
Orion begitu cemas melihat kondisi Cheryl, tubuh istrinya itu sangat panas, tapi dia tidak berani membangunkan karena Cheryl terus mengigau. Dia sementara hanya bisa mengompres agar bisa sedikit menurunkan suhu tubuh Cheryl.
Saat Orion baru saja mengganti kompres, terdengar suara bel beberapa kali. Dia pun memilih bergegas untuk membuka pintu karena bisa menebak siapa yang datang.
“Mi, tolong bantu cek. Dia terus mengigau dan ketakutan, aku tidak berani membangunkannya,” ucap Orion begitu melihat sang mami berdiri di hadapannya ketika dia membuka pintu.
Orion ternyata menghubungi Annetha karena bingung harus bagaimana. Meski dia bisa menangani sendiri kondisi Cheryl, tapi melihat kalau wanita itu ketakutan, membuatnya takut menyentuh atau membuat gerakan yang bisa mengejutkan Cheryl.
“Apa masih panas?” tanya Annetha sambil berjalan masuk.
“Masih, tapi tidak sepanas tadi,” jawab Orion.
Annetha pun bergegas masuk kamar, saat Orion hendak menutup pintu, dia terkejut karena ternyata ayahnya juga ikut.
Arlan menatap Orion dengan ekspresi wajah datar, pria itu masih marah karena perbuatan Orion yang dianggap memalukannya.
Orion sendiri sadar jika ayahnya masih marah, tapi berusaha bersikap biasa dan segera memersilakan ayahnya masuk.
Orion segera menyusul Annetha, melihat sang mami yang sudah duduk di ranjang dan sedang mengecek kondisi Cheryl.
“Mommy, Mimi.” Cheryl terus mengigau, kelopak matanya berkerut menandakan jika sedang bermimpi buruk.
“Cheryl, ini Mami. Kamu bisa dengar suara Mami? Jangan takut, Mami di sini,” ucap Annetha penuh kelembutan untuk menenangkan Cheryl.
Bibir Cheryl terlihat pucat dan bergetar, Annetha meminta Orion untuk mengambilkan air hangat guna mengompres agar demam Cheryl segera turun.
“Cheryl, kamu bisa dengar Mami?” Annetha mencoba membangunkan agar Cheryl tidak terus mengigau.
Cheryl mendengar suara Annetha, menggerakkan kelopak mata perlahan, hingga akhirnya sedikit terbuka.
“Mami,” lirih Cheryl.
“Ya, ini Mami.” Annetha mengulas senyum, satu tangan mengusap lembut kening Cheryl yang terasa panas.
__ADS_1
“Mana yang sakit?” tanya Annetha.
Cheryl mengangkat tangan, kemudian memegang kepalanya. Dia merasa kepalanya pusing, mungkin efek demam yang dialaminya.
“Kamu sudah makan?” tanya Annetha lagi.
Cheryl menggelengkan kepala, sejak pulang dari bertemu klien, tidak ada makanan apa pun yang masuk ke lambungnya karena Cheryl langsung berbaring di kamar.
Orion masuk membawa baskom berisi air hangat, lantas meletakkan di atas nakas.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Orion cemas.
“Kepalanya pusing, mungkin karena demamnya. Dia juga belum makan apa pun, jadi kamu rawat dia dulu, Mami akan buatkan bubur biar dia bisa makan dan ada sedikit asupan makanan masuk ke lambungnya,” ucap Annetha menjelaskan.
Orion mengangguk paham, lantas mengambil alih merawat Cheryl.
Arlan memilih duduk di sofa menunggu istrinya selesai membantu Orion mengurus Cheryl. Dia ikut karena cemas jika Annetha pergi naik mobil malam-malam sendirian.
Annnetha membuatkan bubur yang sudah dicampur sayur untuk memudahkan Cheryl menelan. Saat bubur itu matang, Annetha pun membawanya ke kamar.
Orion pun berdiri untuk memberikan ruang kepada sang mami.
“Ion, kamu temani papimu. Sekalian cobalah bicara dengannya dan minta maaf agar papi tidak terus marah,” ucap Annetha. Dia tidak ingin jika hubungan keluarga mereka tidak harmonis hanya karena satu kesalahan.
Orion pun keluar dari kamar, memandang ke arah Arlan yang duduk memunggungi kamar. Dia pun berinisiatif membuatkan kopi untuk ayahnya itu.
“Kopinya, Pi.” Orion menyuguhkan secangkir kopi hitam pekat kesukaan sang papi.
Arlan tidak bicara, hanya mengeluarkan suara dehaman.
Orion mencoba bersabar atas sikap papinya, tidak menyalahkan sang papi marah karena semua yang terjadi juga akibat sikapnya.
“Papi masih marah?” tanya Orion mencoba membuka percakapan.
__ADS_1
“Apa masih perlu Papi jelaskan?” Arlan tidak mau menatap ke arah Orion.
Orion menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Dia memang harus banyak-banyak bersabar saat papinya marah.
“Ion minta maaf, Pi. Semua terjadi begitu cepat dan aku pun tidak bisa menjelaskan ke Papi. Aku tidak meminta Papi memaafkan, hanya ingin agar Papi paham jika ini adalah tanggung jawabku,” ujar Orion menjelaskan.
Arlan mengepalkan telapak tangan yang berada di atas lutut. Apa pun penjelasan dan alasan putranya, baginya dia tetap tidak bisa menerima.
“Papi tidak pernah mengajarkan untuk menyakiti hati wanita. Mamimu wanita, kakakmu wanita, jika mereka disakiti hatinya, apakah kamu bisa menerima? Lantas kenapa kamu harus menyakiti hati wanita?”
Orion terdiam mendengarkan ucapan Arlan, tidak bisa membalas hingga memilih hanya mendengarkan.
“Tanggung jawab bukan hanya sebuah kata, tapi harus dilakukan sebagai sebuah pembuktian. Papi tidak ingin membahas banyak hal, karena semua pun bermula dari tindakan dan juga keputusanmu. Jadi, apa pun yang ingin kamu lakukan kini, Papi tidak akan melarang serta kamu pun tidak perlu meminta izin atau maaf jika melakukan kesalahan. Bukankah kamu sangat bertanggung jawab? Terlalu berani, padahal tahu resikonya begitu besar.”
Orion masih diam, semua perkataan Arlan terdengar jelas jika sedang menyindir dirinya. Dia tidak akan menyalahkan jika Arlan membencinya.
“Aku mengerti, tapi tetap aku ingin meminta maaf meski Papi tidak akan memberinya,” ucap Orion.
Arlan masih memalingkan wajah, tidak menanggapi ucapan Orion.
Tidak ingin terus bersitegang dengan sang papi, Orion pun memilih pergi ke kamar untuk melihat kondisi Cheryl.
Annetha masih menyuapi Cheryl, menantunya makan sambil berbaring karena tidak kuat untuk duduk. Cheryl makan sebisanya, hanya seujung sendok yang bisa masuk ke mulut, sehingga Annetha harus begitu sabar saat menyuapi.
“Bagaimana, Mi?” tanya Orion memperhatikan.
“Bisa makan, tapi hanya dikit. Tapi tidak masalah, yang penting perutnya tidak benar-benar kosong,” jawab Annetha.
Orion mengangguk-angguk paham, lantas memandang Cheryl yang masih memejamkan mata.
“Kamu sudah bicara dengan papimu?” tanya Annetha dan langsung mendapatkan sebuah anggukan kepala dari Orion.
“Apa papimu sudah memaafkan?” tanya Annetha.
__ADS_1
Orion menggelengkan kepala, sifat ayahnya yang susah dibujuk kalau sudah marah, membuat Orion harus banyak bersabar.
“Kamu jangan cemas, yang terpenting sudah berniat meminta maaf. Masalah papimu yang masih ingin marah, ya sudah biarkan saja dulu seperti itu,” ujar Annetha mencoba menenangkan perasaan putranya.