
Orion berdiri di belakang meja kasir, satu tangan memegang gelas, sedangkan tangan satunya mengelap perlahan. Pemuda itu melamun sambil terus tersenyum.
Teman kerja Orion memperhatikan pemuda itu, hingga menyandarkan pinggang di tepian meja, lantas bersedekap dan memandang Orion dari samping.
“Jinnya sudah keluar belum?” tanya teman Orion bernama Bima karena iseng.
Orion terkejut mendengar pertanyaan Bima, hingga menoleh ke temannya.
“Jin apa?” tanya Orion bingung.
“Itu, jin penunggu gelas. Kamu dari tadi menggosoknya hampir setengah jam, kupikir jinnya pasti capek digosok jadi keluar,” seloroh Bima menjawab pertanyaan Orion.
Orion terlihat malu karena ketahuan melamun dan mengelap gelas sampai mengkilap, hingga kemudian memilih meletakkan gelas yang sejak tadi dipegangnya.
“Sejak datang tadi, kamu terlihat begitu bahagia. Apa ada hal yang membuatmu sesenang itu?” tanya Bima penasaran.
Orion terlihat malu dan menundukkan kepala, mengingat kejadian di kantor Cheryl, membuat wajahnya merona.
“Tidak ada, hanya senang saja karena tadi bisa makan siang bersama istriku,” jawab Orion mengungkapkan statusnya ke Bima jika sudah beristri.
Bima langsung tersedak ludah mendengar jawaban Orion, bukankah rekan kerjanya itu masih kuliah, lantas bagaimana bisa Orion sudah menikah.
“Bukankah kamu masih kuliah! Jangan-jangan istri yang kamu maksud itu adalah kekasih.” Bima mencebik karena menganggap jika dikerjai Orion.
“Bukan kekasih. Dia benar istriku,” jawab Orion yang tampaknya ingin go public akan status sebenarnya.
Bima benar-benar tidak percaya dan langsung menegakkan badan memandang Orion.
“Mahasiswa menikah masih bisa belajar, jadi apa salahnya,” ucap Orion lagi karena Bima masih tidak percaya kalau dia sudah menikah.
“Orion, kamu tidak bercanda?” tanya Bima memastikan.
“Aku serius. Aku bekerja juga sebenarnya untuk memberinya nafkah,” jawab Orion dengan senyum yang tidak pudar dari wajah.
__ADS_1
“Tunggu!” Bima mengangkat tangan di depan dada Orion. Pria itu masih tidak percaya jika Orion sudah menikah.
“Jangan bilang istrimu juga seorang mahasiswi?” Bima mencoba menebak, hanya tidak percaya kalau Orion yang masih kuliah dan berumur dua puluh tahun ternyata sudah menikah.
“Bukan, dia sudah bekerja di perusahaan ayahnya. Aku tidak mungkin membiarkan dia bekerja sendiri dan aku hanya belajar, jadi aku mencoba menjadi suami yang baik,” ucap Orion menjelaskan.
Mulut Bima menganga tidak percaya, seolah semua fakta yang didengarnya tidak nyata.
“Belum lagi, istriku sedang hamil, jadi aku harus berusaha lebih keras untuk mencukupi kebutuhannya,” ungkap Orion lagi, tidak malu atau berniat menyembunyikan status dan hubungannya dengan Cheryl.
“Hamil? Daebak, jangan-jangan kalian menikah karena dia ….” Bima menghentikan ucapannya, lantas membuat gerakan melambung di depan perut.
“Ya.” Orion mengiakan saja.
Bima tampak syok, tidak menyangka kalau tampang manis seperti Orion ternyata bisa seliar itu.
“Kamu ternyata tidak sepolos yang dilihat,” cibir Bima pada akhirnya karena tidak bisa berkata-kata dengan fakta yang didengar.
Orion hanya tertawa kecil, kemudian memilih melanjutkan pekerjaannya.
**
Hingga Cheryl menyentuh bibir yang berpoles lipstik berwarna nude, pikirannya menerawang ke kejadian siang tadi saat bersama Orion.
Siang, saat makan bersama.
Orion menatap Cheryl yang mengucapkan terima kasih kepadanya, hingga menurunkan pandangan dan menatap ke telapak tangan yang digenggam Cheryl. Dia pun akhirnya ikut menggenggam tangan yang begitu halus itu.
“Jangan berterima kasih, mencintai tidak pernah butuh kata terima kasih,” ucap Orion dengan senyum manis di wajah.
Orion terlihat tenang, meski jantungnya kini sedang berdegup dengan cepat.
Cheryl pun merasakan hal yang sama, bahkan ingin bernapas saja tiba-tiba terasa sesak.
__ADS_1
“Cheryl.”
“Ya.”
Cheryl menatap Orion yang sudah memandangnya.
“Apa kesepakatan kita masih berlaku?” tanya Orion ke Cheryl.
“Yang mana?” tanya Cheryl balik.
“Semuanya.”
Cheryl mengulum bibir, kemudian menggelengkan kepala.
“Jika kamu tidak dendam denganku, aku ingin memulai semuanya dari awal,” ucap Cheryl pada akhirnya, mencoba membuka hatinya untuk seorang pria.
Orion semakin mempererat genggamannya, terlihat begitu gugup karena ucapan Cheryl.
“Apa ini sebuah pengakuan? Bukankah kamu tidak mau punya pacar yang lebih muda darimu?” tanya Orion dengan nada candaan.
Cheryl tertawa mendengar pertanyaan Orion yang menyindir dirinya, hingga kemudian menjawab, “Aku memang tidak mau punya pacar yang lebih muda dariku, tapi aku saat ini ingin punya suami yang lebih muda dariku.”
Jawaban Cheryl adalah sebuah pengakuan atas perasaannya. Dia bukannya tidak menyukai Orion, hanya saja mencoba mengelak jika menyukai pria yang lebih muda darinya.
Orion tidak tahu harus memeluk, melompat, atau melakukan apa. Hatinya terlalu bahagia karena ungkapan perasaan Cheryl.
Cheryl menatap Orion yang tersenyum tapi juga terlihat kebingungan, hingga dia mendekat dan mengecup sekilas bibir suaminya.
“Hadiahku, untuk perubahan status kita. Apa kamu benar-benar bisa menerimaku sebagai istrimu?
Orion terkejut sampai tidak bisa berkata-kata, hingga memandang Cheryl yang baru saja mengecup bibirnya. Dia pun mengangguk-angguk dan menerima semuanya.
**
__ADS_1
Cheryl kembali dari ingatan, wajahnya begitu merah saat mengingat apa yang dilakukannya tadi, bagaimana bisa dia mencium pemuda itu duluan.
“Ini memalukan.”