Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 28


__ADS_3

Rintikan hujan menemani perjalanan pulang sore ini. Sepertinya, langit pun tahu tahu tentang suasana hatiku. Mendung, seperti itulah perasaanku, kini rinai gerimis membasahi pipiku. Kusandarkan kepala ke kaca mobil. Bulir bening menetes begitu saja, tanpa kusuruh.


Aku benci diriku yang seperti ini, menangisi hal yang tak seharusnya. Kuhela nafas panjang, lalu ku keluarkan perlahan.


Kututup mulutku agar isak tangisku tak terdengar oleh sopir taxi yang sedang fokus di balik kemudi.


Katakan ini salah! Jika ini memang benar, aku tak tahu apa aku akan sanggup untuk menerimanya?


Hatiku sudah hancur berkeping-keping, dan itu karenanya. Hati yang kujaga dengan susah payah, agar dia tak pernah tersakiti olehku. Agar kau pun melakukan hal yang sama. Namun nyatanya...


"Neng, kita sudah sampai. Ini benar kan alamatnya?" Tanya Pak sopir membuyarkan segala lamunanku.


"Eh iya, Pak. Maaf tadi saya melamun, ini ongkosnya ya Pak," segera kuturun tanpa menunggu jawaban pak sopir.


*****


Kurebahkan tubuh lelahku, menatap langit-langit kamar. Kejadian tadi begitu saja melintas di benakku. Sungguh, aku tak bisa mengalihkan pikiranku tentang kejadian yang baru saja kualami.


Segera kubersihkan diri, mengambil air wudhu dan lekas shalat. Waktu maghrib sebentar lagi usai.

__ADS_1


Kutengadahkan tangan, meminta kekuatan padaNya, memohon, agar dia tetap menjadi suami terbaik, seperti yang selama ini ada dalam pikiranku. Kulipat perlengkapan shalat, lalu kuraih ponsel yang berada dalam tas kerja.


Kulihat tak ada satu pesan pun darinya. Apa dia semudah itu melupakanku? Biasanya, dia selalu mengabariku, jika dia akan pulang terlambat.


Air mata kembali membasahi pipi. Kini, suara tangisanku pecah juga. Aku sudah tak dapat menahannya lagi.


Ya Allah, sebentar lagi ulang tahun pernikahan kami yang pertama, namun Engkau memberikan kami ujian seperti ini.


Dapatkan kami melaluinya? Dapatkah dia teguh dalam menjaga hati, menundukkan pandangan seperti yang biasa ia lakukan selama ini. Dapatkah aku memaafkan seandainya pikiran burukku benar adanya.


Dapatkah aku menerima kenyataan kalau sebenarnya mas Irsyad telah berpaling. Sungguh sakit menemukan kenyataan bahwa dia telah berubah.


Kulihat senyum bahagia merekah di wajahnya, dia terlihat begitu nyaman bersama dengan seseorang, yang entah siapa. Aku pun tak tahu.


Semudah itu kah dia memuji wanita lain?


Perasaanku seperti tersayat-sayat, begitu perih. Dadaku begemuruh, bibirku bergetar menahan tangis. Kudengar suara pintu dibuka. Segera kuhapus air mata, agar dia tak melihatnya.


"Sayang, kamu kenapa duduk termenung begitu?" Tanyanya tanpa merasa berdosa.

__ADS_1


Sebisa mungkin aku bersikap biasa-biasa saja. Agar dia tak bertanya lebih lagi.


"Mm ... ngga apa-apa kok. Kamu sudah makan?"


"Sudah Sayang, tadi sekalian makan sama tuan Juna dan juga klien," jawabnya santai.


"Sejak kapan dia pandai berbohong begitu?" Tanya batinku.


"Oh... syukurlah, lagi pula di rumah tak ada makanan, aku lagi malas masak Mas."


"Iya Sayang gak apa-apa, aku mau mandi dulu ya." Aku hanya mengangguk saja.


Hatiku lebih perih dari sebelumnya, mendengar pernyataan bohong dari mulutnya.


Sedangkan, tadi kulihat dia sedang asyik bersenda gurau dengan wanita itu. Tanpa tuan Juna dan klien yang dia sebutkan tadi.


Ya Allah, jika suamiku berada di jalan yang salah, aku mohon, berilah dia hidayah agar kembali ke jalan yang benar. Buatlah perasaannya hanya untukku saja. Sungguh, aku takkan rela jika hatinya mencintai wanita lain.


Aku segera berlari menuju dapur. Kutampahkan semua air mata yang sudah bergelayut di pelupuk mata. Kududuk di kursi tempat makan. Kutenggelamkan wajahku di sana.

__ADS_1


Aku menangis sesenggukan, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus bertanya tentang siapa perempuan yang tadi bersamanya? Mengapa dia berbohong padaku?


Ah aku rasa itu tidak perlu. Jika dia memang mencintaiku, dia pasti akan bercerita dengan sendirinya.


__ADS_2