
Setelah mengantar Raina sampai rumahnya, Laras dan Billy segera meninggalkan kediaman sahabatnya itu. Kini hanya mereka berdua dalam mobil.
Canggung rasanya, tetapi mereka sangat menikmati momen langka seperti ini. Billy berdehem beberapa kali untuk mengusir rasa gugupnya.
Dia mencoba memutar lagu dari audio mobilnya. Bibirnya mengikuti alunan lagu yang keluar. Laras duduk dengan gusar, rasanya lebih dari bahagia bisa sedekat itu dengan Billy.
Gadis itu mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Padahal, ingin sekali ia jungkir-balik saat itu juga, karena terlalu senang.
"Lama sudah kumenanti Banyak cinta yang datang dan pergi Tapi tak pernah aku senyaman ini Mungkin dirimulah cinta sejati Tak akan kuragu lagi Kujaga sampai ke ujung nadi Takkan kusia-sia kan lagi Buat hidupku lebih berarti"
Lirik lagu yang keluar, membuat jantung mereka berpacu dengan cepat. Pipi mereka menghangat, saling mencuri pandang.
"Cintamu senyaman mentari pagi Seperti pelangi slalu kunanti Cintamu tak akan pernah terganti Selamanya di hati Aku bahagia milikimu seutuhnya"
Seperti mewakili perasaan mereka, Laras dan Billy mengulum senyum.
Seperti kembang api dalam dada mereka. Meledak, mewarnai perasaan yang sedang dilanda cinta.
"Mm ... kita mau ke mana lagi nih? Mumpung masih sore," tanyanya lembut.
"Ke mana saja, terserah kamu." jawabnya malu-malu.
__ADS_1
Setelah percakapan singkat itu mereka kembali terdiam. Lebih memilih menikmati rasa yang membuncah di dada.
Sesaat Laras membulatkan matanya, dia mengira Billy akan mengajaknya ke tempat yang romantis. Namun, nyatanya malah ke tempat yang sangat ramai.
"Kamu kaget ya? Aku ngajak ke sini?" tanya Billy
"Mm ... sedikit sih," jawabnya ragu.
"Kamu sering ke sini?" tanyanya sembari mengedarkan matanya mengamati tempat itu.
"Sering, ini hanya di adakan satu minggu sekali. Kamu suka? Kalau tidak kita bisa cari tempat yang lain," tawarnya lembut.
"Aku suka kok, tapi ... nanti aku bakalan gendut karena pasti banyak makan," ujarnya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Aku tak pernah masalah dengan hal itu. Bagiku, kau cantik di segala kondisi," gombalnya yang sukses membuat rona merah di pipi Laras.
Billy dan Laras tengah berada di tengah jalan yang sisi kiri dan kanan jalan sudah dipenuhi oleh stand makanan.
Billy mengajak ke sebuah taman yang sering dijadikan tempat menjajakan berbagai macam kuliner atau lebih sering disebut dengan nama "Kuliner Mambo"yang lebih sering disebut dengan surganya makanan.
Laras menoleh ke kiri dan ke kanan, begitu banyak makanan Nusantara yang menggugah selera. Gadis itu bingung hendak memilih yang mana.
__ADS_1
Billy hanya sibuk mengamati wanitanya, tak memperdulikan jajanan yang sangat lezat itu. Laras berhenti disalah satu stand yang menjual cumi bakar. Air liurnya hampir saja menetes.
"Billy, aku mau itu," rengeknya manja.
Pemuda itu sangat gemas dengan tingkah Laras. Bagaimana bisa wanita yang super dewasa di tempat kerja bisa se-menggemaskan ini?
"Bang, pesan dua ya? Jangan terlalu pedas," ucap Billy pada si Abang yang tengah sibuk membakar sosis dan juga cumi.
"Siap Mas, tunggu sebentar ya. Mas sama istrinya boleh tunggu di sini dulu," tunjuknya pada kursi di belakangnya.
Laras dan Billy tersenyum kikuk. Tak ada bantahan seperti biasa. Mereka saling meraba tengkuknya karena malu.
Laras duduk dengan manis menunggu pesannya datang. Sedangkan Billy menyapukan pandangannya mencari penujal minuman segar.
"Kamu lagi cari apa?"
"Awas saja kalau cari wanita cantik, aku jewer telinga kamu," geram Laras dalam hati.
"Aku cari penujal minuman, memangnya kamu tidak haus?" Laras malu sendiri dengan pikirannya.
"Nanti saja sambil berjalan lagi kita beli. Masih banyak makanan yang ingin aku beli," ucapnya ringan.
__ADS_1
Billy hanya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan gadis yang satu ini.
Disaat kebanyakan wanita begitu menjaga imagenya, tetapi Laras berbeda. Ia terlihat acuh saja, tampil apaadanya.