Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Menikah dengan berondong


__ADS_3

Gaby menatap Orion yang sedang bercerita, temannya itu menceritakan semua yang terjadi hingga akhirnya Gaby paham. Mereka bicara di taman yang sepi, agar lebih leluasa bercerita.


“Apa kamu benar-benar melakukannya, Ion?” tanya Gaby yang tidak percaya jika Orion memperkosa Cheryl.


Gaby hanya berpikir jika tidak mungkin Orion bercerita segamblang itu jika memang melakukannya. Serta mana mungkin pemuda sebaik, manis, juga seramah Orion, tega memperkosa gadis hanya untuk kepuasan. Andai Orion berpikiran bejat, cukup menggunakan wajahnya saja bisa menjerat banyak gadis ke dalam pelukan, tidak perlu Orion sampai menjebak dan memperkosa.


Orion menatap Gaby, entah kenapa dia memang tidak bisa berbohong kepada temannya itu. Dia menunduk sambil menautkan jemarinya satu sama lain, hingga kemudian menggelengkan kepala. Gaby adalah orang pertama yang tahu akan kebenaran atas kebohongan Orion.


“Aku tidak pernah melakukannya, tapi aku juga tidak bisa membiarkannya,” ucap Orion mengaku ke Gaby jika dia tidak pernah sama sekali memperkosa Cheryl.


“Aku melakukan ini demi menyelamatkan banyak hati. Kakakku juga dia,” imbuh Orion kemudian.


“Tapi itu menjebakmu,” ucap Gaby.


Meski Gaby lega karena Orion menikah terpaksa, serta tidak pernah memperkosa wanita yang kini jadi istrinya, tapi Gaby juga kecewa karena Orion tidak memberitahukan masalah itu sejak awal.


“Aku tahu, tapi aku bisa mengatasinya,” ujar Orion sambil mengangkat wajah. Dia menatap Gaby dan mengulas senyum manis ke arah gadis itu.


Gaby mengulurkan tangan, lantas menggenggam tangan Orion yang mengepal.


“Lain kali jika ada masalah, ceritalah kepadaku. Aku sahabatmu bukan? Aku akan selalu ada untukmu,” ucap memberikan perhatian untuk Orion.


Orion menatap Gaby, kemudian mengangguk.


“Aku percaya kepadamu, apa kamu bisa merahasiakan ini kepada semua orang? Aku mohon,” pinta Orion ke Gaby.


“Tentu, kamu bisa percaya kepadaku,” ucap Gaby sambil mempererat genggaman di tangan Orion.


“Tapi, apa kamu akan selamanya berstatus suaminya?” tanya Gaby, karena Orion tidak menceritakan soal kesepakatannya dengan Cheryl.


“Aku tidak tahu, mungkin saja tidak setelah dia melahirkan,” jawab Orion. Dia tahu jika Cheryl tidak menyukainya karena bukan tipe wanita itu. Hingga membuat Orion menjawab demikian, karena itulah kesepakatan yang terjadi di antara dia dan Cheryl. Mereka boleh bercerai, setelah bayi yang dikandung Cheryl lahir.


Gaby mengulas senyum, ada kelegaan di hati, setelah sempat merasa begitu cemas dan was-was.


**


Cheryl berada di ruangannya, mengecek beberapa berkas yang sudah menumpuk di meja.


Semakin hari, Cheryl semakin sering mual, tidak seperti sebelumnya yang hanya mual di waktu tertentu. Seperti siang ini, melihat banyaknya tulisan di kertas, membuat kepalanya mendadak pusing dan dia pun pergi ke kamar mandi karena ingin muntah.


Semua sarapan yang masuk ke lambung dan belum tercerna, kini keluar semua di kloset. Cheryl merasa kepalanya semakin pusing dan tubuhnya terasa lemas.


Mely yang sedang masuk untuk meminta tandatangan, tidak melihat Cheryl di kursinya. Dia pun menoleh ke pintu kamar mandi, hingga melihat Cheryl keluar dengan wajah pucat.


“Bu.” Mely panik, lantas berjalan cepat menyusul Cheryl dan mencoba membantu atasannya itu duduk.


“Bu, Ibu baik-baik saja? Akhir-akhir ini saya lihat, Ibu seperti kurang sehat,” kata Mely cemas.


Cheryl mengulas senyum mendengar perkataan Mely, salah dia juga tidak memberitahu soal status juga kondisinya.


“Saya beliin obat ya, Bu. Atau mau saya panggilkan dokter?” tanya Mely yang benar-benar perhatian kepada Cheryl.


Cheryl menggelengkan kepala, lantas meminta Mely untuk mengambilkan air putih.


Mely pun melakukan yang diperintah Cheryl, membawa segelas air putih dan memberikan ke Cheryl.

__ADS_1


Cheryl meneguk air putih itu untuk sedikit membasahi tenggorokan yang terasa kering karena terus muntah. Dia berniat memberitahu Mely agar sekretarisnya itu tidak lagi cemas jika dia kembali muntah seperti yang baru saja terjadi.


“Mel, ada hal yang ingin aku katakan. Tapi aku harap kamu jangan terkejut,” kata Cheryl sambil menatap sekretarisnya itu.


“Bu, kenapa Anda membuat saya merinding? Jangan bilang Anda mengidap penyakit mematikan.” Tiba-tiba saja Mely takut jika hal itu benar.


Cheryl tertawa kecil melihat ekspresi wajah Mely yang sudah panik duluan, hingga akhirnya dia pun bercerita.


“Sebenarnya aku sudah menikah sekitar beberapa bulan lalu, Mel.” Cheryl mengaku tapi sedikit dengan kebohongan, agar saat mengungkap kehamilannya, Mely tidak curiga.


“Apa?” Benar saja, Mely sangat terkejut hingga berteriak.


Cheryl sampai memejamkan mata mendengar suara teriakan Mely, tapi kemudian meminta sekretarisnya itu untuk tenang.


“Ibu kapan nikah? Kenapa aku tidak diundang? Jahat sekali!” Mely malah protes karena tidak diundang ke pernikahan Cheryl.


“Maaf, maaf,” ucap Cheryl jadi tidak tega melihat Mely kecewa. Dia tahu jika Mely sangat menghormati dan menyayanginya, bahkan pernah berkata jika ingin jadi briesmaid jika Cheryl menikah.


Namun, keadaan yang tidak memungkinkan, membuat Cheryl harus mengubur keinginan sekretarisnya, juga keinginannya sendiri.


“Ibu jahat sekali.” Mely terlihat merajuk.


“Maaf, aku juga menikah tidak mengadakan pesta, Mel.” Cheryl mencoba membujuk agar sekretarisnya tidak marah.


“Kenapa, Bu? Ibu kaya, masa nikah ga pakai pesta? Wah, apa Pak Zayn tidak kasih biaya nikah? Atau Ibu bohong karena menikah di luar negeri?” tanya Mely bertubi penuh curiga.


Cheryl tertawa mendengar semua pertanyaan Mely, hingga kemudian menjelaskan hal yang bisa dipahami, tanpa membongkar rahasia kenapa dia menikah tanpa pesta.


“Sebenarnya suamiku masih mahasiswa, Mel. Dia dan aku sepakat untuk tidak mengadakan pesta, karena aku juga tidak mau mengganggu studinya,” ucap Cheryl menjelaskan.


Mely menatap Cheryl, masih tidak percaya dengan alasan atasannya itu.


“Serius, kamu ingat pemuda yang ada di kafe kemarin saat kita bertemu klien?” tanya Cheryl sambil mengingatkan.


“Oh, waiters itu. Ya, kenapa?” tanya Mely balik setelah menjawab.


“Dia suamiku, makanya aku minta kamu pulang duluan,” jawab Cheryl mengakui Orion suaminya.


Mely langsung terkejut dengan mulut menganga, sungguh tidak menyangka jika semua itu adalah fakta.


“Ibu ga bohong? Pemuda manis itu, suami Ibu?” Mely geleng-geleng kepala seolah tidak percaya.


Cheryl mengangguk-angguk untuk meyakinkan.


“Oh … pantas saja dia menyarankan Ibu pesan jus, lalu Ibu setuju. Ternyata ….” Mely mengangguk-angguk, sekarang dia percaya kalau Cheryl sudah menikah.


“Ya, kamu sekarang tahu. Tapi di perusahaan ini belum banyak yang tahu, aku hanya minta kamu jangan menyebarkan informasi pernikahanku. Juga ….” Cheryl menjeda ucapannya, kemudian melirik ke perutnya yang masih datar.


“Juga apa, Bu?” tanya Mely penasaran.


“Juga karena aku sedang hamil, makanya sering mual dan muntah,” jawab Cheryl.


Mely terkejut dengan mulut menganga, bahkan sampai menutup dengan kedua telapak tangan.


“Ya Tuhan, Bu. Ini berita yang sangat mengejutkan juga membahagiakan. Selamat ya, Bu.” Mely menjabat tangan Cheryl, memberikan selamat untuk kehamilan Cheryl.

__ADS_1


Cheryl sendiri sebenarnya belum bisa menerima janin yang tumbuh di rahimnya, tapi dia pun tidak bisa bersikap jika tidak menyukai karena akan membuat Mely curiga.


“Terima kasih ya, Mel.”


“Mulai sekarang, saya akan menjaga Ibu dengan baik. Saya janji jika akan menjadi orang pertama yang menanti kelahirannya. Oh bukan, karena pasti suami Ibu orang pertama yang menantinya,” ujar Mely penuh semangat.


Cheryl hanya menanggapi dengan senyuman, lantas menganggukkan kepala.


**


“Maaf, ruangan ibu Cheryl di mana?” Annetha siang itu pergi ke perusahaan Cheryl.


Annetha menghubungi Orion untuk menanyakan keadaan menantunya, karena sebelumnya Orion tidak memberinya kabar perkembangan Cheryl setelah malam itu, membuat Annetha cemas dan ingin melihat Cheryl. Hingga Orion berkata jika Cheryl sudah baik-baik saja dan pergi ke perusahaan seperti biasa.


“Maaf, apa Anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya bagian resepsionis.


Annetha kebingungan, jelas dia belum membuat janji.


“Gini, apa bisa beritahu ke Cheryl, katakan kalau saya ingin bertemu,” ucap Annetha. Dia tidak memiliki nomor Cheryl, sehingga tidak bisa menghubungi langsung.


“Siapa nama Anda?” tanya resepsionis sambil meraih gagang telepon untuk menghubungi ruangan Cheryl.


“Annetha.”


Resepsionis itu terlihat bicara dan menyebut nama Annetha, hingga kemudian mengangguk-angguk dan mengakhiri panggilan.


“Ruangan Bu Cheryl ada di lantai enam. Anda bisa langsung naik saja. Maaf karena sudah menunggu,” ucap resepsionis itu sopan.


“Tidak apa-apa, terima kasih.” Annetha pun pergi ke lift sambil menenteng paper bag di tangan kanannya.


**


Annetha pergi ke lantai tempat Cheryl berada, di sana bertemu dengan Mely dan langsung diantar masuk ke ruangan Cheryl.


“Mi.” Cheryl mengulas senyum ramah menyambut kedatangan mertuanya itu.


“Kamu sudah bekerja, Mami pikir masih istirahat,” kata Annetha yang menunjukkan perhatiannya.


Cheryl melebarkan senyum, kemudian mengajak Annetha duduk.


“Hanya demam semalam kok, Mi. Paginya aku sudah baik-baik saja,” balas Cheryl yang kini duduk di samping Annetha.


“Mami bawa salad sayur juga buah, nanti dimakan ya.” Annetha menunjuk ke paper bag yang diletakkan di meja.


“Pasti aku makan,” kata Cheryl terus mengulas senyum.


Annetha menatap Cheryl yang duduk di sampingnya. Hingga kemudian menggenggam telapak tangan Cheryl.


Cheryl sangat terkejut saat telapak tangannya digenggam, kemudian menatap Annetha yang sudah memandangnya.


“Malam itu, kamu pasti ingat dengan kejadian yang Orion lakukan. Maaf, karena sudah membuatmu mengalami hal buruk. Maafkan Orion,” ucap Annetha yang ikut menyesal karena putranya berbuat jahat ke Cheryl.


Cheryl sangat terkejut mendengar ucapan Annetha, meski Cheryl tidak yakin kalau Orion bukan pelakunya, tapi dia memilih untuk tidak mengungkapkan, selama Orion sendiri belum mau jujur apakah dugaannya benar.


“Mami jangan meminta maaf. Sekarang aku dan Ion juga sudah hidup bersama, mencoba menerima satu sama lain karena inilah pilihan yang kami ambil,” ucap Cheryl untuk melegakan hati Annetha.

__ADS_1


Annetha menatap Cheryl yang terlihat pasrah dan ikhlas, meski Annetha tahu jika menantunya itu pasti tertekan.


“Jika Ion jahat atau melukai hatimu. Kamu adukan saja ke Mami, biar Mami yang kasih dia pelajaran. Jangan sampai dia menyakitimu lagi,” ucap Annetha penuh kasih sayang ke Cheryl, membuat gadis itu hanya mengangguk-anggukan kepala.


__ADS_2