
Lama berkutat pada berkas-berkas, membuatku lupa waktu. Kulihat jam yang melingkar di tangan kiri sudah menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit.
Kututup semua berkas, lants mengambil gawai yang sedari tadi terabaikan. Ada beberapa pesan dari suamiku dan juga Laras. Kubaca satu per satu pesan itu.
"Rai, kita makan siang bareng yuk? Kalau kamu sudah selesai, ke kantin aja langsung, ya." Isi pesan dari Laras.
"Sayang, sepertinya nanti aku bisa pulang masih sore. Kita makan malam di luar ya? Kamu jangan pulang telat, nanti aku jemput." Pesan dari suami tercinta.
"Raina ... aku ingin bercerita padamu. Besok kita ketemu ya? Ah ... hanya dengan membayangkannya saja, aku malu, Rai." Pesan dari Mbak Diya.
Apa yang sedang wanita itu bayangkan? Jatuh cinta memang bisa membuat seseorang menjadi tak waras.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, bahkan aku pun sedang merasakannya. Jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama. Membuatku menutup mata akan semua kesalahannya. Aku segera bergegas menuju kantin. Rindu juga dengan makhluk yang dua itu.
Entah kenapa hari ini moodku benar-benar baik. Aku merasa sangat bahagia. Semoga selalu seperti ini, Aamiin. Doaku dalam hati. Sampai di pintu kantin, mataku berkeliling mencari Laras dan Billy. Ke mana dua bocah itu?
Kulihat tangan yang melambai di ujung sana. Ternyata mereka memilih meja paling pojok. Ah ... kenapa harus terlalu pojok sih? Enakkan di sebelah sini kan, bisa berbaur dengan yang lain. Aku segera menghampiri meja tersebut.
"Lama banget sih, Rai? Kita nungguin dari tadi!" gerutuan dari Laras. Aku abaikan saja, toh dia sudah biasa seperti itu.
"Nih, si Cerewet gak mau katanya. Mau nungguin kamu dulu. Padahal, perutku sudah lapar sekali." Kini gantian, Billy yang menggerutu kesal pada Laras.
"Kan biar bareng-bareng makannya, Bill. Gimana sih! Yaudah, kita pesan makanan sekarang." Putus Laras seraya memanggil seorang pelayan.
__ADS_1
Setelah memesan makanan, kami mengobrol ringan. Kuperhatikan wajah Billy. Ada yang aneh dengan tatapannya pada Laras. Lelaki itu menatap dengan penuh cinta. Bibirnya terus merekah mendengarkan Laras bercerita. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki ganjen itu.
Melihat tatapan Billy, aku menjadi teringat suamiku. Mas Irsyad selalu menatapku dengan cinta. Mata teduhnya membuatku tak bosan menatapnya. Ah ... sebegitu cintanya kah aku padanya? Semua makanan telah tersaji di meja.
Aku segera melahap Bakso super pedas yang sangat menggoda ini. Laras dan Billy silih berganti mengingatkan agar aku tak kebanyakan taruh sambalnya. Merek tahu kalau aku mempunyai riwayat Tukak lambung. Aku hanya bisa menganggukkan kepala.
Namun, tak menghiraukan ucapan mereka, maafkan aku teman-teman. Selepas menikmati makan siang, kami bergegas kembali ke ruangan. Aku harus semangat menyelesaikan semua berkas ini agar bisa pulang lebih awal. Jangan sampai suamiku nanti kecewa karena menungguku lama.
******
Assalamu'alaikum Readers. Selamat pagi 😊 Apa kabar semuanya? Mudah-mudahan dalam keadaan sehat, ya. Aku mau memgucapkan terima kasih pada kalian yang setia nungguin novel ini update 😆 ya meskipun aku gak tahu, apa ada yang nungguin atau enggak. hehe
__ADS_1
Maaf ya, sepertinya aku akan jarang update. Sebab, aku sedang ada projeck barud di platform sebelah dan sedang menulis untuk judul novelku yang baru. Minta doanya ya teman-teman, semoga aku sehat dan bisa menulis setiap hari. Bisa update di sini saban hari 😆