
“Kamu seharusnya tidak mengambil keputusan sepihak seperti itu, Mas!” Annetha langsung menentang keputusan sang suami, setelah keluarga Cheryl pergi bersama dengan Orion dan Cheryl.
“Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan masa depan putra kita hampir hancur hanya untuk menyelamatkan wanita yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan dia?” Arlan masih kekeh dengan pendiriannya.
Annetha menghela napas kasar, kesal saat suaminya bersikap keras kepala.
“Jangan egois dan memandang sebelah mata, Mas. Kamu tidak ingat bagaimana dulu keegoisanmu, hampir membuat kita berpisah dan mungkin kamu tidak akan pernah memiliki Bintang?” Annetha murka karena keras kepalanya sang suami, hingga bicara dengan nada suara tinggi.
Arlan terperangah mendengar Annetha membahas masa lalu itu.
“Itu beda, Tha.”
“Sama! Mas sama-sama keras kepala, melihat satu sudut pandang, tanpa mau mendengarkan penjelasan orang lain. Mas tidak mau mendengarkan penjelasanku saat itu, dan sekarang Mas juga tidak mendengarkan penjelasan Orion dengan baik, serta tidak memberinya kesempatan untuk memilih, apa yang diinginkannya!” sembur Annetha yang terlampau gemas dengan sifat sang suami.
__ADS_1
Arlan terdiam mendengar ucapan Annetha, memang benar dia tidak memberi kesempatan putranya memilih.
“Mas, Orion sudah dewasa. Dia mencoba bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Apakah Mas tidak mau memberinya kesempatan untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya? Aku melihat Orion mencintai dan menyayangi Cheryl, apa Mas tega memisahkan mereka? Meskipun aku tahu kita semua kecewa, tapi bukan berarti langsung meminta mereka bercerai,” ucap Annetha mencoba meyakinkan suaminya untuk memberi pilihan ke Orion.
Arlan terlihat berpikir, hingga kemudian memandang sang istri.
“Aku hanya memikirkan masa depannya. Masalah ini benar-benar membuat nama baiknya buruk.” Arlan terduduk di tepian ranjang sambil mengguyar kasar rambut ke belakang.
Annetha pun ikut duduk, lantas memegang pundak suaminya.
“Apa?” Arlan sangat terkejut mendengar hal itu.
**
__ADS_1
Di rumah Lusy. Wanita itu benar-benar bingung dan tidak habis pikir dengan yang terjadi. Dia mengguyar kasar rambut berulang kali, seolah sedang mencoba meringankan beban pikiran di kepalanya.
“Bagaimana ini? Kenapa Cheryl melakukan itu? Kenapa dia mau menikah dan mengakui kalau Orion pelakunya, tapi padahal bukan?” Lusy kebingungan, mungkin karena rasa bersalah sebab dulu terus menjelekkan dan membenci pemuda itu.
“Tenang dulu, Lu. Kamu jangan seperti ini,” ucap Joya mencoba menenangkan.
Joya sendiri tidak pulang dan memilih pergi ke rumah Lusy, karena tahu kalau wanita itu pasti kebingungan karena masalah ini.
“Benar kata Joya, kita pikirkan masalah ini dengan tenang. Semua sudah terlanjur terjadi, kita pun tidak bisa jika mengambil keputusan sepihak, tanpa bertanya apa keinginan keduanya,” timpal Zayn mencoba bersikap bijak dalam menyikapi masalah putri tirinya.
“Tapi kalian dengar sendiri, orangtua Orion menginginkan mereka bercerai. Dia begitu tega ingin menjadikan putriku sebagai janda saat sedang hamil.” Lusy hanya takut jika Cheryl harus menghadapi semuanya sendirian tanpa suami, seperti dirinya dulu.
“Dia sama seperti kita, Lu. Dalam kondisi syok dan kecewa. Mungkin itu hanya keputusan gegabah yang diambilnya, karena itu kita pun jangan terpancing dengan keputusan itu. Memang lebih baik kita mendinginkan pikiran, lantas mencari jalan terbaik untuk masalah ini,” ujar Joya mencoba menenangkan.
__ADS_1
Lusy mengusap kasar wajah, hingga terdengar suara dengkusan kasar dari hidung.
“Aku tidak akan mengambil keputusan apa pun dan akan menyerahkan semua ke Cheryl.”