Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Jika kamu pelakunya


__ADS_3

Orion berhenti melangkah saat melihat siapa yang sedang duduk di depan ruangan konsultasi seorang psikiater. Dia mendapatkan pesan dari Joya jika mengantar Cheryl ke psikiater, membuat pemuda itu akhirnya menyusul karena sudah tidak ada kelas setelah itu.


“Mi.” Orion menyapa Joya dengan sedikit mengangguk ke wanita itu juga Lusy, tapi tidak berani menyebut Lusy karena belum mendapatkan izin.


Lusy hanya melirik sekilas, dia masih membenci karena perbuatan Orion yang sudah menghancurkan masa depan putrinya.


“Kamu sudah datang, duduklah!’ Joya menepuk kursi di sampingnya.


Orion pun duduk di sana, lantas menatap ke pintu ruangan tempat Cheryl berada.


“Dia sedang melakukan konsultasi, mungkin sebentar lagi keluar,” kata Joya.


Orion hanya mengangguk dan tersenyum tipis, dia melirik Lusy yang memalingkan muka darinya.


Joya pun melihat sikap Lusy yang benar-benar tidak menyukai Orion, hingga menghela napas kasar dan memilih untuk mengajak bicara berdua dengan Lusy.


“Orion, kamu tungguin Cheryl sampai keluar, ya. Mimi ada perlu sebentar sama Mommy.”


Orion mengangguk menanggapi ucapan Joya. Joya pun mengajak Lusy berdiri, meski temannya itu tidak mau dan harus dipaksa.


“Ada apa sih, Joy? Kenapa kamu memberitahunya?” tanya Lusy yang benar-benar menunjukkan rasa tidak senangnya.


Mereka kini sudah berada jauh dari ruangan praktek psikiater yang menangani Cheryl.


“Lu, kamu seharusnya tidak bersikap begitu ke Orion,” ujar Joya mengingatkan.


“Kenapa? Aku hanya merasa jika belum bisa menerimanya,” balas Lusy sambil bersedekap dada. Sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi putrinya, Lusy hanya ingin yang terbaik untuk Cheryl. Termasuk dalam hal pasangan, tidak pernah terbayangkan oleh Lusy jika Cheryl akan mendapatkan lelaki bejat yang memanfaatkan hanya demi kepuasan.


“Tapi Cheryl menerimanya, seharusnya kamu bisa menerima juga keputusan Cheryl. Jangan buat dia sedih dengan sikapmu yang terang-terangan tidak menyukai suaminya,” ujar Joya menasihati.


“Cheryl mau menikahinya karena terpaksa, andai Cheryl tidak hamil duluan. Aku yakin jika Cheryl tidak akan menikah dengan pemuda itu,” bantah Lusy masih tidak mau mendengar nasihat Joya.


Joya menghela napas kasar, lantas mengusap lengan Lusy.


“Aku lihat Orion adalah pemuda yang baik. Dia juga sangat perhatian dan menyayangi Cheryl, melunaklah dan mengalah, jangan tinggikan egomu. Apa kamu tidak ingat bagaimana rasanya dibenci mertua? Apa kamu lupa kalau pernah mengalami hal sama seperti Orion?” tanya Joya mengingatkan akan masa lalu temannya.


Lusy terkejut mendengar pertanyaan Joya, tapi tentunya mencoba mengelak.


“Ini beda, Joy. Kasusku dan dia beda,” sanggah Lusy.


“Sama saja, sama-sama tidak disukai mertua. Bedanya, kamu dulu jadi mantu, sekarang yang jadi mertua,” ujar Joya.

__ADS_1


Lusy kalah telak bicara dengan teman juga ibu angkat dari putrinya itu, membuat Lusy akhirnya memilih diam.


Di sisi lain. Orion masih menunggu Cheryl keluar, hingga akhirnya pintu terbuka dan Cheryl terlihat agak buruk saat keluar dari sana.


Orion langsung berdiri untuk menyambut Cheryl, sedangkan wanita itu tampak terkejut dengan keberadaan Orion di sana.


“Kamu di sini, apa tidak kuliah? Mana Mimi dan Mommy?” tanya Cheryl saat tidak mendapati kedua ibunya di sana.


“Mimi bilang ada keperluan sebentar dengan Mommy, jadi dia memintaku menunggumu di sini,” jawab Orion.


Cheryl merasa kepalanya pusing, hingga memilih untuk duduk dulu sambil menunggu kedua ibunya.


“Bagaimana pemeriksaannya? Apa semua baik-baik saja?” tanya Orion mencoba menunjukkan perhatiannya.


“Jika benar kamu pelakunya, kamu pasti tahu apa yang aku rasakan,” ujar Cheryl menjawab pertanyaan Orion.


Orion diam mendengar ucapan Cheryl, memilih untuk tidak bicara lagi tentang hasil pemeriksaan psikologi istrinya itu.


Cheryl melirik Orion, hatinya masih berkata jika pemuda itu bukanlah pelakunya. Orion tidak akan menghindari tentang pembahasan malam itu, jika memang dia yang melakukannya.


Keduanya menunggu Joya dan Lusy kembali ke sana, tapi sampai setengah jam mereka menunggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan keduanya.


“Aku akan coba telepon Mommy,” kata Cheryl karena merasa menunggu sangat lama.


[Mimi dan Mommy ada keperluan mendadak. Kamu pulang bersama Orion tidak apa-apa, ‘kan?]


Cheryl menghela napas kasar, tampaknya sang mimi memang sengaja meninggalkannya bersama Orion.


“Mereka ternyata pergi duluan,” kata Cheryl.


Cheryl menoleh Orion yang hanya diam sambil mengangguk.


“Jika kamu ada kelas, aku akan pulang sendiri,” ucap Cheryl kemudian.


“Aku sudah tidak ada kelas. Kita pulang bersama,” ujar Orion.


Cheryl mengangguk, menyematkan tali tas di pundak, kemudian berdiri meski kedua kakinya sedikit lemas.


Orion melihat Cheryl yang berdiri tidak stabil, ingin membantu berjalan tapi takut jika membuat istrinya itu terkejut atau ketakutan. Akhirnya Orion hanya berjalan di belakang Cheryl, mengantisipasi jika tiba-tiba Cheryl jatuh.


Keduanya pun keluar dari klinik psikiater, lantas naik taksi untuk sampai ke apartemen.

__ADS_1


“Apa kamu mau mampir membeli sesuatu?” tanya Orion karena Cheryl hanya diam sejak tadi.


“Tidak perlu, aku ingin langsung pulang dan tidur,” jawab Cheryl tanpa menoleh Orion. Dia duduk sambil menatap keluar jendela, melihat mobil yang lewat berpapasan dengan taksi itu.


Orion pun tidak bertanya lagi, memilih diam hingga taksi yang membawa mereka sampai di apartemen.


Begitu sampai di apartemen, Orion langsung masuk dapur dan membuatkan makan siang untuk Cheryl. Wanita itu tidak pernah mengatakan ingin makan apa, membuat Orion memasak seadanya.


Cheryl sendiri masuk kamar untuk beristirahat. Dia sebenarnya masih memikirkan Orion yang mengelak dari pertanyaannya. Cheryl benar-benar yakin jika itu bukan Orion, tapi kenapa pemuda itu masih bersikukuh jika melakukannya.


Semua yang terjadi benar-benar membuat kepala Cheryl pusing, hingga akhirnya dia memilih merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Entah berapa lama Cheryl memejamkan mata, hingga terdengar suara Orion yang memanggil namanya.


“Cher, Cheryl. Makanlah dulu, baru kemudian tidur.” Suara Orion membangunkan Cheryl dari mimpi.


Cheryl membuka kelopak mata, hal pertama yang dilihatnya kini adalah wajah manis pemuda itu.


“Makan siangnya sudah siap, makanlah dulu,” ucap Orion.


Cheryl mengangguk-angguk, mencoba bangun di tengah kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. Seperti biasa, Orion tidak berani menyentuh, hanya berjaga di belakang saat Cheryl berjalan.


Cheryl mencium aroma masakan yang menggugah selera ketika baru saja menginjak ruang makan. Meski tidak semewah masakan restoran bintang lima, pada kenyataannya masakan Orion sesuai lidah Cheryl.


“Aku hanya membuat ikan panggang, beserta salad.” Orion langsung membuka piring untuk Cheryl, benar-benar memberikan perhatiannya untuk wanita itu.


“Terima kasih,” ucap Cheryl saat Orion juga mengambilkan nasi untuknya.


Orion senang karena Cheryl mau makan, setidaknya ada asupan makanan yang masuk ke lambung istrinya dan akan sedikit membantu proses pemulihan kondisi tubuh.


Cheryl mulai makan apa yang dihidangkan Orion, lidahnya merasakan manis gurih bumbu yang menyatu dengan ikan panggang buatan pemuda berstatus mahasiswa itu.


“Kamu suka?” tanya Orion sambil memperhatikan Cheryl makan.


Cheryl hanya mengangguk-angguk tanpa berkomentar, mulutnya sibuk mengunyah, sedangkan satu tangan menahan rambut yang hampir jatuh ke piring.


Orion melihat Cheryl yang sedikit terganggu dengan rambutnya, lantas buru-buru berlari ke kamar untuk mengambil ikat rambut dan kembali ke meja makan.


Cheryl terkejut melihat Orion yang pergi meninggalkannya di meja makan, hingga melihat kembali pemuda itu datang.


Orion berjalan ke belakang Cheryl lantas berdiri di sana. Cheryl terdiam karena tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.

__ADS_1


Saat Orion menyentuh rambut dan membawanya ke belakang, jantung Cheryl tiba-tiba berdegup dengan cepat. Orion mulai mengikat rambut Cheryl, hal itu membuat wanita yang berprofesi sebagai direktur utama bagian pemasaran itu benar-benar diam dan tidak berani bergerak sama sekali.


__ADS_2