Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Percaya


__ADS_3

Cheryl berdiri memandang paper bag berisi pakaian Orion. Mereka sudah berada di rumah orangtua Cheryl, kini Orion sedang mandi dan Cheryl menunggu di kamar.


Cheryl mengingat bagaimana tadi Gaby terus memegang ujung kemeja Orion, entah kenapa hal itu sangat mengganggunya.


Cemburu, jelas Cheryl merasakan itu. Namun, dia wanita dewasa yang terbiasa bersikap tenang menghadapi masalah, tidak mungkin tadi dirinya marah di mobil karena Gaby terkesan menempel ke Orion.


Meski terbiasa menghadapi masalah dengan kondisi tenang, tapi entah kenapa kali ini Cheryl benar-benar merasa kesal dan ingin marah, tapi masih ditahan.


Terdengar suara pintu terbuka, Cheryl menoleh ke pintu kamar mandi dan melihat Orion yang baru saja selesai mandi dan masih memakai pakaian yang tadi dikenakan.


“Aku membawakanmu pakaian, kenapa malah masuk tanpa membawanya,” kata Cheryl sambil mengulurkan paper bag yang dipegangnya.


“Terima kasih,” ucap Orion mengambil paper bag berukuran besar dari tangan Cheryl.


Ternyata Cheryl tidak hanya membawakan pakaian, tapi lengkap dengan segala kebutuhan Orion.


“Aku ganti baju dulu,” kata Orion dan langsung mendapatkan balasan sebuah anggukan dari Cheryl.


Beberapa saat kemudian, Orion keluar dari kamar mandi, melihat Cheryl yang masih duduk di tepian ranjang.

__ADS_1


“Kenapa belum tidur?” tanya Orion.


“Apa kamu lapar?” Cheryl malah melontarkan pertanyaan lain ke Orion.


“Aku tadi sudah makan,” jawab Orion. Pemuda itu memandang Cheryl, hingga melihat wajah sang istri terlihat kecewa. “Kenapa? Apa kamu belum makan?” tanya Orion menebak hanya melihat dari ekspresi wajah Cheryl.


Cheryl menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah sedikit kecewa.


Orion sangat terkejut karena mengetahui Cheryl belum makan malam.


“Kenapa belum makan?” jawab Orion merasa bersalah.


“Aku menunggumu, tidak kusangka kamu sudah makan,” jawab Cheryl.


“Ayo makan!” ajak Orion.


“Kamu ‘kan sudah makan,” kata Cheryl sambil menatap Orion yang berdiri di hadapannya.


“Aku akan makan lagi menemanimu. Maaf karena tidak tahu kamu menungguku,” ucap Orion merasa bersalah.

__ADS_1


Cheryl senang karena Orion cukup perhatian, meski sempat kesal karena Orion mementingkan temannya. Dia pun meraih telapak tangan Orion, kemudian berdiri dan berjalan bersama suaminya menuju dapur.


Ternyata makan malam yang disiapkan pembantu rumah orangtua Cheryl masih ada, tinggal memanaskan dan siap disantap.


“Masih panas, hati-hati.” Orion menyajikan sup untuk Cheryl.


Keduanya duduk bersama dan siap makan malam meski terlambat.


Saat keduanya sedang makan bersama, Lusy keluar kamar untuk mengambil minum. Langkahnya terhenti saat melihat cahaya dari ruang makan, lantas mengintip dan memperhatikan Cheryl yang sedang makan bersama Orion.


Cheryl dan Orion sendiri tidak mengetahui kedatangan Lusy, keduanya masih sibuk makan, bahkan terlihat sesekali Orion menyuapi Cheryl.


“Mau dagingnya?” tanya Orion.


Cheryl mengangguk-angguk manja, membuka mulut agar suaminya itu menyuapi. Orion tentu saja dengan senang hati menyuapi Cheryl seperti biasanya, begitu telaten menuruti sikap manja Cheryl jika memang berdua dengannya.


Lusy memperhatikan putri dan menantunya, menyentuh dada karena ada perasaan aneh yang merayap di sana. Melihat betapa perhatiannya Orion ke Cheryl, membuat Lusy kini percaya kalau Orion mencintai dan menyayangi Cheryl dengan sepenuh hati.


“Ada saos di ujung bibirmu.” Orion mengambil tisu, kemudian mengusap ujung bibir Cheryl.

__ADS_1


“Terima kasih, Ion.” Cheryl mengucapkan kata itu dengan nada manja, sebelum kemudian mengakhirinya dengan gelak tawa.


Tentu saja sikap manja Cheryl, cukup membuktikan ke Lusy kalau putrinya memang nyaman dan senang bersama Orion.


__ADS_2