Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 25


__ADS_3

Flashback


Hari ini pekerjaan tidak terlalu banyak, aku segera bergegas untuk pulang. Satu pesan masuk ke ponselku.


Kulihat pesan tersebut, ternyata dari Mba Diya. Dia ingin bertemu denganku di sebuah Mall. Kulihat jam yang melingkar ditangan kiri. Waktu menunjukkan jam setengah 5 sore.


Kurasa cukup jika aku berbincang dengan Mba Diya sampai maghrib. Kubalas pesan tersebut dan segera menyusulnya ke Mall. Kami bertemu di salah satu Cafe.


Kulihat wanita bergaun putih itu tengah duduk seraya meminum jus. Segera kuhampiri dia.


"Assalamu'alaikum, Mba. Maaf ya menunggu lama, lumayan macet soalnya." Ucapku merasa tak enak hati.


"Wa'alaikumsalam. Iya gak apa-apa Rai, eh pesan makanan dulu ya. Biar enak ngobrolnya."


Lalu kami memesan makanan dan menunggu pelayan datang membawa pesanan kami.


"Maaf Rai, kalau aku tiba-tiba ngajakin kamu ketemu. Soalnya aku bete di rumah, Mas Juna terlalu sibuk di kantor," keluhnya.


Aku masih diam, menunggu kalimat selanjutnya.


"Rai... ternyata mencintai tanpa balasan itu sakit ya? Apa dia bisa mencintaiku sedikit saja?" Keluhan yang kedua, membuatku mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Kenapa Mba Diya berbicara seperti itu? Pelayan datang, lalu meletakkan makanan pesanan kami. Setelah selesai, pelayan itu berlalu pergi.


"Silahkan di makan dulu Mba, sepertinga efek lapar Mba jadi ngaco," kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mba Diya terkekeh mendengar celotehanku. Aku senang melihatnya tertawa seperti itu.


"Kamu benar Rai, tapi yang kukatan tadi serius. Aku sedang jatuh cinta pada suamiku sendiri, tapi dia tak membalas perasaanku. Kita tidak pernah tahu 'kan? Pada siapa hati ini akan berlabuh." Ujarnya sedih, wajahnya murung.


Kuraih jemarinya, mengusap punggung tangannya lembut.


"Kalau Mba mau cerita, cerita saja. Aku siap mendengarkan, Mba," ucapku memberi dukungan padanya.


Dan mulailah Mba Diya menceritakan tentang orangtuanya yang menjodohkannya dengan Tuan Juna. Anak dari teman Papanya.


Dan selama itu pula, tuan Juna belum pernah menyentuhnya. Bahkan mereka tidur terpisah. Tetapi, Mba Diya ingin mencoba menjadi istri yang baik.


Setiap hari dia memasak dan menyiapkan semua keperluan Tuan Juna. Meskipun tak pernah sekalipun ucapan terimakasih terlontar dari bibir suaminya.


Tuan Juna akan bersikap manis padanya, jika sedang bersama dengan orang lain. Seperti waktu itu ketika aku dan Mas Irsyad makan malam di rumahnya.


Aku begitu terkejut mendengar ceritanya. Bahkan aku menyangka, bahwa kehidupan Mba Diya dan Tuan Juna sangatlah sempurna.

__ADS_1


Aku mengira mereka saling mencintai. Tapi nyatanya? Ternyata setiap manusia hanya saling berprasangka saja, tanpa tahu hal yang sebenarnya.


"Rumah tanggamu pasti bahagia sekali 'kan Rai? Secara kau dan Irsyad saling mencintai. Pasti Irsyad pria paling romantis, biasanya ya, kalau pria pendiam itu sangat sweet sama pasangannya," Mba Diya mencoba menggodaku.


Aku hanya tersenyum samar, kami memang saling mencintai.


Tapi untuk urusan romantis, sepertinya prasangka Mba Diya salah. Mas Irsyad tidak semanis itu. Bahkan, aku sering sekali kesal karena sikapnya yang kaku.


Aku sebagai wanita, yang sifatnya ingin dipuji, namun suamiku itu jarang sekali mengucapkannya. Padahal satu kata pujian saja bisa membuat seorang wanita senang sekali.


Tapi ya, itu adalah kekurangannya. Aku pun selalu berusaha mengerti dia. Bagiku, dia selalu menjaga pandangannya terhadap wanita lain saja sudah cukup.


"Rai ... kok malah melamun sih? Coba sekarang ceritakan tentangmu dan juga Irsyad," pintanya antusias.


Aku pun tak dapat mengecewakan Mba Diya. Aku menceritakan semuanya.


Tentang rumah tanggaku dan perlakuan sederhana Mas Irsyad yang bisa membuatku luluh. Tak kuceritakan tentang suamiku yang 'mahal' akan pujian.


Biarlah itu menjadi rahasiaku dan Tuhan yang tahu. Beberapa kali Mba Diya, menutup mulutnya karena terkejut.


Lalu sedetik kemudian dia tertawa. Dia bilang, aku wanita paling beruntung di dunia mendapatkan suami seperti Mas Irsyad.

__ADS_1


Setelah puas bercerita, kami pulang bersama-sama. Karena adzan maghrib sudah berkumandang.


__ADS_2