Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Kejujuran


__ADS_3

Cheryl meminta Lusy untuk keluar dulu. Saat membuka pintu untuk ibunya, dia melihat Orion yang berdiri di depan pintu.


Orion terkejut karena pintu terbuka dan kini saling berhadapan dengan Lusy juga Cheryl, hingga pemuda itu sedikit membungkuk untuk memberi salam ke mertuanya itu.


Lusy memicingkan mata, lantas memilih pergi dari sana dan melewati Orion tanpa menyapa menantunya itu.


Orion sendiri merasa canggung, sikap Lusy yang jelas-jelas tidak menyukainya, menjadi beban tersendiri untuknya.


“Kamu sudah datang, kenapa tidak mengetuk pintu?” tanya Cheryl setelah Lusy pergi. Ditatapnya Orion yang hanya diam memandangnya.


Orion tidak langsung menjawab pertanyaan Cheryl, memilih masuk ke ruangan istrinya itu dan meletakkan paper bag yang dibawa ke meja.


Cheryl sendiri menutup pintu, lantas berjalan menyusul Orion yang sudah berada di sofa.


“Aku mendengar kamu sedang bicara dengan seseorang, jadi aku pikir tidak baik menganggu, lalu menunggumu selesai,” ucap Orion menjawab pertanyaan Cheryl. Dia bicara sambil sibuk mengeluarkan kotak berisi salad dan juga makan siang.


Cheryl terkejut mendengar jawaban Orion dan menelan ludah susah payah. Jika Orion mendengar pembicaraan di dalam, berarti Orion mengetahui apa yang dibicarakan oleh Lusy dan Cheryl.


“Ka-kamu dengar semua?” tanya Cheryl tergagap. Ditatapnya Orion yang sedikit membungkuk karena menyajikan salad.


Orion berhenti membuka penutup kotak salad, lantas menoleh Cheryl yang berdiri di samping meja.


“Aku dengar semua,” jawab Orion lantas mengulas senyum manisnya.


Cheryl langsung mengulum bibir, kedua pipinya merah karena malu sebab Orion mendengar pembicaraannya dengan Lusy.


“Ayo duduk dan makanlah!” ajak Orion karena Cheryl hanya berdiri.


Cheryl terlihat kikuk dan salah tingkah, tapi tidak mungkin untuk menghindar. Akhirnya Cheryl pun duduk dan menerima kotak berisi salad yang disodorkan Orion.


“Terima kasih,” ucap Cheryl.


Orion membalas ucapan itu dengan sebuah senyuman, lantas dia pun mengambil kotak makan siangnya untuk menemani Cheryl makan salad.


Cheryl memasukkan suapan ke mulut, tapi sesekali melirik Orion yang sedang makan.


Kenapa dia harus datang saat ada Mommy, mau ditaruh mana mukaku kalau dia membahas atau bertanya tentang pertanyaan Mommy yang belum sempat aku jawab, gumam Cheryl dalam hati. Bahkan dia sampai mengunyah dan menelan buah susah payah karena salah tingkah.

__ADS_1


Orion mengunyah makanan yang masuk mulut, hingga kemudian memandang Cheryl yang salah tingkah.


“Cher.”


Orion baru memanggil nama istrinya, tapi wanita itu langsung tersedak karena terkejut.


Orion sangat terkejut melihat Cheryl tersedak. Dia langsung bangun dan mengambilkan air dari dispenser yang ada di ruangan itu, kemudian memberikannya ke Cheryl.


“Minumlah, kalau makan pelan-pelan,” kata Orion sambil memberikan gelas berisi air putih ke Cheryl.


Cheryl menerima gelas dari Orion, lantas menenggak isinya untuk meredakan rasa panas yang menjalar di tenggorokan. Orion sendiri memilih duduk di samping Cheryl, memperhatikan istrinya yang sedang minum.


Duduk sambil diperhatikan Orion, membuat jantung Cheryl berdegup semakin cepat. Minum tidak membuat tenggorokan Cheryl dingin, tapi semakin panas karena kini tersedak air akibat ditatap Orion.


Cheryl terbatuk-batuk, sampai air yang baru saja masuk mulut menyembur keluar.


Orion terkejut dan langsung mengambil tisu. Dia pun berniat mengusap permukaan bibir Cheryl dengan tisu.


“Kenapa kamu tersedak-sedak seperti ini?” Orion mengusap permukaan bibir Cheryl perlahan karena masih terbatuk.


Orion tidak menyadari kalau Cheryl memperhatikannya, dia sedang fokus membersihkan permukaan bibir sang istri dari air.


Hingga bola mata hitam Orion bergerak sampai akhirnya bertemu dengan tatapan bola mata biru Cheryl. Keduanya pun saling tatap sejenak dengan tangan Orion masih memegang tisu di depan permukaan bibir Cheryl.


“Terima kasih, aku sudah merasa lebih baik,” ucap Cheryl memecah kecanggungan karena menatap Orion.


Orion masih tidak mengalihkan pandangan dari Cheryl, hingga pemuda itu mengulas senyum manisnya.


“Kamu ingat pertemuan pertama kita?” tanya Orion tiba-tiba.


Cheryl terkejut dan kini kembali menatap Orion.


“Aku di mobil, kamu membonceng Kak Langit, kita bertemu di perempatan lampu merah,” ucap Orion lagi.


Cheryl mengangguk-angguk dengan senyum tipis di wajah. “Aku ingat.”


“Saat itu aku langsung mengagumimu, mungkin saat itu hanya rasa kagum karena melihatmu yang berbeda. Aku berkata ke kakakku kalau ingin mengenalmu lebih jauh, saat itu tahu apa yang kakakku katakan. Dia berkata ‘Jangan mengada-ada bocil!’ aku sadar jika saat itu masih benar-benar kecil karena duduk di bangku SMP. Namun, aku berpikir untuk cepat dewasa agar bisa mengejarmu.”

__ADS_1


Orion bercerita dan mengingat hari di mana melihat Cheryl pertama kali dan langsung terpesona dengan sosok Cheryl yang berbeda. Rambut coklatnya yang bergelombang, mata birunya yang bersinar indah, senyum ramah yang bisa membuat semua pria bertekuk lutut ke wanita itu.


Cheryl terlihat salah tingkah mendengar ucapan Orion, meski tahu kalau pemuda itu menyukainya sejak dulu, tapi tidak pernah terbesit pemikiran kalau Orion terpesona kepadanya sejak awal bertemu.


“Aku berpikir mendekatimu sebagai anak-anak, akan membuatmu cepat atau lambat menerimaku. Namun, aku kecewa saat tahu kalau kamu menganggap aku hanya anak kecil. Aku memang tidak pernah mengganggumu lagi setelah itu, tapi aku tidak pernah mengubur rasa untukmu. Hanya selalu berdoa agar kamu tidak menikah, sebelum aku dewasa, agar aku bisa menikahimu,” ujar Orion sambil menatap Cheryl.


Doa Orion tampaknya terkabul, terbukti dari Cheryl yang belum menikah di usianya yang sudah dua puluh delapan tahun, juga Cheryl yang tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Hingga akhirnya Orion benar-benar bisa menikahi Cheryl meski dengan sebuah tragedi.


Cheryl terperangah mendengar ucapan Orion, tidak menyangka pemuda itu sampai berharap seperti itu, meski akhirnya semua pengharapan itu terkabul.


Cheryl menatap Orion melihat sebuah ketulusan di mata pemuda itu.


“Ion, boleh aku tanya sesuatu. Tapi aku ingin kamu menjawabnya dengan jujur,” ucap Cheryl dengan tatapan tidak teralihkan dari Orion.


“Tanya saja, aku pasti akan jawab jika bisa,” balas Orion.


“Berjanjilah akan jujur, demi bayi yang ada di rahimku,” pinta Cheryl menatap serius ke Orion.


Orion sangat terkejut dengan permintaan Cheryl, kenapa wanita itu sampai membawa-bawa janin di rahim hanya untuk mendapatkan sebuah kejujuran darinya.


“Jangan bawa-bawa dia, Cher.”


“Maka berjanjilah,” pinta Cheryl lagi.


Orion akhirnya mengangguk dan terpaksa berjanji.


“Ion, bukan kamu yang menjebakku, ‘kan? Aku sangat yakin jika itu bukan kamu, aku ingat wajah pria itu, Ion. Itu bukan kamu.” Sekali lagi Cheryl meminta pengakuan Orion, kali ini yakin jika Orion tidak akan menolak.


Orion terdiam dan menelan ludah susah payah, tampaknya memang tidak bisa berbohong karena Cheryl memintanya jujur atas nama janin di rahim.


“Ya, aku tidak melakukannya karena memiliki banyak pertimbangan. Selain tidak bisa membiarkan kakakku menderita, aku juga memang ingin menikahimu,” ujar Orion jujur tapi tidak berani menatap Cheryl, takut wanita itu kecewa karena dirinya berbohong.


Cheryl begitu lega mendengar ucapan Orion, hingga kemudian menggenggam telapak tangan Orion.


Orion sangat terkejut melihat telapak tangannya digenggam Cheryl, lantas memberanikan memandang Cheryl dan melihat senyum manis istrinya.


“Terima kasih, Ion. Terima kasih karena kamu menerimaku.”

__ADS_1


__ADS_2