
Mobil mewah itu tengah melaju kencang, diburu waktu. 10 menit lagi, meeting akan dimulai. Irsyad sudah mulai panik, pasalnya karena dia semuanya jadi terlambat.
Mobil itu telah terparkir dengan sempurna di salah satu restoran ternama. Irsyad membuka pintu mobil lalu memutarinya untuk membukakan pintu untuk tuannya.
"Sekali lagi, maafkan saya Tuan. Karena saya kita menjadi terlambat." Ucapnya menyesal.
"Tidak apa-apa Irsyad, kau kan terlambat karena menyiapkan berkas yang belum lengkap. Ayo sekarang kita masuk!" Ajaknya seraya melangkahkan kakinya.
Ya dia adalah Tuan Juna, bos Irsyad yang masih tergolong muda.
Umurnya baru 32 tahun, namun wajahnya yang tampan seperti seumuran dengan Irsyad. Padahal terpaut 7 tahun dengan asistennya itu.
Mereka telah duduk di tempat yang sudah di pesan. Di sana telah duduk satu orang wanita dan juga dua orang pria.
Irsyad baru pertama kalinya melihat wanita tersebut. Kalau dengan kedua pria itu, Irsyad mengenalinya. Sebab mereka telah beberapa kali bertemu.
"Maaf, saya terlambat." Ucapnya dengan suara khas seorang pemimpin.
"Tidak apa-apa Pak Juna, kami juga baru sampai." Jawab seorang pria paruh baya.
"Oh iya Irsyad, kenalkan ini Vania adik saya. Vania kenalkan ini Irsyad asisten pribadi Mas Juna." Katanya mengenalkan mereka berdua.
Irsyad merasa risih melihat tatapan dari Vania.
__ADS_1
Sosok wanita yang bukan selera Irsyad, dengan pakaiannya yang terbuka. Jelas sekali lekuk tubuhnya. Membuat Irsyad memalingkan wajahnya berkali-kali.
Mereka berkenalan seraya berjabat tangan. Meeting pun dimulai. Irsyad merasa tak konsentrasi, kala tatapannya bertemu dengan Vania. Sungguh sangat tak nyaman bagi seorang Irsyad.
Baginya, hanya Raina lah yang paling cantik dan yang pantas untuk ia pandangi.
Seberapa tertutupnya penampilan Raina, tetap terlihat sexi dimatanya. Meeting pun selesai. Pak Juna dan yang lainnya pamit untuk kembali ke kantor masing-masing.
"Irsyad, kau duluan saja masuk mobil. Adikku ingin membicarakan sesuatu. Biasa masalah pribadi," ucapnya seraya tersenyum simpul.
"Baik Tuan." Hanya itu jawaban Irsyad.
*****
Tuan Juna terlihat gusar, terlihat sekali raut wajahnya dari balik kaca spion.
"Irsyad, bagaimana menurutmu adikku?" Tanyanya tiba-tiba. Irsyad mengernyitkan dahinya.
"Maksud Tuan?" Irsyad balik bertanya.
"Ya maksudku, dia cantik bukan? Dia juga cerdas. Kau lihat kan caranya menjelaskan tentang ide-idenya? Maka dari itu aku dan rekan yang lain menyetujui untuk bekerjasama dengannya." Paparnya membangga-banggakan adiknya.
Irsyad hanya tersenyum. Ia bingung harus menjawab apa. Baginya istrinyalah yang paling cantik di muka bumi ini. Tak ada yang lain!
__ADS_1
"Dia menyukaimu Irsyad. Aku sangat setuju kalau kau bersedia menikahi adikku." Katanya sembari tersenyum.
Deg! Jantung Irsyad sepertu berhenti berdetak. Ia tak menyangka, seseorang yang berpengaruh dalam negeri ini bisa begitu saja merestui adiknya untuk dinikahi seorang pria seperti dirinya.
"Kenapa kau hanya diam Syad? Apa kau punya kekasih? Jika benar, maafkan aku telah lancang." Lirihnya, sungguh ia merasa tak enak hati telah memberitahukan perasaan adik kesayangannya.
"Saya tidak punya kekasih Tuan. Tapi saya ..." belum sempat Irsyad melanjutkan kata-katanya, Tuan juna telah memotongnya.
"Bagus kalau begitu, aku harap kamu memikirnya matang-matang. Adikku sempurna Syad. Dia cantik dan juga baik." Lagi-lagi dia memuji adiknya.
"Secantik apapun dia, tetap Raina lah yang paling cantik di mataku Tuan. Dia wanita paling cerdas yang pernah aku temui. Dia bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali."
Ingin sekali ia mengatakan hal itu, namun ia hanya bisa mengatakannya dalam hati.
"Maaf Tuan, tapi saya sudah menikah." Katanya gugup.
Ia melirik kaca spion, terlihat Tuan Juna sangat terkejut.
"Kau sudah menikah? Kenapa tidak memberi tahuku Syad?"
"Maafkan saya Tuan, kami menikah hanya dihadiri keluarga inti saja karena sesuatu hal." Ucapnya gugup.
Irsyad mencoba setenang mungkin sebelum berbicara lagi.
__ADS_1