
Aku kesal sekaligus bahagia mendengar ceritanya. Aku tak mengerti, mengapa mas Irsyad bisa sepolos ini. Dia tak melihat apa aku yang sedang terbakar api cemburu. Begitu banyak wanita di luaran sana yang menggodanya.
Ini bukan pertama kalinya. Tapi, aku bahagia dia selalu jujur seperti ini. Dia menggeser tubuhnya agar dekat denganku.
"Kamu gak marah 'kan Sayang?" Tanyanya dengan wajah yang sangat polos seperti bayi.
"Kenapa aku harus marah? Bukan kah itu sudah biasa ya, Mas? Kamu selalu aja di goda sama perempun-perempuan seperti itu! Menyebalkan!" Gerutuku, dia hanya tersenyum lalu mencium bibirku sekilas.
Mataku terbelalak akan perlakuannya. Dia selalu saja bisa membuat amarahku mereda.
"Besok malam, tuan Juna mengundang kita untuk makan malam di rumahnya. Apa kamu mau?"
"Buat apa tuan Juna mengundang kita makan malam? Jangan-jangan dia berencana untuk mendekatkan adiknya itu denganmu, Mas! Aku tidak mau datang." Tolakku mentah-mentah.
"Kamu jangan suudzon Sayang, gak baik tahu. Tuan ingin tahu, siapa sih wanita yang bisa meluluhkan hatiku ini? Lagi pula tuan Juna sudah menikah Yang, dia sudah tidak tinggal dengan keluarganya yang lain." Jelasnya sembari mengelus pipiku.
"Seberapa cantiknya perempuan diluaran sana, bagiku, kamulah yang paling cantik. Aku akan menjaga pandanganku, Sayang." Ujarnya lagi meyakinkanku.
__ADS_1
Aku merasa malu dengan pikiran burukku.
Aku menimbang-nimbang ajakan suamiku. Jika tidak datang, tidak enak juga. Tapi, aku takut tuan Juna mengundang adiknya juga untuk makan besok malam.
"Gimana Honey? Kamu mau apa ngga?" Tanyanya lagi, pikiranku buyar kemana-mana.
"Iya deh Yang, aku mau," jawabku pasrah.
Dia memelukku semakin erat, aku merasakan hangat nafasnya menerpa wajahku.
Apalagi kalau bukan tentang dia yang mahal sekali dalam memuji. Padahal seorang wanita sangat ingin sekali dipuji, meskipun dalam hal sederhana sekali pun.
Bahkan kata gombalan pun mampu meluluh lantahkan perasaan seorang wanita. Meskipun kita tahu, bahwa itu hanya bualan semata.
"Mata kamu masih terbuka aja Yang, ayo tidur! Atau kamu mau kita tidak tidur semalaman? Godanya disusul dengan suara tawanya.
"Iih apaan sih kamu Mas! Mesum deh, emangnya gak bosen apa, hampir setiap hari ngajakin 'kerja malam'?"
__ADS_1
"Ngga pernah bosan Yang, kamu sih bikin aku ketagihan. Kok, tiba-tiba jadi pengen ya?" Katanya tersenyum jahil.
Tuh kan, untuk urusan beginian saja dia paling banyak bicara. Tapi kalau memuji, susahnya minta ampun.
Memang ya, kebanyakan pikiran laki-laki itu ke arah 'itu' saja. Bahkan aku tak habis pikir, mas Irsyad yang pendiam begini, mendadak banyak bicara kalau membahas soal ....
"Mas kamu nyebelin deh. Jangan macam-macam! Ayo kita tidur! Aku gak mau yah bikin sesuatu di bawah sana terbangun. Aku gak tanggung jawab lho, Mas." Kini giliran aku menggodanya.
"Makanya cepetan tidur Sayang, sebelum semuanya terlambat."
"Aku mencintaimu, Raina Sayang." Ucapnya tiba-tiba sembari mengecup bibirku sekilas.
Dadaku berdebar hebat, dia jarang sekali menyatakan perasaannya.
Aku rasa tadi siang tuan Juna memberi makanan yang salah pada suamiku.
"Tuan Juna, apakah aku harus berterimakasih padamu?" Tanyaku dalam hati, lalu aku memejamkan mata dan memeluknya semakin erat.
__ADS_1