Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Uji coba


__ADS_3

Terdengar suara ketukan pintu saat Orion baru saja selesai mandi dan gantian dengan Cheryl. Orion pun berjalan ke pintu dan membuka untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


Orion terkejut melihat Lusy berdiri di depan pintu, ingin menyapa tapi bingung dengan sebutan apa karena Lusy belum mengizinkannya memanggil dengan nama panggilan seperti Cheryl memanggil.


“Di mana Cheryl?” tanya Lusy dengan ekspresi wajah datar.


“Sedang mandi,” jawab Orion sambil menunjuk dalam. “Apa mau menunggu?” tanya Orion kemudian.


Lusy menggelengkan kepala, kemudian menatap Orion yang ada di hadapannya.


“Aku ingin bicara denganmu,” kata Lusy.


Orion terkejut tapi kemudian menganggukkan kepala, lantas ikut Lusy yang berjalan duluan karena ingin bicara di luar. Mungkin agar Cheryl tidak mendengar apa ang akan dibicarakan Lusy ke Orion.


Lusy mengajak Orion bicara sambil berjalan di halaman samping rumah. Pemuda itu berjalan di belakang Lusy karena tidak berani mensejajari sebab merasa belum akrab.


“Mungkin kamu menganggapku sangat kejam karena bersikap buruk kepadamu,” ucap Lusy sambil menghentikan langkah.

__ADS_1


Orion ikut menghentikan langkah, tapi tidak membalas ucapan Lusy.


“Aku memiliki banyak alasan untuk membencimu,” ucap Lusy kemudian, lantas membalikkan badan hingga kini berhadapan dengan Orion.


Orion masih diam dan sedikit menurunkan pandangan.


“Cheryl adalah putriku satu-satunya. Hanya dia yang aku miliki, aku menyayangi dan melindunginya dengan nyawaku sendiri. Tapi kamu, kamu sudah menghancurkan seluruh hidupnya, kamu paham akan hal itu bukan?”


Orion semakin menunduk karena ucapan Lusy.


“Maaf,” lirih Orion yang tidak ingin membantah apa pun ucapan Lusy, meski dia bisa berkata kalau tidak pernah melakukan hal itu.


Lusy mengeluarkan semua yang ada di benaknya, kemudian menarik napas panjang dan menghela perlahan, seolah sedang mengatur emosinya. Meski dia begitu marah jika ingat kalau pemuda di depannya adalah pemerkosa putrinya, tapi Lusy berusaha untuk meredam amarahnya, saat mengingat kalau pemuda itu juga yang memberikan perhatian lebih untuk sang putri.


“Kendati demikian, aku berusaha untuk menerimamu. Bukan karena aku memaafkanmu, tapi karena Cheryl menerimamu. Bagiku, Cheryl adalah segalanya, selama dia bahagia, maka aku pun akan mendukung, meski aku merasa tidak harus memendam rasa kesalku,” ujar Lusy kemudian.


Orion terkejut mendengar ucapan Lusy, apakah itu artinya Lusy kini merestui pernikahan mereka.

__ADS_1


“Mom … maksud saya, Anda akhirnya menerima saya?” tanya Orion bicara formal.


“Hm ….” Lusy hanya berdeham menanggapi pertanyaan Orion, menatap pemuda yang terlihat begitu senang karena ucapannya.


“Meski aku menerima, bukan berarti menerima sepenuhnya. Aku akan memantau, anggap saja kamu sedang uji coba menjadi suami baik. Kalau sampai kamu menyakiti Cheryl, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan denganmu. Paham!” bentak Lusy meski suaranya tidak terlalu keras.


Orion mengangguk-anggukkan kepala, meski dianggap sedang uji coba, asal mendapatkan restu dari Lusy, baginya semua itu tidak masalah.


“Jangan kecewakan Cheryl, atau aku akan memburumu sampai ke neraka sekalipun,” ancam Lusy kemudian.


“Saya tidak akan pernah mengecewakannya, saya berjanji,” ucap Orion sepenuh hati.


“Jangan bicara formal, panggil Mom seperti Cheryl,” protes Lusy karena Orion bicara ‘Saya dan Anda’ kepada Lusy.


“Jangan sampai aku dianggap sangat jahat oleh putriku sendiri,” gumam Lusy kemudian membalikkan badan dan meninggalkan Orion.


Orion terlihat begitu senang, malam bisa begitu dekat dengan Cheryl dan mencoba saling mengerti sama lain, di pagi hari dia mendapatkan restu yang membuat harinya dimulai dengan sangat indah.

__ADS_1


__ADS_2