
Cheryl menatap Orion yang terlihat bingung, sadar jika pengakuannya berbuntut panjang.
Orion duduk sambil menundukkan kepala, kedua tangan memegangi kepala seolah ada beban berat yang sedang ditanggungnya.
“Ion.” Cheryl mencoba bicara. Dia duduk di samping pemuda itu, lantas menggenggam salah satu telapak tangan Orion yang sedang memegang kepala.
Orion pun menoleh, hingga melihat kalau Cheryl merasa bersalah karena masalah yang terjadi. Orion sendiri tidak menyalahkan Orion, hanya saja merasa cemas jika sampai benar-benar diminta bercerai dari Cheryl.
“Maaf, aku tidak tahu kalau semua akan berakhir seperti ini. Aku mencoba jujur untuk menyelamatkanmu, tapi ternyata semua jadi begini,” ucap Cheryl penuh penyesalan.
“Tidak, ini bukan salahmu. Jangan meminta maaf atau menyalahkan diri sendiri,” balas Orion sambil menggenggam erat telapak tangan Cheryl. Dia tidak ingin Cheryl terlalu banyak beban pikiran, hingga mempengaruhi kondisi janin yang dikandung.
“Tapi tetap saja, aku tidak memikirkan sampai ke sini. Aku menyesal,” ucap Cheryl sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
Orion tidak tega melihat Cheryl menyalahkan diri sendiri, bagaimanapun apa yang dilakukan Cheryl juga demi membantu dirinya. Dia meraih kepala Cheryl, lantas menyandarkannya di dada, mencoba menenangkan dengan cara mengusap lembut rambut panjang istrinya itu.
“Tidak apa, jangan menyalahkan diri sendiri. Aku juga kurang hati-hati karena membicarakan hal itu dengan Gaby di kampus, sehingga ada yang memang sengaja merekam dan kini menggunakan itu untuk menyerangku,” ucap Orion terus menenangkan.
Cheryl tetap saja merasa bersalah, serta bingung harus bagaimana jika mereka benar-benar diminta bercerai. Dia sudah terlanjur nyaman dengan hubungan yang dijalani, jika diminta berpisah, Cheryl benar-benar tidak bisa menerimanya.
“Bagaimana jika orangtuamu atau orangtuaku, benar-benar meminta kita berpisah?” tanya Cheryl masih bersandar di dada Orion, merasakan hangat dekapan pemuda itu.
“Jangan bicara seperti itu. Mereka tadi hanya syok, aku yakin setelah sama-sama berpikir dengan tenang, keputusan mereka tidak akan seperti itu. Jika memang benar papi tetap pada pendiriannya untuk meminta bercerai, aku tetap tidak akan menceraikanmu. Aku berjanji untuk menjagamu, bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian,” ucap Orion sambil membelai rambut Cheryl.
“Janji tidak akan meninggalkan ‘ku?” tanya Cheryl memastikan.
“Aku janji, bagaimana bisa aku meninggalkan wanita yang bertahun-tahun aku harapkan untuk jadi milikku,” jawab Orion meyakinkan.
__ADS_1
Setiap ucapan Orion menciptakan bunga-bunga yang bermekaran di dada, sekarang kupu-kupu pun ikut bermunculan dan berterbangan hingga menggelitik rongga dada.
Cheryl langsung memeluk pemuda itu, tidak akan melepas dan keduanya sudah berjanji untuk bersama. Bahkan tanpa malu dia menautkan bibir mereka, memagut begitu dalam tanpa ada rasa canggung atau jijik karena baginya mereka satu.
Orion terkejut dengan sikap agresif Cheryl, lantas merengkuh dan membalas pagutan bibir istrinya itu. Keduanya larut dalam ciuman, hingga suara ponsel Orion berdering dan membuat mereka melepas pagutan bibir.
“Mami.” Orion memperlihatkan nama sang mami terpampang di layar.
Cheryl menggigit bibir bawahnya, terlihat cemas dan takut jika Annetha menghubungi untuk menyampaikan hal buruk kepada mereka.
“Halo.” Orion menjawab panggilan itu karena tentu saja tidak bisa mengabaikan.
Orion sedang mendengarkan ucapan sang mami dari seberang panggilan, hingga ponsel Cheryl juga berdering dan nama Lusy terpampang di sana.
__ADS_1
“Halo, Mom.” Cheryl menjawab panggilan dari Lusy.
Sampai akhirnya Cheryl dan Orion saling tatap, ketika mendengar apa yang diucapkan oleh orangtua mereka masing-masing.