
Lusy pergi ke perusahaan untuk melihat kondisi putrinya yang sedang hamil. Hanya karena belum bisa menerima Orion, membuat Lusy jadi malas menemui putrinya sendiri meski cemas.
“Mom.”
Cheryl sangat senang saat melihat kedatangan Lusy. Dia langsung berdiri dan menghampiri, sebelum kemudian memeluk erat wanita yang sudah melahirkannya.
“Mom ke sini kenapa tidak beritahu dulu?” tanya Cheryl sambil mengajak ibunya duduk.
“Apa sekarang Mom melihatmu pun harus mendapatkan izin?” tanya Lusy berpikiran negatif soal pertanyaan putrinya.
Cheryl merasa salah bicara, sehingga memilih tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala.
“Apa Mom dari ruangan Daddy?” tanya Cheryl saat keduanya sudah duduk bersama.
“Daddy-mu sedang rapat di luar, jadi Mom memilih ke sini untuk melihat kondisimu,” jawab Lusy.
Cheryl mengangguk-angguk mendengar jawaban Lusy.
“Bagaimana kondisimu sekarang? Apa masih ke psikiater lagi?” tanya Lusy mengutarakan kecemasannya.
“Aku sudah lebih baik, mungkin akan ke psikiater lagi sampai dokter menyatakan aku baik-baik saja,” jawab Cheryl.
Bagi sebagian orang, ke psikiater seperti terkena gangguan jiwa, padahal konsultasi memang diperlukan demi menjaga kondisi mental. Meski tidak memiliki gangguan jiwa, tapi Cheryl membutuhkan itu untuk menjaga mentalnya tetap sehat.
“Baguslah kamu baik-baik saja,” ucap Lusy lega. “Apa pria itu jahat kepadamu saat kalian hanya berdua?” tanya Lusy kembali mencurigai Orion.
__ADS_1
“Pria? Orion?” tanya Cheryl dengan dahi berkerut.
Saat Lusy membahas soal Orion, saat itulah pemuda itu berhenti untuk mengetuk pintu karena mendengar perbincangan Lusy dan Cheryl karena ruangan Cheryl tidak kedap suara.
“Ya siapa lagi? Kamu kira Mommy akan menerimanya? Bagi Mommy, dia tetap pria bejad yang memanfaatkan dan juga telah menghancurkan hidupmu!” Lusy kembali emosi jika mengingat bagaimana masa depan putrinya hancur dan harus terpaksa menikah dengan seorang mahasiswa.
Cheryl meringis mendengar suara keras Lusy, hingga mengusap lengan Lusy untuk menenangkan.
“Mom, jangan berkata seperti itu.” Cheryl mencoba membujuk Lusy agar tidak terus berpikiran buruk ke Orion.
“Ion sangat baik kepadaku, Mom. Dia yang selalu memastikan kondisi dan juga kesehatanku. Dia sangat bertanggung jawab,” ujar Cheryl memuji agar ibunya tidak terus berpikiran negatif.
Lusy membuang napas menggunakan mulut kemudian tersenyum miring untuk mencibir.
“Dia itu bersikap demikian hanya karena merasa bersalah. Mom tidak yakin kalau dia benar-benar peduli dan bertanggung jawab denganmu,” ujar Lusy masih belum bisa menerima perbuatan Orion ke Cheryl.
“Mom, Ion benar-benar peduli. Dia memperhatikan hal-hal kecil yang aku butuhkan dan lakukan. Dia tidak pernah melupakan apa yang aku butuhkan, bahkan dia tahu semua tentang hal-hal yang aku sukai,” ucap Cheryl mencoba meyakinkan agar ibunya tidak terus membenci Orion.
Lusy menatap Cheryl, merasa jika ada yang berbeda dari cara bicara putrinya, bahkan tampak begitu jelas kalau Cheryl sangat sangat membela, sedangkan tahu apa yang sudah diperbuat oleh pemuda itu kepadanya.
“Cher, jangan bilang kamu mulai menyukai pria itu!” Lusy mencoba menebak dengan tatapan penasaran.
Cheryl terkesiap dengan pertanyaan sang mommy, sampai-sampai menelan ludah susah payah karena panik.
“Cher, kamu menyukainya?”
__ADS_1
Di luar ruangan. Orion masih mendengarkan percakapan di dalam sana. Hingga kedua sudut bibir pemuda itu tertarik ke atas dan menciptakan lengkungan kecil saat mendengar pertanyaan Lusy, berharap Cheryl menjawab jika memang menyukai dirinya, hal yang sangat diharapkan sejak bertahun-tahun lalu.
Mely memperhatikan Orion, menatap pemuda itu yang hanya diam dan tidak kunjung masuk, membuat Mely berpikir apakah Orion mendengar hal yang tidak mengenakan dari dalam ruangan Cheryl.
Mely pun akhirnya berinisiatif mengirimkan pesan ke Cheryl, hanya berpikir untuk memberitahu atasannya kalau sang suami sudah di depan ruangan dan jangan sampai mendengar hal-hal yang bisa membuat keduanya bertengkar. Bukankah mulia sekali niatan Mely.
Di dalam ruangan, Cheryl gelagapan mendengar pertanyaan Lusy, sedangkan sang mommy menatapnya penuh curiga dan rasa tidak senang.
“Katakan! Kamu benar-benar menyukainya sekarang? Menyukai bajingan yang sudah menghamilimu?” tanya Lusy dengan penekanan.
Cheryl hendak membuka mulut untuk menjawab, tapi ponselnya berdering dan dia memilih melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya. Hingga Cheryl terkejut dengan bola mata membulat lebar saat membaca pesan Mely.
“Ion di depan.” Cheryl menatap sang mommy dengan wajah panik.
Lusy tidak terkejut dan malah terlihat santai.
“Memangnya kenapa kalau dia di depan? Kamu takut dia mendengar perbincangan kita?” tanya Lusy sambil menyipitkan mata.
Cheryl malah salah tingkah, hingga meminta ibunya untuk bangun.
“Ion datang karena membelikan aku salad. Mom ke kantor Daddy dulu, biar Ion nyaman di sini,” ucap Cheryl sedikit panik, memikirkan perasaan Orion jika ada ibunya di sana.
Mulut Lusy menganga tidak percaya mendengar ucapan Cheryl, bisa-bisanya putrinya memikirkan perasaan Orion dan mengabaikan perasaannya.
“Cheryl! Kamu ngusir Mommy!” Lusy menatap tidak senang.
__ADS_1
Cheryl nyengir kuda, lantas berkata, “Bukankah seorang istri harus berbakti ke suami dan mengutamakannya.”