Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Perhatian


__ADS_3

“Kamu baru pulang, apa banyak kerjaan?”


Orion langsung menyambut Cheryl yang baru saja masuk apartemen. Cheryl sendiri belum terbiasa dengan perhatian dari orang selain orangtuanya.


“Ya, sedikit terlambat karena tadi ada rapat dadakan,” ucap Cheryl sambil melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumahan.


Orion berusaha memberikan perhatian khusus untuk Cheryl, selain karena Cheryl sedang hamil juga ingat akan pesan dari Joya.


“Apa kamu sudah lapar? Makan malamnya sudah siap,” kata Orion.


Cheryl menoleh ke meja makan, aroma masakan yang menguar sudah menusuk hidungnya.


“Aku akan mandi sebentar,” ucap Cheryl dengan wajah datar.


Orion mengangguk-angguk, membiarkan Cheryl mandi sebelum makan malam.


Orion menunggu di meja makan, tidak berani masuk kamar sebelum Cheryl selesai mandi. Hampir satu jam Orion menunggu, tapi Cheryl belum juga keluar.


Pemuda itu pun akhirnya memilih menyusul ke kamar, dengan sopan dia mengetuk sebelum masuk, padahal itu juga jadi kamarnya.


“Cher.” Orion memanggil nama Cheryl, tapi tidak ada jawaban.


Orion pun memilih langsung masuk, tapi tidak mendapati Cheryl di kamar. Hingga tatapan tertuju ke pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, Orion pun memberanikan diri berjalan mendekat, hingga mendengar suara Cheryl yang sedang muntah.


Merasa cemas dengan kondisi Cheryl, Orion langsung masuk dan melihat istrinya itu sedang berjongkok di depan kloset. Cheryl memegangi rambutnya yang tergerai, satu tangan memegangi perut karena terus merasa mual.


“Kamu baik-baik saja?” Orion langsung mendekat, meraih rambut Cheryl dan memegang di belakang tubuh agar rambut tidak masuk ke kloset.


Cheryl tidak menanggapi ucapan Orion, perutnya masih terasa diaduk-aduk hingga membuatnya mual dan muntah.


Orion sendiri tidak merasa jijik melihat Cheryl muntah, sudah terbiasa melihat sang kakak muntah, sehingga membuatnya biasa saja.


Cheryl masih membungkuk, perutnya terasa sakit karena tekanan akibat mual. Hingga akhirnya mualnya mulai berkurang, dia menekan tombol untuk mengalirkan air.


“Sudah mendingan?” tanya Orion yang sangat cemas sambil melepas rambut Cheryl karena wanita itu hendak berdiri.


Cheryl mengangguk-angguk lemah, menutup kloset lantas duduk di atasnya. Napasnya sedikit tersengal, satu tangan masih memegangi perut yang terasa kaku. Dia lantas menatap Orion yang berdiri di hadapannya.


“Seharusnya kamu tidak perlu melihatnya, apa kamu tidak jijik?” tanya Cheryl malah malu karena Orion harus melihat muntahannya.


“Untuk apa jijik, jika aku muntah, apa aku harus jijik?” Orion mengambil handuk kecil yang tergantung di kamar mandi, memberikan ke Cheryl untuk mengusap wajah.


Cheryl menatap Orion dengan banyak pertanyaan di kepala, bahkan ada rasa penasaran yang kini merayap di dada.

__ADS_1


“Bersihkan wajahmu dulu,” kata Orion sambil mengulurkan handuk kecil.


Cheryl menerima handuk dari Orion, lantas mengusap permukaan bibirnya yang basah.


“Kamu bisa bangun?” tanya Orion cemas jika Cheryl pusing atau yang lainnya.


“Bisa,” jawab Cheryl dengan suara lemah.


Orion mengangguk tapi masih di sana menunggu Cheryl berdiri.


Cheryl pun berusaha bangun dengan berpegangan pada tembok, tapi saat kedua kaki hendak menopang tubuh, tiba-tiba kakinya kembali terasa lemas, mungkin karena tadi lama berjongkok.


“Awas!” Orion langsung menangkap tubuh Cheryl karena limbung dan hampir jatuh.


Cheryl sangat terkejut, satu tangan hendak menggapai tembok, tapi tangan satunya sudah diraih dan dipegang oleh Orion. Cheryl menoleh dan melihat Orion yang ada di belakangnya, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.


Kikuk, itulah yang dirasakan Cheryl sekarang, meski kedua kakinya terasa lemas, tapi dia tetap berusaha berdiri dengan benar.


“Apa kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Orion memastikan, jangan sampai Cheryl jatuh dan terjadi sesuatu dengan kandungannya.


“Aku benar-benar tidak apa-apa. Mungkin karena tadi terlalu lama jongkok, jadi kakiku agak kram,” jawab Cheryl menjelaskan.


Orion ingin membantu Cheryl berjalan, tapi urung karena Cheryl tampaknya tidak ingin dibantu. Cheryl berjalan perlahan keluar dari kamar, sedangkan Orion memilih berjalan di belakangnya, berjaga-jaga jika Cheryl kembali limbung.


“Aku tidak masak daging atau ayam karena berlemak, aku baca di artikel jika wanita hamil muda akan mudah mual kalau makan makanan berlemak, jadi aku memilih banyak menyiapkan menu sayur,” ujar Orion menjelaskan, meski tidak yakin apakah Cheryl akan senang.


“Terima kasih,” ucap Cheryl dengan wajah datar.


Cheryl tipe wanita yang tidak pilih-pilih makanan, membuatnya tidak memprotes apa yang disajikan oleh Orion.


“Kamu mau makan yang mana dulu?” tanya Orion yang masih berdiri untuk melayani Cheryl.


“Aku bisa ambil sendiri,” ucap Cheryl hendak mengambil sendok untuk mengambil lauk, tapi dicegah Orion.


“Biar aku ambilkan.” Cegah Orion.


Cheryl lagi-lagi dibuat bingung dengan perhatian Orion, kedua bola matanya kini saling tatap dengan pemuda itu, sebelum kemudian dia mengalihkan tatapan ke arah lain.


“Baiklah, ambilkan apa pun, aku tidak akan menolak,” ucap Cheryl memecah rasa canggung.


Orion mengangguk paham, lantas mengambilkan dua menu sayur berbeda dan menyajikan ke piring Cheryl. Orion juga mengambilkan ikan tawar panggang, sengaja tidak menggorengnya agar tidak berminyak.


Cheryl mengambil sendok dan mulai mencicipi masakan Orion, sedangkan pemuda itu sudah duduk dan menunggu komentar dari Cheryl tentang masakannya.

__ADS_1


“Bagaimana? Kamu menyukainya?” tanya Orion ketika melihat Cheryl yang sudah memasukkan olahan sayur ke mulut.


Cheryl tidak langsung menjawab pertanyaan Orion, memilih mengunyah makanan yang masuk ke mulut dan menilai citarasa masakan Orion.


Orion sabar menanti, dia tidak ingin membuat Cheryl kecewa sehingga memasak penuh ketelitian.


“Enak.”


Satu kata yang membuat Orion terlihat begitu senang.


“Aku senang kalau kamu menyukainya,” ucap Orion kemudian membuka piringnya, lantas mengambil nasi dan lauk.


Cheryl masih mengunyah, tatapannya tertuju ke Orion yang sedang sibuk mengambil lauk. Satu kata pujian, tidak disangka bisa membuat Orion begitu senang.


“Aku baca di salah satu situs web jika kehamilan trimester pertama butuh perhatian khusus pada masalah gizi. Apa aku boleh ambil andil dalam memperhatikan asupan gizimu?” tanya Orion yang kemudian menatap Cheryl.


Cheryl terkejut mendengar pertanyaan Orion hingga hampir tersedak, ditatapnya Orion yang sangat perhatian kepadanya, pemuda itu benar-benar peduli terhadapnya.


“Tentu,” jawab Cheryl karena menganggap jika Orion benar-benar ayah dari janin yang dikandungnya.


Orion tersenyum hingga menunjukkan lesung pipinya, tampak begitu manis dan bisa memikat hati wanita yang melihatnya. Namun, sayangnya Cheryl belum bisa membiarkan hatinya tertarik kepada siapapun, termasuk pria yang kini jadi suaminya.


**


“Jangan lupa vitaminmu.” Orion mengambilkan vitamin yang diberikan dokter untuk Cheryl.


Cheryl mengecek beberapa data saat Orion datang membawa vitamin dan segelas air putih. Ditatapnya pemuda yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Cheryl sebenarnya malas minum vitamin, karena dia benci minum obat.


“Letakkan saja, nanti aku minum,” kata Cheryl karena ingin menghindari vitamin yang baginya obat.


“Harus minum sekarang, aku takut kamu lupa,” ujar Orion tetap menyodorkan vitamin dan gelas.


Orion sendiri memaksa karena sebelumnya mendapat pesan dari Joya. Joya berkata jika Cheryl tidak suka minum obat, membuat wanita itu berpesan agar Orion memperhatikan vitamin yang seharusnya dikonsumsi Cheryl demi kandungannya.


Cheryl benar-benar ingin menolak, tapi karena Orion memaksa dan tidak mau pergi, membuatnya terpaksa menerima vitamin itu. Dia memasukkan vitamin ke mulut, lantas meminum air untuk mendorongnya masuk. Terlihat jelas raut wajah Cheryl yang tidak suka akan hal itu.


Orion mengambil gelas dari tangan Cheryl, senang karena wanita itu mau meminum vitaminnya.


“Pintar.” Puji Orion sebelum kemudian meninggalkan Cheryl lagi.


Cheryl melongo mendengar pujian dari Orion, merasa seperti anak TK yang baru saja melakukan hal yang diminta orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2