
Cheryl menggenggam satu tangan Orion sepanjang perjalanan mereka pergi ke rumah Lusy. Dia sangat bahagia karena Arlan yang tadinya bersikeras ingin mereka berpisah, kini akhirnya merestui hubungan mereka. Bahkan Cheryl melihat ayah mertuanya itu sudah tidak lagi kecewa kepada Orion, mungkin karena pemuda itu juga tidak melakukan hal yang membuat kedua orangtuanya malu.
“Papi sudah setuju, bagaimana kalau Mom tidak?” tanya Orion sambil fokus menyetir, satu tangan masih digenggam Cheryl, meski sesekali dilepas, saat Orion ingin memindah gigi persneling.
“Kalau Mom tidak setuju, aku tetap tidak akan bercerai darimu. Tapi aku yakin kalau Mimi, Papi, dan Daddy, tidak akan memaksa kita berpisah,” ucap Cheryl penuh keyakinan.
Lusy yang paling keras kepala dari semua orangtua Cheryl, sehingga membuat Orion kini cemas jika sampai Lusy yang tiba-tiba tidak setuju dengan hubungan mereka.
“Kita berjanji akan menjalani ini sama-sama, jadi apa pun yang terjadi, kita akan menghadapi sama-sama,” ucap Cheryl mencoba meyakinkan dan menenangkan hati Orion. Bahkan dia mengusap lembut lengan pemuda itu.
Mobil mereka akhirnya sampai di rumah Lusy, Orion langsung memarkirkan mobil di depan garasi, sebelum kemudian turun bersama Cheryl dan berjalan bersama menuju rumah.
Di sana ternyata hanya ada Lusy dan Zayn, mereka memang menanti keduanya datang di ruang keluarga.
__ADS_1
Orion sedikit merasa canggung, terlebih tatapan Lusy yang baginya sangat membuat gelisah. Mungkin karena sejak awal Lusy tidak menyukainya, belum lagi Orion juga sedang dalam masa uji coba.
“Duduklah.” Lusy mempersilakan.
Cheryl dan Orion duduk bersama, Cheryl terus menggenggam telapak tangan Orion dan terlihat tidak berniat melepas sama sekali.
“Kalian pasti paham kenapa kami meminta kalian datang. Tapi, sebelum kami membuat keputusan, Mom ingin tanya satu hal ke kamu, Cher.” Lusy menatap Cheryl yang terlihat gugup.
Cheryl mempererat genggaman tangan ke Orion, lantas mengangguk saat Lusy mengajaknya bicara. Terlihat jelas kalau dia gugup, padahal hanya bicara dengan orangtuanya sendiri.
“Aku tahu jika awalnya terpaksa menikah hanya demi menyelamatkan nama baikku sendiri. Tapi aku sekarang benar-benar menyayanginya, Mom. Aku ingin pernikahan kami terus dipertahankan, karena aku dan Orion sudah saling menerima.” Cheryl memotong ucapan Lusy karena takut jika sang ibu mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan keinginannya.
Lusy melongo mendengar ucapan Cheryl, hingga menebak jika putrinya pasti sudah berpikiran negatif tentangnya.
__ADS_1
“Padahal Mom mau tanya, apa kalian saling mencintai? Kalau ya, maka Mom dan Dad setuju dengan apa pun keputusan kalian,” ucap Lusy menjelaskan ucapannya yang terpotong tadi.
Cheryl tidak percaya jika Lusy akan melunak dan tidak bersikap keras, terlebih ibunya menyerahkan keputusan bagaimana jalan pernikahan mereka ke tangannya.
Orion yang sejak tadi terlihat tegang, akhirnya bisa lega karena ucapan Lusy. Dia bersyukur karena orangtua mereka tidak ada yang meminta berpisah.
“Mommy serius?” tanya Cheryl seolah tidak percaya.
“Tentu saja serius. Mom hanya ingin kamu bahagia,” jawab Lusy meyakinkan, bahkan tersenyum begitu tulus saat memandang Cheryl dan Orion secara bergantian.
“Kami hanya ingin yang terbaik untukmu,” timpal Zayn.
Cheryl sangat bahagia, hingga berdiri dan melepas genggaman tangan Orion. Dia langsung memeluk Zayn dan Lusy bersamaan.
__ADS_1
“Terima kasih, Mom, Dad. Aku sayang kalian, banyak sayang kalian.” Cheryl sampai mencium pipi kanan dan kiri kedua orangtuanya itu untuk meluapkan kebahagiaan.