
Orion berbaring sambil menatap langit-langit kamar, beberapa hari tidur di sofa dan kini diminta tidur di ranjang, membuat Orion malah tidak tenang.
Cheryl sendiri tidur dengan posisi miring menghadap ke jendela kamar apartemennya. Dia pun belum bisa tidur tapi mencoba bersikap tenang meski merasa gugup. Seranjang lagi dengan Orion, entah kenapa membuat jantung Cheryl berdegup dengan cepat. Dia sangat yakin jika pemuda itu bukanlah yang memperkosanya, sehingga membuat Cheryl merasa lebih tenang serta tidak takut apa pun.
“Belum tidur?” tanya Orion ketika merasakan pergerakan dari Cheryl.
Cheryl memejamkan mata, hendak diam agar Orion menganggapnya tidur tapi tidak bisa. Dia pun akhirnya menggeser posisi berbaring dan menoleh Orion hingga akhirnya mereka saling tatap.
“Kamu tidak bisa tidur karena ada aku?” tanya Orion.
Cheryl tidak enak hati jika Orion sampai tahu faktanya, sedangkan dia sendiri yang menawarinya.
“Bukan, sebenarnya aku lapar,” jawab Cheryl membuat alasan.
Orion tersenyum mendengar Cheryl lapar, bukankah bagus jika wanita yang sedang hamil lebih banyak makan.
“Mau aku buatkan sesuatu?” tanya Orion lagi-lagi memberikan perhatian kecil untuk Cheryl.
“Aku mau makan salad buatan Mami,” jawab Cheryl.
“Akan aku siapkan,” kata Orion kemudian bangun untuk segera pergi ke dapur.
Cheryl ikut bangun, lantas menyusul Orion ke dapur. Dia melihat pemuda itu mengeluarkan salad dari lemari pendingin, padahal Cheryl bisa melakukannya sendiri, tapi Orion malah melakukan itu untuknya.
Cheryl menarik kursi, lantas duduk di sana sambil menunggu Orion menyajikan salad di mangkuk.
“Apa mau ditambah buah lagi? Atau mungkin susu juga keju?” tanya Orion yang cekatan menyajikan salad di mangkuk, dia tidak ingin membuat Cheryl menunggu lama.
“Tidak usah, itu sudah banyak keju. Aku takut eneg,” jawab Cheryl.
Orion menatap Cheryl, seulas senyum terpajang di wajah pemuda itu.
Cheryl berdeham melihat senyum Orion, jantungnya kembali berdegup cepat dan tatapannya tidak teralihkan dari pemuda itu.
Orion baru saja selesai menyajikan salad di mangkuk dan meletakkan di hadapan Cheryl, tapi dia menyadari jika Cheryl malah melamun.
“Cher, saladnya,” kata Orion.
Cheryl tersadar dari lamunan, hingga kemudian mengulas senyum canggung dan buru-buru mengambil sendok untuk mulai menyantap salad itu.
__ADS_1
Orion menarik kursi di hadapan Cheryl, hingga kemudian menunggu dan menemani Cheryl makan.
“Kamu suka salad?” tanya Orion agar suasana di sana sedikit terasa hangat.
“Lumayan, setidaknya salad tidak membuatku mual dan kekenyangan,” jawab Cheryl. Dia memasukan suapan demi suapan potongan buah ke mulut.
Orion masih menunggu Cheryl makan, Cheryl sendiri menunduk karena merasa Orion terus menatapnya.
Sampai Orion melihat saus salad tertinggal di ujung bibir Cheryl. Dia pun berdiri dan berjalan ke arah Cheryl duduk, kemudian mengambil selembar tisu untuk membersihkan bibir Cheryl.
Cheryl terkejut karena Orion berdiri, hingga terus menatap ke mana pemuda itu berjalan, sampai akhirnya kini Orion berdiri di samping kursinya.
“Ada saus salad di ujung bibirmu,” kata Orion.
Cheryl tidak berkata-kata, dia masih terus menatap wajah pemuda itu.
Orion membungkukkan badan, tangan yang memegang tisu terarah ke bibir untuk membersihkan saus salad yang tertinggal. Namun, bukan tisu yang menyentuh bibir Cheryl, melainkan bibir Orion.
Cheryl terkejut tapi dia memilih diam saat pemuda itu menyeesap lembut ujung bibirnya. Rasanya basah, hangat, dan membuat jantung Cheryl semakin berdegup dengan cepat.
“Cher, Cheryl!” Orion memanggil nama Cheryl berulangkali karena istrinya itu melamun.
“Kenapa kamu melamun?” tanya Orion keheranan.
“Tidak ada,” jawab Cheryl sambil menerima tisu dari tangan Orion.
Cheryl pun buru-buru mengusap ujung bibirnya dengan tisu, lantas kembali melanjutkan makan.
“Oh ya, kamu tadi jadi belanja?” tanya Cheryl kembali fokus makan.
“Jadi, aku belanja beberapa bahan makanan dan stok untuk kamar mandi,” jawab Orion.
“Kalau belanja, kenapa aku tidak menerima konfirmasi pemakaian kartuku. Apa kamu tidak memakainya?” tanya Cheryl keheranan.
Orion mengulas senyum, sebelum kemudian menjawab, “Kamu tidak menyebutkan sandinya, bagaimana bisa aku memakainya.”
Cheryl langsung tersedak mendengar ucapan Orion, bagaimana bisa dia begitu bodoh dengan memberikan kartu tanpa sandi.
Orion terkejut melihat Cheryl terbatuk, hingga kemudian mengambil segelas air untuk sang istri.
__ADS_1
Cheryl menerima gelas dari Orion, lantas menenggak isinya dengan cepat untuk melegakan tenggorokan.
Orion mengulum senyum, merasa jika tingkah Cheryl saat ini sangat lucu.
Cheryl malu bukan kepalang, sungguh dia terlihat begitu bodoh di hadapan Orion.
“Maaf, aku lupa. Kamu sendiri kenapa tidak menghubungi dan tanya sandinya?” tanya Cheryl untuk menutupi rasa malunya.
“Aku takut kamu sibuk, jadi memilih menggunakan uangku dulu,” jawab Orion.
Cheryl menatap Orion, sungguh pemuda itu benar-benar baik dan tidak berniat memanfaatkannya sama sekali.
“Lain kali pakai kartu itu untuk belanja, berhenti menggunakan uangmu. Kalau tidak, aku akan mentransfer uang yang kamu keluarkan untuk belanja,” kata Cheryl.
Orion mengulas senyum, kemudian membalas, “Tidak perlu, anggap saja kali ini aku bayar, besok kamu yang bayar.”
“Kamu yakin?” tanya Cheryl. Dia hanya takut kalau Orion kehabisan uang, karena uang jatahnya digunakan untuk membeli kebutuhan rumah.
“Iya, aku yakin.” Orion mengangguk-angguk.
Cheryl pun kembali menyantap saladnya, hingga kemudian dia kembali berhenti makan.
“Kamu tidak tanya berapa sandinya?” tanya Cheryl karena merasa Orion sebenarnya sengaja tidak ingin mengetahui sandi kartu debitnya.
“Kamu tidak memberitahu, jadi aku tidak tanya,” jawab Orion santai. Dia menyangga dagu dengan telapak tangan kanan, sedangkan siku bertumpu di meja.
“Kamu sengaja tidak bertanya, ‘kan.” Cheryl memicingkan mata, sikapnya saat ini menunjukkan bagaimana wanita itu yang sebenarnya.
Setelah menikah, Cheryl membatasi berinteraksi dengan Orion, tampaknya kali ini Cheryl mulai membuka hati dengan mencoba bersikap biasa dan santai ke Orion.
“Sebenarnya aku merasa berdosa jika memakai uangmu,” kata Orion masih dengan tatapan terus tertuju ke Cheryl.
“Kenapa? Lagi pula kamu belanja bukan untuk keperluan rumah saja, tapi keperluanku juga. Jadi menurutku sah-sah saja jika kamu memakai uangku, Ion.” Cara bicara Cheryl benar-benar berubah, terlihat santai dan lebih banyak kata.
Orion tersenyum, senang karena akhirnya Cheryl bersikap seperti dulu. Terbuka dan tidak terlalu memendam, apalagi irit kata.
“Tapi itu tugasku, tugasku menghabiskan uang untuk kebutuhan rumah. Tugasku pula untuk memastikan memberikan uang untukmu, bukan sebaliknya,” ujar Orion kemudian, semakin berusaha mengajak Cheryl bicara agar istrinya juga banyak bicara.
“Kenapa hanya jadi tugasmu, apa aku tidak boleh menanggung tugas itu?” tanya Cheryl yang tidak mau kalah dengan ucapan Orion.
__ADS_1
“Karena aku suami, kepala keluarga, jadi aku bertanggung jawab menafkahimu, bukan sebaliknya.”