
Orion pergi ke supermarket setelah pulang dari kampus, berbelanja beberapa kebutuhan dapur juga untuk Cheryl. Daripada Cheryl sendiri, Orion malah lebih memperhatikan kesehatan dan juga gizi yang masuk ke tubuh Cheryl.
Orion sudah berada di depan meja kasih dan menunggu barang-barangnya dihitung, pemuda itu mengambil dompet dan hendak mengeluarkan uang untuk membayar, hingga melihat kartu debit yang diberikan Cheryl. Dia tidak berniat menggunakan kartu itu, memilih memakai uang pribadi hasil kerjanya untuk membayar semua barang belanjaan itu.
“Terima kasih,” ucap Orion setelah membayar, lantas mengambil belanjaannya.
Sesampainya di apartemen, Orion pun langsung ke dapur, membongkar semua barang belanjaannya kemudian mulai menyiapkan menu makan malam yang diinginkan Cheryl.
Seulas senyum terus terpajang di wajah, mendengar Cheryl menginginkan sesuatu darinya sangat membuat pemuda itu senang. Dia kini memasak dengan sungguh-sungguh, tidak ingin sama sekali mengecewakan Cheryl.
Tepat pukul lima sore, Orion sudah selesai memasak. Menu makan malam pun sudah tersaji di atas meja. Dia menatap masakan yang dibuatnya, berharap Cheryl puas dan menyukai makanan itu.
Terdengar suara pintu terbuka, Orion langsung berjalan ke depan untuk menyambut Cheryl.
“Aku baru selesai masak, apa kamu mau makan dulu atau membersihkan diri dulu?” tanya Orion saat Cheryl sedang melepas heels-nya.
Cheryl sedikit terkejut karena Orion langsung menyambutnya, dia hanya mengangguk dan melanjutkan melepas sepatunya.
“Aku agak sedikit lapar,” ucap Cheryl yang mengisyaratkan jika ingin makan terlebih dahulu.
Orion tersenyum lebar, hingga kemudian melirik ke paper bag yang dibawa Cheryl.
“Kamu belanja?” tanya Orion.
__ADS_1
Cheryl menengok ke tangan yang memegang paper bag, hingga kemudian kembali menatap Orion.
“Mami tadi datang ke perusahaan dan membawakanku salad sayur juga buah. Ini masih ada sisa, bisa bantu masukkan ke lemari pendingin?” tanya Cheryl.
Orion mengangguk dan mengambil paper bag dari tangan Cheryl, lantas buru-buru pergi ke dapur untuk menyimpan salad itu.
Cheryl memperhatikan Orion, kemudian memilih masuk dan meletakkan tas di sofa, lantas menyusul Orion ke meja makan.
Cheryl melihat ikan panggang yang diinginkan, meski sebenarnya itu hanya keinginan sesaat ketika melihat Orion bicara dengan seorang gadis.
“Duduk dan makanlah,” kata Orion.
Pemuda itu mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk Cheryl.
“Bagaimana rasanya? Apa sama?” tanya Orion penasaran.
Cheryl mengulas senyum kemudian mengangguk-angguk dan kembali memasukkan potongan ikan ke mulut. Orion melihat banyak senyum sejak pagi tadi, membuat hatinya merasa lega karena sikap Cheryl tidak sedingin sebelumnya.
**
Orion mengambil bantal dan bersiap tidur di luar seperti biasanya. Cheryl yang baru saja keluar dari kamar mandi pun memperhatikan pemuda itu.
“Kamu akan tidur di sofa?” tanya Cheryl.
__ADS_1
Orion menoleh Cheryl, hingga kemudian menganggukkan kepala.
“Ya, seperti biasa. Aku tidak ingin mengganggu tidurmu,” jawab Orion.
Cheryl menggigit bibir bawahnya, menatap Orion yang hendak pergi keluar.
“Ion.” Cheryl memanggil nama pemuda itu.
Orion berhenti melangkah, lantas memutar tubuh dan kini menghadap ke Cheryl.
“Kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Orion.
Cheryl menggeleng, lantas berkata, “Jangan tidur di sofa ruang tamu.”
Orion menaikkan satu sudut alisnya mendengar perkataan Cheryl.
Cheryl terlihat kikuk, bahkan menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.
“Jangan terus tidur di sofa, itu tidak baik untuk kesehatan. Aku lihat kamu tidak nyaman tidur di sofa, jadi ….” Cheryl menjeda ucapannya, lantas melirik ke ranjang.
Orion masih menunggu kalimat lanjutan dari Cheryl.
“Jadi, apa?”
__ADS_1
“Tidurlah di ranjang.”