
“Maaf, jadi merepotkan.”
Orion tidak enak hati saat meminta Joya datang ke apartemen. Dia ada kuliah pagi yang tidak bisa ditinggalkan.
“Ga papa, Mimi juga lagi ga banyak kerjaan,” ucap Joya memaklumi karena bagaimanapun Orion hanya seorang mahasiswa. Joya juga senang karena Orion perhatian ke Cheryl sampai tidak bisa membiarkan Cheryl yang sakit sendirian di apartemen.
Orion memandang ke arah pintu kamar. Pagi ini dia sudah menyiapkan sarapan, tapi tidak berani menunggu Cheryl makan. Dia hanya takut kalau Cheryl ketakutan, sebab sejak kemarin terus ingat akan kejadian di hotel.
“Kamu sudah hubungi Mommy juga?” tanya Joya kemudian.
Orion menggelengkan kepala dengan senyum canggung di wajah, jelas dia tidak berani menghubungi Lusy karena mertuanya itu tidak menyukai dirinya.
Joya paham begitu melihat ekspresi wajah Orion, lantas meminta Orion untuk berangkat kuliah dan tidak mencemaskan apa pun lagi.
Setelah Orion pergi, Joya masuk ke kamar Cheryl. Dia melihat anak angkatnya itu duduk termenung memandang ke jendela.
“Kamu sudah sarapan?”
Suara Joya mengejutkan Cheryl. Wanita itu menoleh dan melihat sang mimi berjalan mendekat ke ranjangnya.
“Kok Mimi di sini.” Cheryl keheranan karena ibu angkatnya ada di sana.
“Orion telepon Mimi, katanya kamu sakit, jadi Mimi ke sini.” Joya menatap wajah Cheryl yang pucat, lantas memandang ke nakas di mana sarapan yang tersedia belum dimakan.
“Di mana dia?” tanya Cheryl yang tidak melihat Orion.
“Dia ada kelas pagi, makanya hubungin Mimi buat temenin kamu. Dia ternyata sangat perhatian sampai takut meninggalkanmu sendiri,” jawab Joya.
Cheryl terdiam mendengarkan ucapan Joya, hingga memikirkan mimpi juga pembicaraan antara dirinya dan Orion di mana pemuda itu masih bersikukuh jika dialah yang melakukan semua itu ke Cheryl.
“Mi.” Cheryl menatap Joya.
“Ada apa?” tanya Joya menoleh Cheryl.
Cheryl terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba urung bicara.
“Tidak ada,” jawab Cheryl sambil menunduk dan mengamati jemarinya.
__ADS_1
Joya menatap Cheryl yang sedang bingung, mendengar cerita dari Orion, cukup membuat Joya paham akan kondisi Cheryl saat ini.
“Kenapa sarapanmu tidak dimakan?” tanya Joya kemudian.
“Aku tidak lapar,” jawab Cheryl lirih.
Joya menghela napas kasar, lantas menggenggam telapak tangan Cheryl.
“Cher, ini bukan tentang lapar atau tidak. Ingat kamu sedang hamil, ada janin yang harus kamu beri nutrisi. Lagian kamu juga sedang sakit, jadi makan ya,” ucap Joya membujuk.
Cheryl tidak membalas ucapan Joya, masih menunduk sambil menatap tangan yang digenggam ibu angkatnya itu.
Joya mengambil mangkuk berisi bubur, lantas memegang sendok dan siap menyuapi.
“Habis ini kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu, meski terlihat baik, tapi Mimi takut jika ada hal buruk yang terjadi. Mimi ga mau kalau kamu dan janinmu dalam kondisi tidak baik,” ujar Joya, lantas menyendok bubur dan siap menyuapkan ke mulut putrinya.
Cheryl menatap Joya, wanita itu masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Joya sangat menyayangi Cheryl layaknya anak kandungnya.
Cheryl tidak langsung membalas ucapan Joya, tapi memilih membuka mulut dan menerima suapan dari maminya itu. Rasanya lebih berselera ketika sakit dan ada yang menyuapi.
Joya berhenti menyendok, hingga kemudian menatap Cheryl dengan dahi berkerut halus.
“Kenapa?” tanya Joya.
Cheryl menunduk dan terlihat menarik napas dalam-dalam sampai kedua pundaknya ikut bergerak naik, sebelum kemudian mengembuskan perlahan dan kedua pundak ikut turun.
“Sebenarnya setelah kejadian itu, aku sangat takut saat harus datang ke hotel atau melihat hotel. Bahkan aku tidak sanggup menjabat tangan klien pria saat melakukan kesepakatan. Aku benar-benar takut, Mi. Aku terkadang merasa lebih baik berada di kamarku sendiri dan tidak pergi ke mana-mana yang bisa membuatku bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang,” ujar Cheryl menjelaskan akan kegelisahannya.
Joya sangat terkejut mendengar cerita Cheryl. Selama ini baik dia atau Lusy tidak pernah tahu akan kondisi Cheryl yang sebenarnya karena tampak baik-baik saja. Namun, siapa sangka jika sebenarnya Cheryl ternyata begitu tertekan. Cheryl tidak pernah menceritakan karena sebelumnya takut jika orang-orang tahu akan kejadian yang menimpa.
“Jika kamu memang memerlukannya, Mimi akan temani kamu. Tapi Mommy juga perlu diberitahu agar dia tidak merasa kamu mengabaikannya,” ujar Joya kemudian mendukung hal yang hendak dilakukan Cheryl asal itu baik untuknya.
**
Joya dan Lusy mengantar Cheryl ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan kondisi tubuh dan kandungan. Lusy segera datang saat Joya menghubungi dan berkata jika Cheryl sedang sakit.
“Suaminya sangat tidak bertanggung jawab, istrinya sakit pun malah ditinggal kuliah,” gerutu Lusy ketika mereka sedang menunggu antrian.
__ADS_1
Joya langsung menoleh Lusy yang duduk di sampingnya, hingga kemudian mengedipkan mata untuk memberi isyarat agar tidak membahas akan hal itu.
Cheryl sendiri mendengar ibunya menggerutu, tapi dia berusaha tenang dan berpura tidak mendengar.
“Ini fakta, Joy. Aku sudah bilang kalau dia bukan pria baik, tapi Cheryl tetap memilihnya,” gerutu Lusy lagi.
“Lu, Cheryl memiliki banyak pertimbangan, kamu jangan bicara seperti itu. Yang terpenting sekarang hargai keputusan Cheryl, serta dukung semua keinginannya, jangan buat dia tertekan, hm ….” Joya mencoba menenangkan Lusy.
Nama Cheryl dipanggil, dia dan kedua ibunya pun masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter mengecek kondisi tubuh Cheryl sesuai yang dikeluhkan, sebelum kemudian memeriksa perkembangan janinnya.
“Janinnya tumbuh dengan baik, beberapa minggu lagi sudah akan terlihat bentuknya,” ucap dokter saat melihat kantong rahim berisi calon bayi Cheryl.
Cheryl menolehkan kepala ke sisi kiri, berlawanan dari monitor karena tidak mau melihat calon bayinya. Joya sendiri terlihat senang melihat calon bayi Cheryl yang tumbuh dengan baik, sedangkan Lusy untuk saat ini hanya peduli pada kesehatan putrinya.
“Tapi demamnya tidak berbahaya ‘kan, Dok?” tanya Lusy.
“Tidak, demamnya dipicu oleh tekanan karena pekerjaan atau pikiran berlebih, selain itu tidak ada masalah. Saya akan meresepkan obat demam yang aman untuk ibu hamil,” jawab dokter menjelaskan.
Lusy mengangguk-angguk, kemudian menatap Cheryl yang tampak diam dan tidak bahagia.
**
Orion mengikuti kelas pagi, sesekali menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan, berharap sesi kelas pagi ini cepat selesai.
Gaby yang duduk di samping Orion, melihat gelagat aneh temannya itu. Tidak biasanya Orion mengikuti kelas dengan kondisi gelisah.
“Ion, apa ada masalah?” tanya Gaby setengah berbisik.
Orion menoleh Gaby, lantas menggelengkan kepala pelan.
Kelas itu pun berakhir setelah satu jam, Orion buru-buru mengemas bukunya karena ingin bergegas pulang.
“Kamu mau makan di kantin dulu?” tanya Gaby.
“Tidak, aku harus segera pulang,” jawab Orion tanpa menoleh Gaby, pikirannya kini penuh dengan kecemasan akan kondisi Cheryl.
Orion pamit karena buru-buru ingin pulang, hingga saat baru saja akan keluar kelas, ponselnya berdering dan sebuah pesan masuk terpampang di layar. Orion membaca pesan itu, hingga terlihat mencengkram erat ponselnya, sebelum kemudian memilih meninggalkan ruang kelas.
__ADS_1