Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Trauma


__ADS_3

“Masuk!”


Cheryl mempersilakan masuk saat pintu ruang kerjanya diketuk. Pintu terbuka dan sekretarisnya masuk membawa setumpuk berkas di pelukan.


“Bu, ini berkas yang harus Anda tandatangani,” kata Mely sambil meletakkan setumpuk berkas di meja.


“Oke, terima kasih,” ucap Cheryl.


“Oh ya, saya ingin mengingatkan jika jam dua nanti Anda harus menemui klien di Star Hotel untuk mendiskusikan masalah model yang akan kita kirim ke mereka,” kata sekretaris Cheryl.


Mendengar nama hotel, membuat tangan Cheryl yang sedang memegang pulpen gemetar. Hotel adalah tempat yang sangat menakutkan saat ini untuk Cheryl, hotel akan selalu mengingatkan dirinya akan kejadian yang menimpanya satu bulan lalu. Jantungnya berdegup dengan cepat, keringat tiba-tiba bermanik di kening.


Mely melihat gelagat aneh Cheryl, belum lagi pulpen yang dipegang terlihat sedikit bergoyang, wajah Cheryl juga menjadi pusat pasi.


“Bu, Anda baik-baik saja?” tanya Mely cemas.


Cheryl terkejut mendengar pertanyaan Mely, bahkan kedua bahu bergedik karena benar-benar merasakan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa.


“Ak-aku baik-baik saja,” jawab Cheryl sedikit tergagap, mencoba bersikap biasa meski ada rasa takut yang sedang menguasai hati.


Mely sedikit cemas, tidak biasanya Cheryl bersikap seperti ini ketika akan bertemu klien. Biasanya atasannya itu akan sangat bersemangat dan begitu senang karena makin banyak klien yang menggunakan jasa perusahaan mereka. Namun, kali ini semua terlihat berbeda.


“Mel, apa kamu bisa konfirmasikan ke klien untuk memindah tempat pertemuan?” tanya Cheryl meski sedikit ragu.


Biasanya Cheryl akan menuruti semua permintaan klien dari tempat bertemu hingga syarat dan kerjasama yang diinginkan. Namun, kali ini berbeda karena trauma yang dialami oleh wanita itu.


“Baik, Bu. Saya akan mencoba menghubungi dan menanyakan ke klien apakah bisa mengubah tempat pertemuan,” ucap Mely, lantas mengundurkan diri dari ruangan itu.


Begitu pintu ruangan terdengar menutup, Cheryl langsung menangkup kedua sisi kepala, terlihat jelas ketakutannya untuk pergi ke hotel. Wajahnya begitu pucat, hingga tiba-tiba rasa mual menyerang dan membuat Cheryl berlari ke kamar mandi yang terdapat di ruangannya. Dia berdiri di depan wastafel, hingga muntah-muntah. Tekanan yang dialami, memengaruhi hormon dalam tubuhnya.


Mely sudah menghubungi klien yang akan bertemu Cheryl, hingga kemudian kembali masuk ke ruangan Cheryl tapi tidak menemukan atasannya di sana. Dia pun mencari menoleh ke pintu kamar mandi, lantas berpikir jika atasannya pasti di sana karena mendengar suara gemericik air. Hingga Mely juga mendengar Cheryl muntah.


“Bu, Anda baik-baik saja?” tanya Mely saat berada di depan pintu kamar mandi. Dia mendengar dengan jelas kalau atasannya sedang muntah-muntah.


Mely begitu cemas, hingga mengetuk pintu untuk mengetahui kondisi atasannya.

__ADS_1


“Bu, apa perlu saya panggilkan dokter?” tanya Mely lagi dengan wajah panik.


Tidak ada jawaban dari Cheryl, membuat Mely semakin panik. Hingga beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka, Mely melihat wajah Cheryl yang pucat dan masih ada bulir air.


“Saya bantu Anda duduk.” Mely langsung membantu Cheryl berjalan ke sofa, kemudian meminta atasannya itu duduk perlahan.


Mely mengambil air minum Cheryl, memberikan ke atasannya sambil terus memperhatikan.


Cheryl menerima gelas dari Mely, lantas menenggak air di dalamnya hingga tandas untuk sedikit mengurangi rasa panas di tenggorokan akibat muntah.


“Bu, saya panggilkan dokter untuk memeriksa Anda,” kata Mely yang cemas terjadi sesuatu kepada atasannya. Dia mengambil gelas dari tangan Cheryl dan meletakkan di meja.


Cheryl menggelengkan kepala, lantas menyandarkan punggung dan kepala di sandaran sofa.


“Aku baik-baik saja, Mel.” Cheryl bicara dengan mata terpejam, wajahnya begitu pucat dengan bulir air yang tertinggal.


Mely mengambil tisu, lantas membantu Cheryl mengeringkan wajah.


“Terima kasih, Mel.” Cheryl bicara dengan mata tertutup.


Cheryl mencoba membuka kelopak mata, kepala sangat pusing tapi dia mencoba bersikap kuat karena sedang berada di perusahaan.


“Aku baik-baik saja, Mel. Mungkin istirahat sebentar akan membuat kondisiku lebih baik,” ujar Cheryl, “kamu sudah menghubungi klien? Bagaimana tanggapannya?” tanyanya kemudian.


Mely bingung menjawab pertanyaan Cheryl, melihat kondisi Cheryl yang tidak baik-baik saja, membuat Mely ragu menyampaikan hasil pembicaraan dengan klien.


“Mel.” Cheryl menatap sekretarisnya yang tidak kunjung menjawab.


“Begini, Bu. Klien bilang kalau dia harus pergi ke bandara setelah pertemuan. Dia inginnya bertemu di hotel, jadi selesai pertemuan bisa langsung check out karena dia menginap di sana.”


Mely akhirnya menyampaikan pembicaraannya dengan klien yang menolak permintaan pindah tempat bertemu.


Cheryl sedikit frustasi akan hal itu, tapi tidak bisa memaksa karena baginya klien adalah prioritas utamanya sebagai direktur pemasaran di perusahaan ayahnya.


“Apa Anda baik-baik saja? Atau saya minta perwakilan saja untuk menemui klien itu?” tanya Mely cemas.

__ADS_1


Cheryl menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan perlahan.


“Tidak perlu, Mel. Aku yang akan pergi ke sana menemui klien seperti biasa,” ucap Cheryl di satu sisi tidak ingin mengecewakan klien perusahaan ayahnya.


**


Orion mulai bekerja di kafe sepulang kuliah. Dia bekerja dengan giat dan penuh tanggung jawab. Bahkan banyak pelayan yang puas, memberikan ulasan positif dan memasukkan ke kotak saran dan pengaduan.


“Kamu baru pertama kerja, tapi semangatmu sangat menggebu,” kata senior Orion.


Orion sedang mengelap gelas yang baru saja dicuci, kini kafe sudah tutup dan mereka sedang membersihkan kafe sebelum pulang.


“Karena aku butuh, jadi harus benar-benar bekerja dengan giat serta tidak menyiakan kesempatan,” balas Orion.


Senior Orion pun salut, lantas menepuk pundak pemuda itu sebelum kemudian mengosongkan laci penyimpanan uang sebelum mereka pulang dan menyimpan ke brankas sesuai ketentuan kafe.


Orion pulang saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Sesampainya di apartemen, Orion keheranan karena lampu unit apartemen semuanya mati.


“Apa dia pulang ke rumah orangtuanya? Tidak mungkin kalau jam segini dia belum pulang,” gumam Orion, lantas menutup pintu unit apartemen.


Dia menyalakan lampu tengah, hingga melihat sepatu Cheryl berada di raknya. Orion pun menatap lurus ke depan, jika sepatu yang dipakai Cheryl tadi pagi ada di rak, berarti wanita itu sudah di apartemen, tapi kenapa tidak menyalakan lampu.


Orion pun memilih berjalan menuju kamar, menyalakan satu persatu lampu di unit apartemen, lantas masuk kamar dan melihat kamar itu gelap. Orion mendekat ke ranjang, menenak saklar di sisi ranjang untuk menyalakan lampu utama, hingga melihat Cheryl yang berbaring di ranjang dengan pakaian masih utuh seperti tadi pagi saat pergi ke perusahaan.


“Chery, kamu tidak ganti baju?” tanya Orion mencoba membangunkan.


Tidak ada jawaban dari Cheryl, membuat Orion berpikir jika Cheryl tidur nyenyak. Namun, Orion kemudian merasa curiga karena tubuh Cheryl sedikit gemetar, bahkan berbaring miring sambil meringkuk. Orion duduk di samping ranjang, tangan terulur untuk menyentuh lengan Cheryl tapi urung karena takut mengganggu atau membuat Cheryl terkejut.


Hingga Orion mendengar suara rintihan Cheryl, membuat pemuda itu mendengarkan dengan seksama.


“Mommy, Mimi, aku takut.”


Suara lirih itu didengar Orion, membuat pemuda itu menyadari kalau Cheryl dalam kondisi tidak baik-baik saja. Orion pun memberanikan diri menyentuh lengan Cheryl, hingga betapa terkejutnya dia saat menyadari jika Cheryl dalam kondisi tidak baik.


“Cher!” Raut wajah Orion berubah panik.

__ADS_1


__ADS_2