Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Sekamar tak seranjang


__ADS_3

“Kamu bisa tidur--” Belum juga Cheryl selesai bicara, ucapannya sudah dipotong cepat oleh Orion.


“Aku akan tidur di sofa, kamu jangan cemas,” ucap Orion memotong ucapan Cheryl. Dia mengambil bantal dari ranjang, lantas membawanya ke sofa.


Malam itu tentu saja Orion tidur di rumah orangtua Cheryl karena baru akan pindah esok harinya.


Cheryl tercengang mendengar ucapan Orion, menatap pemuda yang kini baru saja meletakkan bantal di sofa. Dia memperhatikan Orion dengan seksama, ada sebuah keraguan akan pengakuan pemuda itu. Mungkinkah Orion pelakunya.


“Ion, boleh aku membahas sesuatu?” Cheryl duduk di tepian ranjang, tapi tatapannya terus tertuju ke Orion.


Orion baru saja merapikan bantal, hingga kemudian menatap ke arah Cheryl.


“Bahas saja.” Orion pun mempersilakan.


Cheryl terlihat meremass jemarinya, sedikit ragu untuk menanyakan hal yang sebenarnya akan membuat dirinya kembali teringat akan kejadian hari itu. Namun, Cheryl harus memastikan, meski semua sudah terlambat.


“Aku merasa kalau bukan kamu yang menjebakku, Ion.” Cheryl bicara dengan rasa gugup.


Orion terlihat menunduk dengan senyum kecil di wajah, sebelum kemudian memandang Cheryl yang sudah menatapnya.


“Kamu hanya merasa, tapi kamu tidak tahu kebenarannya. Bukankah kamu juga tidak ingat, lantas kenapa meragukan?”


Keduanya saling tatap dengan jarak pandang lumayan jauh, hingga Cheryl kemudian mengalihkan pandangan dan berkata, “Jika itu kamu, bukankah kamu tidak akan menyiakan kesempatan tidur satu ranjang denganku. Kenapa kamu malah memilih tidur di sofa.”


Orion terlihat tenang mendengar perkataan Cheryl, hingga kemudian dia membalas, “Aku sadar diri jika mungkin kamu tidak nyaman atau takut. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar bisa menerima semuanya, jadi untuk sementara aku akan tidur di sofa.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Orion pun memilih berbaring di sofa.


Cheryl terdiam mendengarkan ucapan Orion, mungkin memang benar pendapat pemuda itu. Dia masih takut dan trauma akan kejadian yang menimpanya. Satu kamar dengan Orion saja sudah membuatnya cemas, apalagi jika mereka satu ranjang.


Namun, Cheryl masih berpikir dengan keras, sifat dan sikap Orion sangat menunjukkan jika pemuda itu tidak bisa berbuat jahat, lantas kenapa Orion tega kepadanya. Andai Cheryl bisa mengingat dengan jelas pria di malam itu, pastinya Cheryl bisa memastikan apakah itu Orion atau bukan.


**


Saat pagi hari, Orion dan Cheryl sudah sama-sama bangun juga membersihkan diri. Keduanya sepakat untuk pindah ke apartemen Cheryl hari itu, bahkan Cheryl sudah mengemas pakaian dan barang yang akan dibawanya.

__ADS_1


“Kamu benar-benar akan pindah hari ini?” tanya Lusy yang seolah belum bisa menerima jika putrinya akan pindah.


Lusy melirik Orion yang duduk di samping putrinya, sampai saat ini tetap tidak bisa menerima meski sang suami dan keluarga lain sudah menasihati agar bisa menerima Orion.


“Iya, Mom. Aku sudah merapikan barang-barangku, jadi nanti tinggal mengangkutnya,” ujar Cheryl menjawab pertanyaan Lusy.


Lusy tidak rela karena takut jika Cheryl tinggal berdua dengan Orion, kemudian pemuda itu melakukan KDRT kepada putrinya. Lusy tetap menganggap jika Orion itu kejam dan tidak punya hati, meski dari cara bicara dan sikapnya menunjukkan jika pemuda itu pria baik-baik.


“Jika sampai kamu kenapa-napa, jangan lupa kasih tahu Mami. Mami pasti akan selalu berada di garda depan buat lindungin kamu,” ucap Lusy menyindir Orion.


Orion sejak tadi memilih diam, hanya sesekali mengulas senyum meski tahu jika semua pembicaraan itu karena meragukan dirinya.


**


“Apa kamu akan ke kampus hari ini?” tanya Lusy saat mereka berada di mobil.


“Tidak, aku akan pulang untuk mengemas barang-barangku,” jawab Orion.


Cheryl terlihat berpikir, mengingat status mereka yang hanya menikah karena keterpaksaan, sebenarnya membuat Cheryl merasa jika tidak perlu memedulikan apa yang akan dilakukan Orion. Namun, Cheryl memikirkan tentang pandangan orangtua Orion kepadanya. Sejak awal dia bisa menolak tapi malah menerima, jadi sekarang pun Cheryl harus menunjukkan jika dia menerima pernikahan yang diberikan Orion.


“Aku akan mengantarmu ke rumah, setelah itu kita ke apartemen bersama,” ucap Cheryl sambil fokus menyetir.


Mobil Cheryl memasuki halaman rumah orangtua Orion, mobil pun diparkirkan dekat garasi, lantas keduanya turun dan berjalan masuk rumah.


“Ion, kamu pulang.” Annetha terlihat begitu senang saat melihat putranya pulang bersama Cheryl.


Orion senang mendapatkan sikap hangat dari ibunya, meski sang ayah masih kesal kepadanya.


Annetha menatap Cheryl, istri putranya itu tampak mengulas senyum dengan sedikit mengangguk sebagai rasa hormat.


“Kalian sudah sarapan?” tanya Annetha kepada keduanya.


“Sudah, Mi. Tadi sebelum ke sini,” jawab Orion, “aku sebenarnya pulang untuk mengemas beberapa barangku,” imbuh Orion.


Annetha membentuk huruf O dengan bibir, tidak menyangka dari dua anaknya, malah Orion yang akan menikah duluan.

__ADS_1


“Baiklah, kamu kemasi barangmu. Biarkan Cheryl sama Mami,” kata Annetha.


Orion menoleh sekilas ke Cheryl, sebelum kemudian meninggalkan istrinya bersama Annetha.


“Kami sedang sarapan, kamu mau makan atau minum sesuatu?” tanya Annetha sambil menggandeng tangan Cheryl.


Cheryl menggelengkan kepala dengan seulas senyum, hingga menunduk ketika melihat tatapan dingin Arlan.


“Duduklah.” Penuh perhatian Annetha menarikkan kursi untuk Cheryl.


“Bintang ke mana?” tanya Cheryl karena tidak melihat gadis yang sekarang jadi kakak iparnya.


“Dia sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi dijemput Langit,” jawab Annetha.


Annetha mengambilkan buah, hendak menawari susu tapi takut Cheryl mual.


“Kamu suka buah apa, biar Mami kupaskan,” kata Annetha penuh perhatian.


Cheryl menatap Annetha yang begitu perhatian, meski secara tidak langsung kondisinya mungkin telah menghancurkan impian putranya, tapi Annetha tampak begitu ikhlas menerima.


“Aku suka semua buah, Mi.” Cheryl mulai belajar memanggil Annetha dengan sebutan Mami.


Annetha tersenyum, kemudian mengambil pir dan mengupas untuk Cheryl.


Arlan berdeham melihat istrinya sangat perhatian ke Cheryl dan mengabaikan dirinya, membuat Annetha melirik tajam ke arahnya.


“Sudah siang, Mas. Kamu sana ke kantor, masa kalah sama anak sendiri,” ucap Annetha secara tidak langsung mengusir halus suaminya.


Annetha melakukan itu karena Arlan memberikan tatapan dingin ke Cheryl, dia takut jika itu akan memengaruhi mental Cheryl yang sedang hamil.


Arlan sangat terkejut mendengar ucapan istrinya, tidak menyangka sang istri memintanya buru-buru pergi, sedangkan biasanya saja diminta lama-lama sarapan.


Cheryl sendiri merasa tidak enak hati, hingga menundukkan kepala dan tidak berani memandang ke Arlan.


“Ya sudah aku berangkat,” ucap Arlan dengan suara sedikit ketus.

__ADS_1


Annetha sedang memotong pir dan meletakkan ke piring saat mendengar ucapan suaminya, hingga dia membalas ucapan Arlan tanpa memandang ke pria itu.


“Ga usah ngambek, atau jatahmu aku pangkas hanya sebulan sekali.”


__ADS_2