Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Masalah


__ADS_3

Cheryl duduk sambil memperhatikan Orion. Dia menyangga dagu dan terus menatap sang suami yang sedang sibuk mencuci piring.


“Lama-lama aku benar-benar akan jadi pemalas, Ion,” ucap Cheryl dengan senyum kecil di wajah.


Orion menoleh dan mengulas senyum, kemudian kembali menghadap ke wastafel.


“Kenapa jadi pemalas?” tanya Orion meski paham maksud ucapan istrinya.


“Bagaimana aku tidak akan jadi pemalas, sedangkan punya suami yang sangat memanjakanku. Bahkan melarangku melakukan pekerjaan rumah,” jawab Cheryl masih menyangga dagu dan menatap kagum ke sang suami.


Orion tersenyum mendengar ucapan Cheryl, hingga mematikan air dan kini membalikkan badan. Dia menatap Cheryl yang masih terus memandangnya.


“Kamu merasa aku sangat baik dan penyayang?” tanya Orion ke Cheryl.


Cheryl mengangkat dagu dari telapak tangan yang menyangga, lantas menegakkan tubuh, sebelum kemudian menganggukkan kepala.


Orion tersenyum semakin lebar, sebelum kemudian membuka kedua tangan dan berkata, “Kalau begitu jangan pernah dilepas.”


Cheryl tertawa kecil, lantas bangun dari duduknya. Dia pun berjalan cepat ke arah Orion dan masuk ke dalam pelukan suaminya.


Orion senang karena Cheryl ternyata peka dengan gerakan yang dibuatnya, lantas memeluk dan menyandarkan dagu di pucuk kepala Cheryl.


“Bagaimana bisa aku melepas suamiku yang sangat manis dan baik hati ini,” ucap Cheryl sambil memeluk erat Orion.


“Hmm … dan aku tidak akan melepas istriku yang sangat manja.”

__ADS_1


Ucapan Orion membuat Cheryl tertawa. Keduanya benar-benar sudah saling mencintai, tidak sadar sudah terikat sejak lama dan kini baru membuka diri untuk saling memiliki.


Saat keduanya masih saling memeluk, ponsel Orion yang berada di atas meja berdering.


“Biar aku angkat sebentar,” kata Orion sambil melepas pelukan.


Cheryl mengangguk, kemudian sedikit menyingkir dari suaminya. Dia merapikan rambut sambil memperhatikan Orion yang sedang mengambil ponsel.


Orion menjawab panggilan itu karena dari nomor salah satu staf di kampus.


“Halo.”


“Orion Wijaya.”


“Ya, benar.”


“Baik,” balas Orion.


Cheryl memperhatikan dan menyadari kalau Orion terlihat serius.


“Ada apa?” tanya Cheryl.


“Pihak kampus ingin aku datang, katanya ada masalah dan aku tidak tahu apa itu,” jawab Orion dengan ekspresi wajah sedikit bingung. Mana mungkin pihak kampus memintanya datang hanya karena dia ambil cuti.


“Apa ada masalah serius?” tanya Cheryl cemas.

__ADS_1


“Tidak tahu, aku akan datang ke kampus. Apa kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal?” tanya Orion balik karena mencemaskan kondisi Cheryl.


“Aku ingin ikut.”


**


Orion pergi ke kampus bersama Cheryl, mereka sudah sampai di parkiran dan Orion siap turun.


“Kamu tunggu di mobil saja, aku tidak akan lama,” kata Orion sebelum keluar.


“Apa kamu yakin?” tanya Cheryl yang tiba-tiba merasa memiliki firasat buruk.


“Iya, kamu jangan cemas. Pasti hanya masalah kecil, tunggu di sini atau kalau bosan kamu bisa jalan-jalan di taman sekalian mencari udara segar,” jawab Orion sambil mengusap pipi Cheryl. Apa pun masalah yang akan dihadapinya, Orion hanya tidak ingin membuat Cheryl cemas jika mengetahuinya. Dia sendiri awalnya tidak ingin mengajak Cheryl, tapi karena istrinya terus memaksa, membuat Orion terpaksa mengajak.


“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa, kamu harus cepat-cepat menghubungiku,” pinta Cheryl.


“Oke.” Orion terlihat bersemangat agar Cheryl tidak cemas.


Orion pun akhirnya keluar dari mobil dan meninggalkan Cheryl. Cheryl sendiri terus memandang Orion yang berjalan ke arah gedung dekan di fakultas itu.


Cheryl terlihat cemas, takut kalau panggilan dari kampus karena ada masalah besar. Namun, Orion melarangnya ikut, mungkin kehadirannya akan semakin mempersulit sang suami.


Hingga saat Cheryl masih duduk di mobil, dia melihat mobil melintas di depannya kemudian berhenti tidak jauh dari tempat mobilnya berhenti. Cheryl iseng mengamati, hingga melihat siapa yang keluar dari mobil itu.


“Papi.” Cheryl melihat Arlan keluar dari mobil.

__ADS_1


Cheryl terus mengamati Arlan yang berjalan ke gedung dekan, sama dengan Orion pergi.


“Kenapa Papi juga datang, apa ada masalah serius?”


__ADS_2