Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Mimpi


__ADS_3

Cheryl tidur dengan kelopak mata yang terus berkerut, mimpi buruk menghantui karena trauma yang dialami. Dia bermimpi akan kejadian di kamar hotel malam itu. Terlihat seseorang memapahnya, tapi Cheryl tidak bisa melihatnya dengan jelas.


“Apa perlu bantuan, Pak?”


Cheryl mendengar seorang wanita bicara saat dirinya merasakan tubuh semakin lemas.


“Oh tidak, ini istri atasan saya, sedangkan atasan saya sudah menunggu di kamar itu.”


Cheryl kembali mendengar pria yang memapahnya bicara.


“Oh begitu, baik saya permisi.”


Dalam mimpinya Cheryl seperti ingin berteriak meminta tolong, tapi suaranya tersekat dan membuatnya tidak mampu berbicara. Dia kembali diajak berjalan, hingga masuk ke ruangan Vvip yang terdapat di lantai itu.


Cheryl bisa merasakan tubuhnya yang lemas dibaringkan di atas tempat tidur, hingga mendengar percakapan dua pria, sebelum kemudian pria satunya pergi. Samar-samar seorang pria mulai bicara kepadanya, tapi tingkat kesadarannya yang mulai menurun, membuat Cheryl tidak mampu bicara.


Cheryl merasakan saat tangan itu menyentuh tubuhnya, tangan besar dan hangat seperti sebuah sengatan listrik yang menjalar di seluruh permukaan kulit.


“Aku akan melakukannya pelan-pelan, kamu nikmati saja.”


Itu adalah kalimat terakhir yang didengar dan akhirnya diingat, hingga bibirnya dibungkam dan disesap berulang kali oleh pria yang tidak dikenalnya. Dalam kesadaran yang semakin menurun, Cheryl melihat wajah pria yang berada di atas tubuhnya tapi tidak terlalu jelas, hingga rasa sakit begitu menusuk di bagian tubuh bawahnya, membuatnya ingin menjerit tapi tidak bisa.


“Tidak!” teriak Cheryl begitu keras. Dia terbangun dari mimpi buruk akan kejadian di hotel malam itu, keringat bermanik di kening dan pelipis, napas tersengal dengan dada naik turun tidak beraturan.


Orion yang tidur di kursi samping ranjang pun terkejut, kedua orangtuanya sudah pulang karena Orion tidak ingin membuat mereka tidur di sofa.

__ADS_1


“Ada apa? Kamu mimpi buruk?” tanya Orion sambil memperhatikan wajah Cheryl yang pucat dan berkeringat.


Dia berdiri untuk mendekat, tapi Cheryl langsung memundurkan kepala, membuat Orion urung mendekat.


Cheryl tidak bicara, hanya terus menatap wajah pemuda yang berdiri di hadapannya sekarang.


“Kamu mau minum? Biar aku ambilkan? Atau mau makan? Masih ada bubur buatan Mami,” ujar Orion mencoba mengajak bicara Cheryl.


Cheryl masih diam, membuat Orion bingung dengan yang terjadi.


“Sepertinya kamu butuh minum, kamu berkeringat banyak,” ucap Orion mengambil kesimpulan.


Saat membalikkan badan dan bersiap pergi, Cheryl membuka suara dan membuat Orion berhenti melangkah.


“Kamu bukan pria di malam itu.”


“Aku ingat, kamu bukan pria itu,” ucap Cheryl lagi, kini dia menurunkan pandangan, lantas menatap kedua telapak tangan yang mencengkram ujung selimut.


Orion mengepalkan tangan mendengar ucapan Cheryl, tapi kemudian mencoba bersikap biasa yang menganggap ucapan Cheryl bukan apa-apa. Dia membalikkan badan, lantas menatap Cheryl yang sudah menundukkan kepala.


“Kamu masih sakit dan tidak bisa berpikir jernih, makanya bicara sembarangan,” ujar Orion.


Cheryl semakin erat mencengkram selimut, dia sangat yakin jika ingat wajah pria itu dalam mimpinya. Itu bukan sekadar mimpi, itu adalah ingatannya yang terlupakan karena syok.


“Aku benar-benar ingat wajah itu sebelum tidak sadarkan diri. Itu bukan kamu, kenapa kamu mengakui kalau yang melakukannya?” Cheryl mengangkat wajah, lantas menatap Orion yang tampak terkejut karena ucapannya.

__ADS_1


Orion tidak bisa berkata-kata, tatapan mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


“Aku sudah merasakan sejak awal jika itu bukan kamu, saat didekatmu aku tidak merasakan ketakutan yang aku alami saat bertemu pria lainnya. Aku penasaran, kenapa kamu mau mengakui semua perbuatan yang sebenarnya bukan kamu? Kenapa kamu melakukannya?”


Orion mengepalkan telapak tangan, tapi tidak menjawab pertanyaan Cheryl.


“Kamu demam dan tubuhmu panas, wajar jika sekarang pikiranmu kacau. Maaf sudah membuatmu trauma, hingga sampai kamu seperti ini,” ucap Orion menyangkal semua ucapan dan pertanyaan Cheryl.


Cheryl termangu mendengar ucapan Orion, dia jelas ingat jika bukan wajah pemuda itu di dalam mimpinya. Namun, kenapa Orion masih berkata jika itu dia.


“Aku akan mengambilkanmu minum, jika besok masih kurang sehat, aku akan mengantarmu ke rumah sakit,” ucap Orion kemudian memilih pergi ke dapur.


Cheryl mencengkram selimut yang menutupi kaki, perasaannya tidak mungkin salah. Dia sadar kalau benar-benar tidak bisa mengingat wajah pria yang memperkosanya, tapi mimpi yang baru saja terjadi, memperlihatkan samar-samar wajah pria itu, meski tidak terlalu jelas, Cheryl yakin itu bukan Orion.


Siang tadi Cheryl menemui kliennya di hotel. Meski dia merasa takut, tapi demi pekerjaan membuatnya menguatkan hati. Satu jam pertemuan, Cheryl sudah terlihat gugup dan wajahnya sangat pucat, bahkan kliennya pun sampai bertanya apakah Cheryl baik-baik saja. Cheryl bersikap profesional sampai pertemuan itu selesai, lantas memilih langsung pulang ke apartemen dan tidak kembali ke perusahaan.


Hotel, kini menjadi tempat yang sangat menakutkan untuk Cheryl. Jika bisa, dia ingin sejauh mungkin menghindari tempat bernama hotel, di mana pun lokasi hotel itu berada.


Orion masuk dengan segelas air hangat, ditatapnya Cheryl yang sedang melamun.


“Minumlah,” ucap Orion sambil menyodorkan gelas berisi air hangat ke Cheryl.


“Jika kamu takut aku di kamar, aku akan tidur di luar. Jika butuh apa-apa, panggil saja aku,” ujar Orion sebelum kemudian keluar meninggalkan Cheryl.


Cheryl memegang gelas dengan kedua tangan, merasakan hangat air di gelas itu.

__ADS_1


Orion memilih untuk tidur di sofa ruang tamu. Dia sadar jika Cheryl tampaknya kembali mengingat kejadian yang menimpa. Saat Cheryl masih tidak sadarkan diri, Orion sempat mendengar Cheryl mengigau kalau ketakutan jika pergi ke hotel, hingga kemudian menangis.


Pemuda itu membaringkan tubuh di sofa, menatap langit-langit ruangan itu kemudian menghela napas kasar. Orion mencoba memejamkan mata, memilih menjauh dari Cheryl adalah cara agar wanita itu tidak semakin trauma.


__ADS_2