
Di rumah orangtua Cheryl. Lusy dan Zayn berada di meja makan untuk sarapan bersama.
“Ga ada Cheryl, rasanya sepi,” ucap Lusy tidak bersemangat.
Zayn menoleh sang istri, hingga mengembuskan napas kasar.
“Cheryl sudah punya keluarga sendiri, seharusnya kamu senang karena dia lebih bertanggung jawab,” balas Zayn meski tahu jika istrinya kesepian.
Lusy langsung menoleh suaminya, seolah tidak senang kalau Zayn merelakan begitu saja.
“Bukan begitu juga. Aku hanya cemas akan kondisinya, dia hamil, tinggal sama pria bejat itu, membuatku tidak bisa tenang sepanjang waktu,” ungkap Lusy yang masih saja belum bisa menerima Orion.
“Sayang, jangan seperti itu. Aku tahu kamu mencemaskannya, tapi percayalah kepadanya,” ucap Zayn menasihati. “Soal suaminya, aku lihat dia pria yang baik,” imbuh Zayn.
Lusy kesal sendiri, kenapa sang suami juga memiliki pemikiran sama seperti Joya. Sebagai seorang ibu, tentunya Lusy lebih peka dengan apa yang dirasakan oleh putrinya. Dia tahu jika Cheryl pasti tidak benar-benar ikhlas menerima Orion sebagai suami.
“Sudah, kamu jangan berpikiran berlebih. Jika kamu rindu atau mencemaskannya, kenapa tidak datang berkunjung saja untuk melihatnya?” tanya Zayn kemudian.
“Ke apartemen dan bertemu dengan pria itu? Ga!” tolak Lusy.
“Ke perusahaan ‘kan bisa,” ucap Zayn.
**
__ADS_1
Cheryl sudah berada di perusahaan. Dia duduk sambil menatap layar laptop, tapi tidak melakukan apa pun dengan benda itu. Cheryl sedang mengingat kejadian pagi tadi, berpikir kenapa Orion mengucapkan kalimat-kalimat manis yang mampu membuatnya berbunga-bunga.
Pagi tadi.
“Kamu terus memandangku, apa kamu ingin anak kita lebih mirip denganku?”
Cheryl tersedak ludah saat mendengar ucapan Orion, berpikir bagaimana bisa pemuda itu sangat percaya diri mengatakan hal itu.
“Kamu percaya diri sekali, siapa pula yang memandangmu,” elak Cheryl.
Orion mengulum bibir sambil menatap Cheryl yang sedang malu, semburat merah begitu kentara di kedua pipi wanita itu, membuat Orion sangat gemas karena Cheryl masih berusaha mengelak.
“Tidak apa jika tak mengakui, tapi aku bicara fakta,” ucap Orion.
“Jangan besar kepala, nanti aku mual.”
Orion sangat terkejut, lantas mendekat dan membantu Cheryl. Satu tangan menekan tengkuk leher Cheryl, sedangkan tangan satunya berusaha memegang helaian rambut Cheryl yang jatuh ke wastafel agar tidak terkena muntahan.
Cheryl masih terus mual, tampaknya kini dia benar-benar mengalami morning sickness.
Orion masih sabar menunggu Cheryl yang muntah, bahkan tidak terlihat kalau dia jijik melihat muntahan Cheryl.
“Sudah lebih baik?” tanya Orion ketika Cheryl membasuh mulutnya.
__ADS_1
Cheryl hanya mengangguk-angguk, mual dan muntah membuat tenaganya terkuras habis.
Orion mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat, lantas memberikan ke Cheryl untuk sedikit menghangatkan perut.
Cheryl menerima gelas dari tangan Orion, kemudian menenggak isinya hingga habis setengah.
“Makanya jangan membahas mual,” ledek Orion, merasa jika Cheryl termakan omongannya sendiri.
“Kamu yang mulai.” Cheryl mengerucutkan bibir manja.
Orion baru kali ini melihat ekspresi wajah Cheryl saat manja, begitu menggemaskan dan sangat bertolakbelakang dengan sifat wanita itu yang biasanya terlihat begitu dewasa.
Cheryl menyadari jika Orion memandangnya, hingga kemudian dia pun bertanya, “Kenapa kamu memandangku seperti itu?”
Orion sedikit menurunkan pandangan karena pertanyaan Cheryl, hingga kemudian berkata, “Apa janin di rahimmu sudah terasa berdenyut?”
Cheryl terkejut mendengar perkataan Orion, hingga secara impulsif tangan menyentuh perut datarnya.
“Belum, aku belum merasakan apa pun. Kata dokter dia masih sangat kecil,” ujar Cheryl menjelaskan.
Orion menurunkan pandangan, menatap ke perut Cheryl yang masih datar.
“Kapan jatahmu kontrol? Apa aku boleh ikut untuk melihatnya?”
__ADS_1
Cheryl menangkup wajah dengan kedua telapak tangan saat mengingat kejadian tadi pagi. Cheryl yakin jika Orion bukan pelakunya, tapi kenapa pemuda itu bersikap seolah dia benar-benar ayah dari janin di rahimnya, serta begitu menginginkannya.
Wajahnya semerah tomat saat mengingat setiap perlakuan manis Orion. Andai boleh berharap, Cheryl ingin jika pria di malam itu benar-benar Orion.