Suamiku Berondong Manis

Suamiku Berondong Manis
Menerima apa adanya


__ADS_3

“Minum vitaminmu,” kata Orion sambil memberikan vitamin ke Cheryl yang bersiap tidur.


“Apa aku boleh bolos minum vitamin? Sekali saja.” Cheryl mengedip-ngedipkan kelopak mata manja, merayu agar tidak dipaksa minum vitamin.


“Kamu harus tetap minum demi perkembangan janinmu,” ucap Orion menjelaskan. Dia duduk di samping Cheryl, lantas menyodorkan gelas dan vitamin yang dipegangnya.


“Ion.” Cheryl memasang wajah memelas agar suaminya itu tidak memaksa dirinya.


“Ini demi kebaikanmu,” ucap Orion yang tidak terbujuk rayuan Cheryl.


“Aku bosan tiap pagi dan malam minum obat,” rengek Cheryl.


“Bukan obat, ini vitamin. Minumlah, ini demi perkembangan janin dan juga kesehatanmu.” Orion tetap memaksa karena semua itu juga demi Cheryl.


Cheryl semakin memasang wajah memelas, tapi tidak dipedulikan Orion. Akhirnya Cheryl terpaksa minum vitamin yang harus dikonsumsinya setiap hari, meski sudah sangat bosan.


“Pintar.” Orion mengusap lembut pucuk kepala Cheryl. “Sekarang tidurlah,” kata Orion kemudian.


Cheryl naik ke ranjang dengan perasaan kesal, tapi juga sedikit senang sebab Orion bersikap manis dengan mengusap pucuk kepalanya.


Orion mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang masih menyala.


“Sudah malam, letakkan ponselmu.” Orion mengambil ponsel dari tangan Cheryl karena istrinya itu malah ingin bermain ponsel.


“Sebentar saja, biarkan aku mengecek apakah ada pesan masuk,” ujar Cheryl meminta ponselnya lagi.

__ADS_1


Orion menggelengkan kepala, lantas meletakkan ponsel di nakas.


“Besok lagi, kamu butuh istirahat,” ucap Orion yang kini benar-benar menunjukkan perhatiannya tanpa batas ke sang istri.


Awalnya Orion hanya menunjukkan perhatian tapi masih menjaga privasi Cheryl dan tidak ingin melewati batasannya, tapi sekarang status mereka sudah diterima satu sama lain, sehingga membuat Orion memberanikan diri untuk melewati batasan yang sejak awal dijaganya.


Cheryl memberengut, tapi juga tidak bisa membantah. Dia pun berbaring dengan posisi telentang dan memandang langit-langit kamar.


Orion menarik selimut untuk menutupi kaki Cheryl, kemudian baru berbaring di samping istrinya.


Cheryl dan Orion sama-sama menatap langit-langit kamar, keduanya belum memejamkan mata dan masih bergelut dengan pikiran masing-masing.


Cheryl melirik Orion dan menyadari kalau suaminya itu juga belum tidur.


Orion menggerakkan kepala dan kini saling berhadapan dengan Cheryl.


“Kamu juga kenapa tidak tidur? Besok harus ke kantor,” balas Orion.


Cheryl juga bingung kenapa tidak bisa tidur, rasanya kelopak mata masih belum bisa terpejam.


“Entah, ingin tidur tapi mataku tidak bisa terpejam,” jawab Cheryl.


Orion tersenyum mendengar jawaban Cheryl, lantas menggeser posisi berbaring menjadi miring. Dia mengulurkan tangan kemudian menggunakan telapak tangan untuk menutup mata Cheryl.


“Kalau begini bagaimana? Gelap dan seperti menutup mata bukan?” tanya Orion.

__ADS_1


Cheryl malah tertawa, lantas menyingkirkan tangan Orion dari mata. Dia menggeser posisi berbaring hingga miring dan kini saling berhadapan dengan Orion.


“Seperti ini tampaknya lebih baik,” ujar Cheryl sambil menggenggam telapak tangan Orion, bahkan menautkan jemari mereka. Senyum merekah terbit di wajah Cheryl.


Orion mengulas senyum hingga memperlihatkan lesung pipinya. Dia pun ikut mencengkram tautan jari mereka, memandang wajah Cheryl di mana baginya semua itu masih seperti mimpi. Orion tidak menyangka jika akan benar-benar diterima oleh Cheryl.


“Ion, jika bayiku lahir, apa kamu benar-benar bisa menerimanya, sedangkan dia bukanlah darah dagingmu?” tanya Cheryl yang tiba-tiba cemas kalau Orion berubah pikiran.


“Dia belum lahir saja aku sudah menerimanya, bagaimana bisa setelah lahir aku tidak menerima,” jawab Orion dengan seulas senyum untuk menenangkan hati Cheryl.


“Aku hanya takut saja,” ujar Cheryl lagi.


“Sudah, jangan banyak berpikir. Ini tidak baik untuk kesehatanmu. Percayalah, saat aku mengatakan menerimamu apa adanya, maka itu termasuk dirimu dan janin yang ada di rahimmu.”


Tentu saja ucapan Orion semakin membuat Cheryl berbunga-bunga, Orion benar-benar sukses membuat Cheryl semakin jatuh cinta dan tidak ingin melepas pemuda itu.


**


Orion sudah bangun lebih dulu dan belum membangunkan Cheryl karena semalam mereka keasyikan mengobrol dan tidur begitu larut. Dia sudah berada di dapur dan hendak menyiapkan sarapan seperti biasa. Ini hari minggu, jadi baik Orion maupun Cheryl tidak ada yang ke kantor atau kampus, membuat Orion membiarkan Cheryl tidur lebih lama.


Saat sedang membuat sarapan, terdengar suara bel beberapa kali. Orion mengerutkan dahi keheranan karena ada yang bertamu di rumahnya di pagi hari.


“Siapa yang datang?”


Tanpa melepas celemek yang dikenakan, Orion pun pergi ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Hingga saat membuka pintu, Orion terkejut melihat dua orang sudah berdiri di hadapannya kini.

__ADS_1


__ADS_2