
Sebuah mobil tampak melaju dengan kecepatan tinggi karena penumpang di dalamnya hendak buru-buru menghadiri sebuah rapat.
“Kamu seharusnya mengingatkanku sejak awal, sehingga kita tidak terburu-buru seperti ini. Omel pria yang duduk di belakang.
“Saya takut mengganggu kesenangan Anda. Bukankah Anda selalu berkata agar saya tidak mengganggu jika Anda sedang ….” Pria yang kini sedang menyetir, menjeda ucapannya dan memilih mengulum bibirnya dalam-dalam.
Pria yang duduk di belakang pun mencebik kesal, padahal ingin bertemu klien penting, tapi karena keasyikan bercinta dengan wanita bayaran, membuatnya lupa kalau ada pertemuan.
Saat sang sopir yang juga merangkap sebagai asisten meminta maaf atas kesalahannya, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan teriakan bosnya.
“Injak remnya, itu lampu merah!” teriak pria yang duduk di belakang.
Sang asisten pun terkejut, kemudian menginjak pedal rem dalam-dalam, saat sampai di persimpangan di mana lampu menunjukkan warna merah. Dia dan bosnya melihat dua orang terkejut dan salah satunya langsung memeluk.
Orion sangat terkejut karena ada mobil yang hampir menabrak mereka. Dia pun langsung memeluk Cheryl begitu erat, hingga akhirnya mobil berhenti dan bagian depan mobil berada tepat di samping kaki Cheryl.
“Kamu ga papa? Apa dia terkejut?” Orion langsung mencemaskan Cheryl dan janinnya. Dia mengusap wajah hingga rambut Cheryl, kemudian menatap ke perut datar sang istri.
“Aku baik-baik saja, hanya sedikit terkejut. Dia juga baik-baik saja,” ucap Cheryl sambil menyentuh perutnya. Dia berdiri memunggungi mobil.
__ADS_1
Pria yang duduk di belakang kemudi mengamati punggung Cheryl, merasa jika tidak asing dengan punggung itu.
“Keluar dan tanya apakah mereka terluka!” perintah pria yang duduk di belakang, jangan sampai terjadi masalah karena kelalain asistennya.
“Baik, Pak.” Asisten itu pun keluar dari mobil untuk bertanya kondisi dua orang yang hampir ditabrak.
“Apa kalian baik-baik saja?” tanya asisten itu.
Orion langsung menatap tajam ke pria yang bertanya kepada mereka. Dia marah karena hampir saja sang istri celaka.
“Apa Anda menyetir sambil melamun? Jelas-jelas dari arah Anda lampu berwarna merah, bagaimana bisa Anda hendak menerobosnya?” Orion mengamuk tapi masih menggunakan bahasa yang sopan.
“Ion, sudah jangan marah, aku juga tidak kenapa-napa,” kata Cheryl mencoba menenangkan Orion.
Asisten pria yang berada di mobil mengerutkan dahi, merasa kenal dengan suara Cheryl dan pernah mendengarnya.
Orion tetap merasa kesal karena hampir celaka, tapi karena Cheryl tidak ingin memperpanjangnya, membuat Orion pun akhirnya tidak menuntut pria itu.
“Baiklah, ayo pergi,” ajak Orion sambil menggandeng tangan Cheryl.
__ADS_1
Cheryl mengulas senyum, kemudian menoleh ke pria yang bicara dengan mereka.
Asisten pria yang ada di mobil sangat syok melihat wajah Cheryl, bahkan secara impulsif mundur dari tempatnya berdiri karena begitu terkejut melihat wajah Cheryl.
Dia, kenapa sangat kebetulan? Pria itu bergumam.
Cheryl dan Orion menatap heran melihat pria itu terkejut, hingga Cheryl merasa tidak asing dengan wajah pria itu.
Kenapa aku merasa tidak asing? Di mana aku pernah melihatnya, batin Cheryl.
“Ayo!” Orion mengajak Cheryl pergi karena sebentar lagi lampu akan berubah merah.
Pria yang bicara dengan Orion dan Cheryl terlihat panik dan bingung, hingga kemudian buru-buru masuk mobil.
“Pak, dia--” Pria itu ingin bicara tapi dipotong cepat oleh atasannya.
“Dia gadis yang aku tiduri hari itu. Apa dia mengenalimu?” tanya pria yang duduk di belakang.
“Sepertinya tidak,” jawab asisten.
__ADS_1
Pria yang duduk di belakang pun tampak berpikir, mungkinkan Cheryl sudah menjalin hubungan dengan Orion saat dia merenggut kesucian wanita itu.
“Apa kekasihnya tahu dengan hal yang aku lakukan?”