
Cheryl tidur dengan posisi miring, membelakangi Orion yang tidur satu ranjang dengannya. Meski dia yang menawari pemuda itu untuk tidur satu ranjang, tapi entah kenapa dia sendiri yang sekarang merasa canggung.
Kamar itu terasa begitu hening, hanya terdengar suara denting jarum jam yang berputar menunjukkan pukul satu malam.
Suara perut keroncongan tiba-tiba terdengar, Cheryl memegangi perut yang terasa lapar. Cheryl menghela napas frustasi, tidak biasanya dia lapar seperti ini di tengah malam. Kelopak matanya masih enggan terbuka, tapi cacing di perutnya terus bernyanyi.
“Kamu lapar?”
Suara Orion mengejutkan Cheryl, membuat wanita itu membalikkan badan dan menatap ke Orion yang ternyata juga sudah bangun.
“Tidak,” jawab Cheryl berdusta.
“Hm … lalu kenapa tidak tidur?” tanya Orion lagi meski sebenarnya dia tahu Cheryl lapar karena mendengar suara perut wanita itu.
“Apa kamu tidak nyaman aku tidur di sampingmu, kamu ingin aku pindah ke sofa saja?” tanya Orion lagi.
“Bukan, aku hanya ….” Baru saja akan menjawab, perut Cheryl kembali berbunyi, membuatnya memejamkan mata karena malu ketahuan jika memang lapar.
Orion tersenyum karena ternyata Cheryl benar lapar, dia pun menyalakan lampu utama kamar, lantas bangun untuk membuatkan sesuatu.
“Kamu mau aku buatkan makanan apa?” tanya Orion yang sudah berdiri, ditatapnya Cheryl yang masih berbaring.
“Tidak usah, aku tidak biasa makan saat malam hari,” jawab Cheryl setengah malu.
“Kamu sedang hamil, jika mudah lapar itu biasa. Kamu juga tidak perlu menuruti kebiasaanmu sebelumnya, karena sekarang kamu harus memikirkan asupan untuk dua nyawa,” ujar Orion panjang lebar.
Orion sudah mempelajari hal-hal tentang ibu hamil dari sebuah situs web, hanya berpikir jika itu akan bermanfaat dalam menjaga Cheryl sesuai janjinya.
Cheryl menggigit bibir bawahnya, kenapa Orion sangat perhatian kepadanya, sedangkan awalnya hanya memanfaatkannya saja.
“Mau aku buatkan sepotong roti dan susu?” tanya Orion memberikan pilihan karena Cheryl hanya diam.
Tidak mendapatkan jawaban, tapi melihat jika Cheryl memang lapar, membuat Orion memilih membuatkan apa yang ditawarkannya.
Cheryl bangun begitu Orion keluar dari kamar, rasanya aneh karena Orion memberikan perhatian berlebihan.
Orion sibuk di dapur, membuatkan roti bakar dengan selai stroberi kesukaan Cheryl. Wanita itu sebenarnya lebih suka buah ceri, tapi karena tidak ada selai cery, membuat Orion memilih mengoleskan selai stroberi.
__ADS_1
Cheryl masih duduk diam di kamar, hingga mendengar suara langkah memasuki kamar, membuatnya menoleh dan kini melihat Orion berjalan membawa sepotong roti bakar di atas piring dan segelas susu.
“Makanlah, jangan membuatmu kelaparan,” kata Orion sambil menyodorkan segelas susu dan sepiring roti.
Cheryl menerima dan meminum susu itu hingga habis setengah gelas, lantas memakan roti bakar yang dibuatkan Orion.
“Bagaimana?” tanya Orion saat Cheryl sudang mengunyah.
Cheryl langsung melihat roti dengan selai stroberi itu, kemudian memandang Orion yang berdiri di hadapannya.
“Kenapa kamu membuat roti isi selai stroberi?” tanya Cheryl masih dengan menatap Orion.
“Bukankah kamu suka stroberi,” jawab Orion yang tidak pernah menghilangkan senyum ketika berhadapan dengan Cheryl.
Cheryl mengunyah sambil terus menatap Orion, kemudian mengalihkan pandangan saat menelan sebelum kembali menggigit dan mengunyah.
“Aku memang suka, tapi tidak tahu kamu mengetahuinya,” lirih Cheryl.
Orion tersenyum menanggapi ucapan Cheryl, hingga kemudian berkata, “Dulu, kamu sering beli susu rasa stroberi, minum jus juga rasa stroberi, makan kue rasa stroberi, bukankah sudah jelas jika kamu menyukainya.”
Cheryl berhenti mengunyah, kembali menatap Orion yang masih mengingat semua saat dulu mereka masih dekat. Sebenarnya dekat karena Orion sering meminta Cheryl membantunya belajar matematika dan bahasa Inggris.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Orion pun pergi meninggalkan Cheryl.
Cheryl tidak menanggapi ucapan Orion, mulutnya masih mengunyah meski memikirkan ucapan pemuda itu. Dia lantas menatap gelas susu yang dipegangnya, rasa susu itu jelas bukan susu kemasan yang biasa diminumnya, tapi itu adalah susu khusus ibu hamil.
**
“Nanti malam, mungkin aku akan pulang terlambat, jadi tidak bisa membuatkanmu makan malam,” ucap Orion saat berada di mobil bersama Cheryl.
Orion sendiri tidak jujur ke Cheryl kalau akan kerja part time, hanya saja tidak ingin membuat wanita itu merasa bersalah sebab menikahinya membuat Orion kini harus bekerja juga.
Cheryl mengantar Orion ke kampus karena pemuda itu tidak membawa mobil saat pergi dari rumah orangtuanya.
“Tidak apa-apa, aku bisa makan di luar sebelum pulang,” balas Cheryl.
Orion mengangguk, kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
__ADS_1
Cheryl menoleh sekilas saat pintu mobil ditutup, melihat Orion yang sudah berjalan meninggalkan mobil, lantas dia pun memilih pergi juga dari sana.
Orion berjalan menuju gedung perkuliahan, hingga langkah terhenti saat ada seorang gadis menghadang jalannya.
Orion menatap gadis itu, gadis dari jurusan perbankkan juga.
“Ada apa?” tanya Orion karena gadis itu menghalangi jalannya.
“Aku hanya ingin bertanya, apa sore ini kamu ada waktu untuk belajar bersama?” tanya gadis berparas cantik dan memiliki rambut panjang sebahu, tingginya tidak melebihi Orion, hampir sejajar ketika mereka berdiri berhadapan.
“Aku tidak bisa,” jawab Orion. Dia membetulkan letak tali tas di pundak.
“Kenapa?” tanya gadis itu sedikit kecewa.
“Aku harus kerja part time sore ini juga sore-sore selanjutnya, jadi maaf,” jawab Orion menjelaskan.
Gadis bernama Gabriella atau kerap disapa Gaby itu terlihat kecewa, tapi juga tidak bisa memaksa.
“Baiklah, aku mengerti,” ucap Gaby.
Orion mengangguk, kemudian kembali melanjutkan langkah melewati Gaby. Gaby sendiri merasa aneh, kenapa pemuda di kalangan keluarga kaya seperti Orion malah bekerja part time.
“Ion!” Gaby memanggil sambil berjalan cepat menyusul Orion.
Orion menghentikan langkah, lantas menoleh dan melihat Gaby berjalan menyusulnya.
“Kenapa kamu kerja part time? Apa kamu sedang ada masalah?” tanya Gaby. Dia mengenal Orion sejak mereka pertama kali masuk di kampus itu, saat itu Orion membantunya mengisi beberapa data saat pendaftaran, karena tangan Gaby terkilir akibat menopang tubuh ketika jatuh ditabrak calon mahasiswa lain.
“Tidak ada, aku hanya berpikir ingin mencoba bekerja dari sekarang,” jawab Orion sambil mengulas senyum.
Gaby membentuk huruf O dengan bibir, kemudian berjalan bersama Orion menuju gedung perkuliahan.
“Jika ada apa-apa, kamu bisa bilang kepadaku. Aku pasti akan sekuat tenaga membantumu. Kita sudah berteman lama, Ion. Tidak ada masalah yang perlu kamu tutupi dariku, kamu tahu betul bagaimana aku,” ujar Gaby panjang lebar.
Orion tersenyum menanggapi ucapan Gaby, hingga kemudian menoleh ke gadis yang berjalan di sampingnya itu.
“Aku benar-benar sedang tidak ada masalah apa pun. Hanya ingin menghabiskan waktu ke hal-hal yang bermanfaat, bukankah akan menyenangkan jika aku bisa menghasilkan uang sendiri, menggunakan uang dari hasil jerih payahku, rasanya sangat menyenangkan.”
__ADS_1
Orion memberikan alasan yang mudah diterima, agar tidak ada orang yang curiga.
Gaby mengangguk-angguk paham, membenarkan penjelasan Orion.