
Orion tetap pergi ke kampus seperti biasa, sejak kejadian pengakuannya yang sangat mengejutkan, sang papi masih kesal kepadanya karena perbuatan itu.
Orion memang terkesan bertindak gegabah, tapi semuanya sudah diperhitungkannya dengan matang. Segala resiko sudah siap ditanggungnya semenjak Orion mengakui hal itu.
Saat Orion sedang berjalan menuju halaman parkir, pemuda itu mengamati sekitar dan melihat beberapa mahasiswa terlihat saling bisik dan senyum. Pemuda itu pun memandang ke arah para mahasiswa tadi menatap, hingga Orion tertegun melihat siapa yang datang.
Cheryl baru saja turun dari mobil, penampilan Cheryl yang berbeda dari orang lain, serta wajah wanita itu yang masih terlihat seperti anak kuliahan, membuat beberapa mahasiswa terpukau menatapnya.
Cheryl melihat Orion yang berdiri mematung memandang dirinya. Dia melepas kacamata hitam yang menutupi dua bola mata birunya, berjalan tanpa ekspresi di wajah menghampiri pemuda yang mengaku sebagai ayah dari bayinya.
“Aku perlu bicara denganmu,” ucap Cheryl begitu sampai di hadapan Orion.
“Kenapa tidak menghubungiku jika ingin bertemu?” tanya Orion, “aku bisa datang ke tempat kamu ingin bertemu,” imbuhnya.
Cheryl mendesis pelan, lantas mengedarkan pandangan ke area kampus itu.
“Aku hanya kebetulan lewat, jadi sekalian mampir,” jawab Cheryl.
“Jadi, apa kamu ada waktu bicara denganku?”
**
Orion akhirnya pergi bersama Cheryl, mereka memilih berbincang di kafe yang memiliki sedikit privasi. Cheryl memilih kafe dua lantai, di mana mereka bisa bicara di lantai atas yang lebih sepi daripada lantai bawah.
Orion tidak banyak bicara, duduk menanti Cheryl bicara sambil sesekali meminum jus pesanannya.
Cheryl mengamati Orion, banyak hal yang ingin dikatakan saat pertemuan mereka kemarin, tapi Cheryl mencoba menahannya karena ada orangtua mereka.
__ADS_1
“Kamu sekarang kuliah semester berapa?” tanya Cheryl terlihat kuat dan tegar tidak seperti kemarin saat ada orangtuanya.
“Semester lima,” jawab Orion sambil mengulas senyum, hingga memperlihatkan lesung pipinya yang indah.
Cheryl mengangguk-angguk, mengalihkan pandangan dari Orion ke arah lain.
“Sebenarnya aku menemuimu karena ingin membahas beberapa hal,” ujar Cheryl yang sudah kembali menatap Orion.
“Aku siap mendengarkan,” balas Orion terlihat begitu tenang dan santai.
Cheryl menatap Orion, dalam hatinya tidak pernah yakin jika pemuda manis itu yang sudah menjebaknya. Namun, Cheryl juga tidak yakin jika itu bukan Orion karena malam itu tidak mengingat atau melihat wajah pria yang memperkosanya. Cheryl sendiri masih bingung, jika Orion tidak melakukannya, lalu kenapa pemuda itu harus mengakuinya.
“Soal pernikahan yang akan kita lakukan, kamu tahu konsekuensinya, ‘kan?” Cheryl mulai bicara serius dengan Orion.
Orion mengangguk menjawab pertanyaan Cheryl.
“Aku sudah memikirkan hal itu, tidak ada yang perlu aku khawatirkan jika teman-temanku tahu aku sudah menikah. Bukankah masih bisa dimaklumi jika mahasiswa menikah masih bisa kuliah,” balas Orion.
“Setelah menikah, aku memutuskan untuk tinggal di apartemen, tentunya bersamamu. Namun, ada hal yang aku ingin kamu sepakati denganku,” ujar Cheryl lagi.
Cheryl ingat jika saat Orion masih remaja, pernah menyatakan cinta kepadanya. Namun, saat itu Cheryl hanya menganggap Orion sebagai seorang adik karena umurnya lebih muda darinya. Meski ada sebuah kalimat yang dilontarkan Orion, sebenarnya masih terngiang di kepala Cheryl hingga saat ini.
“Kesepakatan apa?” tanya Orion.
Cheryl mengangkat telunjuk ke depan, kemudian mulai mengabsen kesepakatan yang ingin dilakukannya dengan Orion.
“Aku tidak akan membatasi aktivitasmu, dengan siapa kamu bergaul, siapa yang dekat denganmu, juga ke mana kamu pergi, aku tidak akan menanyakannya dan kamu pun juga sebaliknya,” ucap Cheryl menyebutkan kesepakatan yang diinginkan.
__ADS_1
Orion mengangguk menyetujui syarat yang diajukan Cheryl.
“Kedua, pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan nama baikku juga memberi status ke janin yang ada di rahimku, jadi aku harap kamu tidak beranggapan berlebih,” ucap Cheryl lagi dan kembali mendapatkan jawaban sebuah anggukan dari Orion.
“Ketiga, meski kamu pernah menyentuhku, bukan berarti aku akan membiarkanmu melakukannya lagi. Selama aku hamil, jangan pernah berpikir untuk ….” Cheryl menghentikan ucapannya, lantas mengulum bibirnya.
Orion sedikit memalingkan wajah mendengar ucapan Cheryl, menyembunyikan semburat merah yang mungkin akan muncul di wajah karena paham akan maksud ucapan wanita itu.
“Aku mengerti,” ucap Orion meyakinkan agar Cheryl tidak cemas.
“Baguslah kalau kamu mengerti,” balas Cheryl entah kenapa merasa canggung membahas hal itu dengan Orion.
“Satu lagi, setelah aku melahirkan. Kamu boleh meminta cerai dariku,” ucap Cheryl menyebutkan kesepakatan terakhir yang diinginkan.
Mendengar kesepakatan terakhir yang diucapkan Cheryl, membuat kedua telapak tangan Orion yang ada di atas paha mengepal erat. Dia tidak menyukai keinginan Cheryl yang ingin mengakhiri pernikahan itu setelah bayinya lahir.
“Hanya itu yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa perlu aku buatkan perjanjian tertulis agar kamu memiliki bukti untuk menuntut hak jika suatu saat ada pelanggaran?” tanya Cheryl.
“Tidak perlu, kamu bisa memercayaiku,” jawab Orion dengan kedua telapak tangan masih mengepal erat.
Cheryl mengangguk kemudian mengambil tasnya. Dia menyematkan tali tas di pundak kemudian berdiri untuk bersiap pergi.
“Aku antar kamu ke kampus lagi,” kata Cheryl.
Orion menatap Cheryl yang sudah berdiri, mencoba mengulas senyum kemudian membalas, “Tidak perlu, aku hendak melakukan sesuatu sebelum ke kampus. Nanti aku akan naik taksi saja.”
Cheryl tidak memaksa, lantas pamit dan meninggalkan pemuda itu.
__ADS_1
Orion masih duduk dengan telapak tangan mengepal, hingga bayangan saat dirinya dulu sangat mengagumi sosok Cheryl yang baginya begitu memesona terlintas di kepala. Gadis yang dilihatnya pertama kali karena sebuah ketidaksengajaan, membuat Orion jatuh hati di usia belia.