Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Mulai terbuka


__ADS_3

“Jangan langsung berbaring. Duduklah dulu,” kata Orion saat dia dan Cheryl sudah kembali ke kamar.


Cheryl menuruti ucapan Orion, duduk di ranjang sambil bermain ponsel. Orion sendiri membuka buku untuk membaca materi yang tadi diterangkan oleh dosennya.


Cheryl berhenti menatap layar dan kini memandang Orion yang sedang membaca.


“Temanmu itu, apa kalian sudah kenal lama?” tanya Cheryl membuka pembicaraan, rasa penasarannya benar-benar tidak bisa dibendung lagi.


Orion berhenti membaca, kemudian menoleh Cheryl yang sudah memandangnya.


“Kami kenal sejak masuk kuliah, karena dulu aku pernah membantunya. Setelah itu kami dekat, apalagi kami satu jurusan,” jawab Orion.


“Apa sedekat itu?” tanya Cheryl yang seperti mengandung makna lain.


Orion mengerutkan alis mendengar pertanyaan Cheryl.


“Ya, dekat sebagai teman,” jawab Orion.


Cheryl mengangguk-angguk, kemudian berkata, “Tapi aku lihat kamu sangat perhatian kepadanya, bahkan tahu kebiasannya saat dia ketakutan, menandakan kalau kamu benar-benar paham akan dia.”


Cheryl tersenyum masam setelah mengatakan itu.


Orion melihat rasa tidak suka di wajah Cheryl.


“Tapi aku memahamimu lebih lama dari memahaminya,” ucap Orion untuk melegakan hati Cheryl.


“Tapi tidak sedekat antara kamu dan Gaby,” balas Cheryl. Dia mulai memperlihatkan rasa cemburunya.

__ADS_1


Orion merasa ada yang aneh dengan ucapan Cheryl, hingga menutup buku yang sedang dibaca dengan terus memandang ke Cheryl.


“Kita memang tidak dekat karena kamu membuat jarak saat aku ingin mendekat, tapi bukan berarti aku tidak tahu apa pun tentangmu, atau tidak memahamimu. Aku lebih memahamimu, lebih dari memahami Gaby,” ujar Orion.


“Contohnya?” tanya Cheryl tidak percaya jika Orion memahaminya. Kamu berkata memahamiku, tapi tidak merasa kalau aku sedang cemburu, batin Cheryl.


“Contohnya sekarang, kamu sedang cemburu karena aku memperhatikan Gaby,” jawab Orion.


Cheryl tersedak ludah mendengar jawaban Orion, benarkah reaksinya sekarang sangat menunjukkan kalau dia sedang cemburu. Wajahnya merona karena ketahuan, awalnya berpikir kalau Orion tidak akan sadar.


“Ak-aku … aku hanya tidak senang karena suamiku memperhatikan wanita lain,” ucap Cheryl sambil memalingkan wajah ke kiri dari Orion.


Orion mengulum bibir mendengar ucapan Cheryl, lantas sedikit menggeser posisi duduk hingga kini berada tepat di samping Cheryl.


Orion mengulurkan tangan, menyentuh pipi kiri Cheryl, lantas sedikit menekan untuk membuat Cheryl menghadap ke arahnya.


“Aku senang mengetahui kamu benar-benar menerimaku,” ucap Orion saat keduanya saling tatap.


Cheryl menggigit bibir bawahnya, kemudian berkata, “Jangan menggodaku atau menyindirku karena dulu tidak menerimamu. Aku tampaknya terkena karma dari ucapanku sendiri.”


Orion tertawa kecil mendengar ucapan Cheryl.


“Iya aku ingat. Kamu pernah berkata kalau tidak akan pernah berpacaran dengan anak kecil yang umurnya lebih layak menjadi adikmu, ‘kan?” Orion mengingatkan apa yang dikatakan Cheryl beberapa tahun lalu.


Cheryl gemas karena Orion masih ingat akan hal-hal yang sebenarnya sudah sedikit dilupakan Cheryl. Dia lantas memukul lengan Orion sedikit keras.


“Otakmu terbuat dari apa? Kenapa kamu sangat ingat dan hapal apa yang aku ucapkan.” Cheryl malu sendiri saat ingat ucapannya itu.

__ADS_1


“Bukan otakku yang hebat, tapi keinginan untuk terus mengingatnya yang hebat. Aku menggunakan itu untuk terus memotivasiku agar bisa membuktikan kalau bisa mendapatkanmu,” ujar Orion menjelaskan.


Cheryl semakin malu, wajahnya kini semakin merona karena ucapan Orion.


“Kamu ternyata tidak sependiam yang aku bayangkan,” ucap Cheryl untuk mengalihkan perhatian.


“Aku hanya diam ke orang yang tidak ingin aku dekati,” balas Orion.


“Ya, aku lupa bagaimana kamu dulu saat mencoba mendekatiku,” ujar Cheryl kemudian.


Cheryl kembali memalingkan wajah karena malu mereka akhirnya membahas masa lalu.


Orion kembali menyentup pipi Cheryl, hingga membuat Cheryl kembali memandangnya.


“Ya, tanpa kegigihan itu, aku tidak akan mendapatkanmu. Meski semua yang didapat berawal dari sebuah tragedi, tapi aku tidak pernah menyesal menikahimu. Bukan sebuah kesempurnaan yang aku inginkan, cukup perasaan tulus saja darimu,” ucap Orion.


Cheryl menatap Orion, paham ke mana arah ucapan pemuda itu.


“Aku sedang berusaha untuk benar-benar menerimamu,” balas Cheryl, “kita berjanji untuk memulainya dari awal, ‘kan?” imbuhnya.


“Hm … aku akan ingat terus janji itu,” balas Orion.


Cheryl menatap Orion, perlahan rasa itu mulai mengisi hatinya. Dia yang tidak pernah terlibat cinta dengan seorang pria, kini bisa jatuh hati dengan pemuda berumur delapan tahun lebih muda darinya itu.


Saat keduanya saling tatap, tanpa sadar wajah mereka sudah begitu dekat. Hingga akhirnya bibir mereka saling menyentuh dan bertautan satu sama lain.


Cheryl memejamkan mata, sedangkan Orion menyentuh pipi wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Keduanya larut dalam ciuman atas dasar saling menginginkan. Sedikit demi sedikit mereka mencoba terbuka dengan hati masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2