
Orion menatap Cheryl yang tertidur di taksi, kepala istrinya itu bersandar di tepian pintu.
Cheryl berada di kafe hingga Orion selesai bekerja, membuat Orion buru-buru menyelesaikan pekerjaan agar bisa mengajak Cheryl pulang. Dia tidak tega melihat Cheryl duduk berjam-jam di sana, tapi mau menyuruh untuk pulang juga tidak berani, membuat Orion akhirnya membiarkan Cheryl menunggu.
“Cher, sudah sampai di apartemen.” Orion mencoba membangunkan, tapi Cheryl terlalu nyenyak tidur hingga tidak sadar kalau taksi pun sudah berhenti.
Orion memberanikan diri menyentuh lengan Cheryl, menepuk pelan untuk membangunkan.
“Cher, kita sudah sampai di apartemen,” kata Orion saat membangunkan.
Cheryl akhirnya bangun, kelopak matanya belum terbuka sempurna tapi dia sudah menegakkan badan. Cheryl mencoba membuka kelopak mata, hingga menyadari jika taksi sudah berhenti.
“Sudah sampai, ya. Aku ketiduran,” lirih Cheryl, lantas mengusap kasar wajah agar kesadarannya kembali sepenuhnya.
Orion hanya tersenyum melihat Cheryl yang masih bingung karena baru bangun, lantas memilih membayar ongkos taksi sebelum mengajak Cheryl turun.
Orion dan Cheryl pun masuk ke apartemen, mereka naik ke lantai tempat unit apartemen Cheryl berada.
“Apa kamu lapar lagi?” tanya Orion saat mereka masih di lift.
“Ya?” Cheryl masih mengantuk sampai tidak terlalu jelas mendengar pertanyaan Orion.
“Apa kamu lapar lagi?” Orion mengulang pertanyaan.
“Ah … tidak terlalu, aku hanya mengantuk,” ujar Cheryl setelah mendengar jelas pertanyaan Orion.
Begitu sampai di unit apartemen, Cheryl memilih langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan istirahat.
Orion sendiri pergi ke dapur, memanaskan air untuk membuatkan Cheryl susu. Dia tahu jika Cheryl tidak akan membuat susu hamil sendiri, Orion menyadari jika Cheryl sebenarnya belum menerima sepenuhnya janin yang ada di rahimnya.
“Apa kamu sudah meminum vitaminmu?” tanya Orion saat Cheryl baru saja keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Cheryl cukup terkejut melihat Orion yang ternyata sudah berada di kamar. Dia mengenakan piyama dengan rambut basah dan handuk kecil yang menutup kepala.
“Belum, karena aku meninggalkan vitamin di rumah,” ujar Cheryl. Vitaminnya hanya diminum pagi dan malam, membuat Cheryl tidak perlu membawanya saat siang hari.
Orion hanya memulas senyum. Dia mendekat ke meja kecil yang ada di samping ranjang, kemudian mengambil gelas susu yang mulai hangat.
“Minumlah dulu, baru nanti minum vitaminmu,” ucap Orion sambil menyodorkan gelas susu ke Cheryl.
Cheryl menerima gelas itu, dia mulai terbiasa dengan perlakuan-perlakuan manis juga perhatian kecil yang diberikan Orion. Dia pun duduk di tepian ranjang dan mulai meminum susu.
Orion mengambil hairdryer dan menyalakan benda itu. Cheryl yang melihat pun terkejut dan berhenti minum.
“Duduklah dengan tenang, aku bantu mengeringkan rambutmu,” ucap Orion ke Cheryl.
“Tidak usah, aku bisa sendiri,” tolak Cheryl merasa kikuk.
“Kamu sudah sangat mengantuk, aku yakin tidak sempat mengeringkan rambut. Kalau kamu tidur dalam kondisi rambut basah, nanti sakit lagi,” ujar Orion.
Cheryl akhirnya diam dan membiarkan Orion mengeringkan rambutnya. Dia duduk sambil memegangi gelas berisi susu yang tinggal setengah, sedangkan Orion berlutut di atas kasur sambil mengeringkan rambut Cheryl.
Menyentuh rambut saja, Orion meminta izin kepadanya, membuat Cheryl merasa begitu dihormati oleh pemuda yang delapan tahun lebih muda darinya itu.
“Ion, jika kamu butuh uang. Aku bisa memberimu,” kata Cheryl saat Orion mengeringkan rambutnya.
“Tidak perlu. Uangku sudah cukup untuk biaya sehari-hari, aku bekerja karena ingin. Jadi kamu jangan banyak berpikir,” balas Orion dengan senyum manis yang tidak bisa dilihat Cheryl karena dia berada di belakang wanita itu.
“Tapi kamu masih kuliah, kalau kamu juga bekerja, apa kamu yakin fokusmu tidak akan terpecah?” tanya Cheryl mencemaskan pendidikan pemuda itu.
Mendengar Cheryl yang mencemaskannya, membuat bibir Orion terus mengulas senyum.
“Selama semua bisa teratasi dengan baik, kamu jangan mencemaskan apa pun,” ucap pemuda itu.
__ADS_1
Cheryl pun akhirnya memilih diam, kedua tangan menggenggam erat gelas susu yang mulai dingin.
Setelah beberapa menit, rambut Cheryl sudah kering dan Orion pun mematikan hairdryer. Dia lantas turun dari ranjang dan merapikan alat pengering rambut itu.
Cheryl sejak tadi hanya diam menunggu Orion selesai mengeringkan rambutnya, hingga kemudian menghabiskan susu.
“Sebelum tidur, jangan lupa minum vitaminmu,” kata Orion sambil mengambil gelas kosong dari tangan Cheryl.
Cheryl mengangguk-angguk menatap pemuda itu.
Orion tidak memperhatikan Cheryl yang memandangnya, memilih mengambil bantal dan siap untuk keluar.
“Istirahatlah, aku akan keluar,” kata Orion lagi, kemudian berjalan meninggalkan Cheryl.
Sejak Cheryl sakit, Orion memang tidak berani tidur seranjang. Dia takut kalau keberadaannya di ranjang itu, akan membuat Cheryl mengingat kejadian yang menimpa.
Cheryl juga tidak mencegah Orion yang memilih tidur di sofa ruang tamu, dia hanya bimbang dengan apa yang harus dilakukan.
**
Malam semakin larut, Cheryl ternyata tidak bisa tidur karena sikap Orion yang benar-benar membuatnya gelisah. Dia membolak-balikkan badan di atas tempat tidur, tidak ada posisi tidur yang nyaman untuknya saat ini karena kegelisahan yang menghampiri.
Cheryl berbaring telentang, menatap langit-langit kamarnya. Hingga dia menoleh ke arah pintu, menatap daun pintu yang tertutup rapat.
Cheryl memutuskan bangun karena tidak bisa tidur, lantas berjalan keluar kamar untuk mencari Orion. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tentunya pemuda itu sudah tidur karena lelah belajar dan bekerja di sore harinya.
Orion tidur dengan posisi terlentang, kaki pun naik di atas tepian sofa karena jelas panjang sofa dan tinggi tubuh Orion tidak seimbang. Kedua tangannya dilipat di depan dada, menandakan jika pemuda itu sedikit merasakan dinginnya AC ruangan itu.
Cheryl menatap Orion yang tidur pulas, merasa bersalah karena pemuda itu harus tidur di sana. Dia lantas masuk ke kamar, mengambil selimut tebal dan kembali keluar.
Cheryl perlahan menyelimuti Orion dari kaki hingga sebatas dada, memastikan pemuda itu tidak kedinginan atau dia akan sakit. Kedua sudut bibir Cheryl tertarik ke atas, sebelum kemudian memilih kembali ke kamar dan kembali tidur.
__ADS_1