
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Raina terpaksa berangkat ke perusahaan Tuan Juna dengan bocah petakilan itu. Bisma tersenyum cerah, secerah mentari pagi ini.
Terbanding terbalik dengan waut wajah Raina, masam bak jeruk lemon. Sepanjang perjalanan, Raina hanya terdiam. Bisma mencoba memecah keheningan dengan menyalakan audio mobil. Memutar lagu-lagu cinta agar suasana mencair.
Tak terasa mereka sudah sampai di kantor Tuan Juna. Mereka turun dan segera menuju ruang meeting. Bisma--bocah itu terus mengekor di belakang. Raina memelot, mengisyaratkan agar bocah itu menunggu saja di lobby.
"Bisma! Kamu tunggu saja di lobby atau di kantin, di mana saja terserah dirimu," ujar Raina ketus.
"Aku diminta mama untuk mendampingimu, Cantik. Tenang saja, aku janji tak akan mengganggumu," sahutnya ringan.
Raina kehabisan kata-kata untuk menjawab. Dia hanya bisa pasrah. Lantas membiarkan lelaki itu mengikutinya.
"Selamat pagi, Pak Juna," sapa Raina seraya tersenyum. Ditatapnya Irsyad--sang suami sedang tersenyum meriah ke arahnya.
Bisma menyusul, menyapa semua orang. Kedua orang itu duduk di sofa. Vania tampak mencari perhatian Irsyad. Wanita rubah itu duduk semakin mendekat. Raina mendelik sebal ke arah suaminya.
Namun, Irsyad tak menyadari itu. Juna berusaha untuk mengendalikan situasi. Dia merasa malu terhadap Raina dan Irsyad, sebab adiknya terus saja berusaha mendekati Irsyad.
"Oke! Kita mulai meetingnya. Vania, kamu dulu yang presentasi," ujar Juna tegas.
Wanita itu segera meraih map yang ada di atas meja. Memang, wanita itu begitu cerdas, Raina mengakui itu. Bisma hanya menyimak saja. Dia belum terlalu paham untuk ikut campur.
Setelah kurang lebih satu jam, meeting pun selesai. Tuan Juna meminta Bisma dan Raina untuk makan siang bersama. Kebetulan, di seberang kantor itu terdapat sebuah restoran. Mereka berjalan beriringan.
"Siap-siap dengan kekalahanmu, Raina!" Senyum mengejek tersungging dari Vania.
Raina menghentikan langkahnya. Tangannya mengepal, napasnya sudah memburu. Vania, melenggang dengan percaya diri. Mendekati Irsyad yang sudah berada di depan dengan Juna.
"Rai! Mengapa diam di sini? Ayok kita masuk!" ajak Bisma yang baru saja sampai. Tanpa meminta izin, bocah petakilan itu menggandeng lengan Raina.
__ADS_1
"Hei, Bocah! Lepaskan tanganku!" teriak Raina. Namun, lelaki itu tak mengindahkan permintaan wanita yang ada di sampingnya.
Saat tiba di meja yang telah dipesan Juna, mata Irsyad melebar sempurna. Berani-beraninya lelaki itu menggandeng mesra lengan istrinya. Irsyad berdehem, membuat Raina dengan secepat kilat melepaskan lengannya dari tangan Bisma.
"Silakan duduk, Rai!" titah Juna. Raina dan Irsyad saling berhadapan. Sebagai seorang istri--Raina sudah merasakan hawa panas dari suaminya.
"Celaka! Mas Irsyad pasti cemburu. Ini gara-gara bocah petakilan itu!" gerutu Raina dalam hati.
Juna memanggil pelayan untuk memesan makanan. Vania tak ada malu sama sekali. Wanita itu menempel bagaikan lem. Beberapa kali Irsyad menghindar. Juna pun menegur kelakuan adiknya itu. Semua makanan sudah tersaji di meja.
Bisma dengan cekatan mengambil makanan untuk Raina. Lantas memaksa wanita itu untuk membuka mulut, bermaksud untuk menyuapi. Semua itu tak luput dari pandangan ketiga manusia yang ada di hadapan mereka.
"Istri zaman sekarang memang tidak punya malu!" sindir Vania. Semua orang menoleh ke arahnya. Terutama Bisma, lelaki itu tak mengerti dengan ucapan Vania.
"Maksudmu apa?" tanya Bisma seraya menghentikan aktivitas makannya.
"Sungguh kau tak tahu? Apa wanita yang ada di sampingmu mengaku masih gadis?" Vania menghujani Bisma dengan pertanyaan.
"Raina sudah menikah, dan Irsyad adalah suaminya," lanjut Vania. Sendok yang sedang dipegang Bisma tejatuh menyentuh piring.
"Vania! Jangan ikut campur urusan orang lain!" tegur Juna.
"Aku bukan ikut campur, Mas. Aku hanya kasihan saja pada bocah polos ini. Sudah dibodohi oleh Raina," ujarnya sinis.
"Cukup Nona Vania! Jangan mengatakan apa pun lagi tentang istri saya!" Irsyad sudah hilang kendali.
"Bukankah kata 'tidak tahu malu' itu pantasnya disematkan untukmu?" ujar Bisma. Semua mata menatap dirinya. Bocah petakilan itu menjelma menjadi lelaki dewasa yang memesona.
"Kau yang tidak tahu malu! Mendekati suami orang lain di depan istrinya!" lanjut Bisma seraya tersenyum miring.
__ADS_1
Pernyataan menohok dari Bisma membuat darah Vania mendidih. Berani-beraninya bocah 'kemarin sore' mempermalukan dirinya.
"Kau!" pekik Vania.
Suasana semakin panas, Raina mendadak menjadi pusing. Perutnya terasa diaduk-aduk. Tangan sebelah kirinya sudah menopang kepalanya.
"Kamu kenapa, Rai?" tanya Irsyad cemas.
"Bawa saja istrimu ke dokter, Syad. Sepertinya Raina tidak enak badan." Tuan Juna pun tak kalah cemas.
"Tuan, apa boleh saya pulang sekarang? Sepertinya saya tidak bekerja sampai sore," ujar Irsyad seraya memijat pelipis Raina. Wanita itu hanya diam, tak mampu menjawab. Sungguh, kepalanya sangat pusing.
"Baiklah, pulang saja, Syad! Kasihan Raina," jawab Tuan Juna.
Akhirnya kedua sejoli itu meninggalkan restoran. Tinggallah Juna, Vania dan Bisma. Juna berpamitan lebih dulu untuk kembali ke kantor. Sedangkan Bisma dan Vania masih betah duduk sembari saling menatap tajam.
"Kau suka Raina bukan? Jangan mengelak! Aku punya tawaran bagus untukmu," ujar Vania membuka percakapan.
"Tawaran apa?" sahut Bisma cepat.
"Kita buat hubungan mereka hancur! Kau bisa memiliki Raina, pun denganku bisa memiliki Irsyad," ujarnya penuh percaya diri. Bisma tersenyum miring, lantas berujar,
"Aku tak segila dirimu! Maaf, aku tak sejahat itu." Bisma beranjak dan meninggalkan Vania sendiri.
"Kurang ajar! Lihat saja nanti, aku akan membuatmu bertekuk lutut memohon bantuanku!" geram Vania.
Dilihatnya punggung Bisma sudah samar-samar, lantas menghilang di balik pintu.
*****
__ADS_1
Hallo Readers 🤗 Semoga ini mengobati rasa rindu kalian. doakan agar ide tetap mengalir. hehe
Soalnya aku masih meraba alurnya, sudah sedikit lupa karena terlalu lama tidak posting 😂