namun, Zayn pun berpikir jika mungkin itu adalah salah satu tanggung jawab Orion karena sudah menghamili Cheryl.
“Ya sudah, terima kasih sudah menjaga Cheryl. Dia memang agak manja, tapi tidak merepotkan,” kata Zayn kemudian.
Orion mengangguk dengan seulas senyum, hingga pintu lift terbuka saat sampai di lantai tempat ruangan Cheryl berada.
Orion pun pamit, lantas keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Cheryl berada.
Mely sudah duduk di meja kerjanya. Mengecek beberapa dokumen dari klien, sampai melihat sosok Orion yang sedang berjalan menuju mejanya. Mely terkesima dengan penampilan Orion, jelas jauh berbeda dari saat melihat pemuda itu di kafe. Orion saat ini sangat tampan dan manis, membuat jantung para wanita berdegup dengan cepat.
“Maaf, saya ingin bertemu Cheryl,” kata Orion ke Mely.
“Suaminya Bu Cheryl, ya? Bu Cheryl di dalam,” balas Mely.
Orion terkejut mendengar sekretaris istrinya menyebutnya suami Cheryl, itu artinya Cheryl sudah memberitahu ke orang lain tentang status mereka.
“Saya izin masuk,” kata Orion.
Mely mengangguk mengizinkan, dia sedang terpesona dengan ketampanan pemuda itu, sampai lupa jika Cheryl sedang ada tamu.
Orion berjalan ke arah pintu ruangan Cheryl, lantas mengangkat tangan dan hendak mengetuk pintu. Namun, Orion urung mengetuk pintu saat mendengar Cheryl sedang bicara dengan seseorang.
__ADS_1
Mely yang baru saja akan mencegah Orion, urung memanggil karena melihat pemuda itu berhenti di depan pintu, bisa menebak jika Orion sudah tahu kalau ada orang lain di ruangan Cheryl.