Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 46 (POV 3)


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Raina, Diya tergesa kembali ke rumah. Wanita cantik itu ingin memasak makanan kesukaan suaminya. Ingin menyambut kedatangannya dengan penampilan spesial. Diya, sebenarnya tahu kalau selama ini suaminya menyukai Raina.


Beberapa kali dia melihat isi pesan yang selalu suaminya kirim  untuk Raina. Namun, dia merasa lega, sebab Raina tak pernah membalasnya. Maka dari itu, Diya bercerita tentang rumah tangganya kepada Rai.


Berharap Rai akan membantunya untuk membuat Juna bisa menerimanya. Satu jam lebih bertempur di dapur, akhirnya semua makanan sudah tersaji di atas meja makan. Diya segera berlari ke kamar untuk membersihkan diri dan menyiapkan penampilannya.


Setelah selesai dengan segala ritual mandinya, Diya membuka lemari dan memilih gaun mana yang cocok untuk malam ini. Pilihannya jatuh pada gaun berwarna mocca. Cerah, tetapi tak mencolok. Dengan segera Diya memakai gaun tersebut.


Memoles wajahnya, warna lipstik berwarna soft pink itu membuat dia terlihat sangat muda. Bekali-kali ia mematut dirinya di cermin. Senyum merekah dari bibir mungilnya. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu suaminya.


Lalu mendengar segala pujiannya. Terdengar suara pintu terbuka, Diya menoleh ke arah belakang. Dilihatnya Juna tengah menatapnya tanpa berkedip.


Diya tersenyum manis, melangkah menghampiri suaminya yang masih berdiri di ambang pintu. Diraihnya tas kerja yang sedang Juna pegang. Juna berdehem untuk mentralkan perasaannya.


Sungguh, Juna merasa bingung. Setiap kali bersama Diya, hatinya berdebar-debar, darahnya berdesir hebat saat lengannya bersentuhan dengan lengan istrinya.


"Mas, kamu mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Diya seraya menyimpan tas di sofa.


Lalu membantu Juna melepaskan jasnya. Disimpannya jas pada keranjang pakaian kotor. Juna masih saja diam, lelaki itu seakan tak rela melepaskan tatapannya dari sang istri.


"Mas? Kok kamu malah melamun?" tanya Diya lagi.


"Eh itu--aku, mandi dulu deh kayanya, gerah banget soalnya. Nanti kita makan sama-sama," jawabnya gugup.


"Yasudah kalau begitu, aku tunggu kamu di bawah," sahutnya.


"Diya ... kamu sangat cantik," ucapnya jujur.

__ADS_1


Lalu Juna berlalu begitu saja ke kamar mandi. Meninggalkan Diya yang sedang mematung dan tersenyum. Ingin sekali rasanya melompat-lompat, telalu senang mendengar pujian sederhana dari suaminya.


Diya menyiapkan baju untuk suaminya. Kaos berwarna navy dan celana cinno selutut pun menjadi pilihannya. Gadis itu turun menuju dapur, menunggu suaminya selesai mandi.


Tak berapa lama aroma shampo dan sabun sudah tercium, Diya menoleh ke arah tangga. Benar saja, suaminya sudah selesai dan menuju ke arahnya. Juna duduk di samping Diya.


Biasanya lelaki itu akan duduk di hadapan istrinya, tetapi ini untuk pertama kalinuya Juna ingin duduk di samping istrinya. Ingin bermanj-manja pada wanita yang selama ini dia hindari.


"Kamu mau makan sama apa, Mas?"


"Semuanya. Aku ingin makan makanan hasil masak istriku. Pasti rasanya lezat sekali," pujinya yang sukses membuat Diya tersipu malu.


Diya segera mengambilkan semua makanan yang diinginkan suaminya.


Mereka makan dengan perasaan bahagia. Sesekali Juna meminta Diya untuk menyuapinya. Begitupun sebaliknya, mereka terlihat seperti pengantin baru sungguhan. Sesekali jempol Juna membersihkan bibir Diya.


******


Makan malam telah usai. Diya dan Juna tengah menonton tv di kamar mereka. Diya duduk di sofa, sedangkan Juna tidur di atas pangkuan istrinya.


Ah ... manis sekali mereka ini. Seperti pasangan muda yang lainnya. Jemari Diya mengusap lembut kepala Juna, membuat lelaki itu begitu betah berada di pangkuan sang istri.


"Sayang ...." panggil Juna lirih.


Membuat Diya langsung menoleh, ini kali pertama Juna memanggilnya sayang. Diya tersenyum kecil, rasanya ingin sekali dia mencium suaminya.


"Iya, ada apa, Mas?" jawabnya lembut.

__ADS_1


Juna hanya diam. Lidahnya terasa kelu.


Bahkan dia sangat gugup sekarang, padahal ketika presentasi di hadapan klien tak segugup ini. Namun, bicara pada istrinya, Juna harus mengumpulkan dulu segenap keberanian. Dirinya benar-benar berubah 180°.


Jika dulu, Juna sering mengacuhkan Diya, tidak pernah sekali pun dia mengajak istrinya berbincang hangat. Sekarang, rasanya ada yang kurang jika sehari saja dia tak melihat senyuman dari wajah istrinya. Juna bangun dari pangkuan Diya. Lelaki itu menatap lekat bola mata istrinya.


Begitu teduh, bening seperti bayi baru lahir. Juna tersenyum. Kedua tangannya menangkup pipi Diya. Mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir tebal nan merah itu. Diya memejamkan matanya, menunggu dengan hati yang berdebar.


Bibir mereka telah menyatu. Juna mulai ********** lembut, jantungnya berdetak lebih cepat. Bibir yang selama ini menggodanya, kini tengah ia rasakan. Betapa manis dan menggairahkan.


Juna memperdalam ciuman dengan menekan tengkuk Diya. Gadis itu berusaha mengimbangi ciuman panas dari suaminya. Lama mereka berpagut, rasanya panas dingin telah menjalar ke seluruh tubuh mereka.


Juna menyudahi ciumannya. Mata sayunya menatap Diya lekat. Senyuman mengembang dari bibir keduanya. Juna menggendong  Diya ala bridal style. Sungguh, ini hal yang selalu Diya nantikan.


Menyerahkan mahkota dengan perasaan senang dan cinta. Lelaki itu membaringkan istrinya dengan lembut. Tangannya mulai membuka tali piyama yang melekat pada tubuh Diya.


Kini, mereka telah menanggalkan pakain. Juna mulai mencium leher istrinya, mengisapnya lembut. Lalu meninggalkan jejak kemerahan di sana. Desahan mulai terdengar dari bibir Diya.


Tangan Juna sudah nakal ke mana-mana. Dia sudah tak bisa mengendalikan dirinya. Di bawah sana sudah sangat mendesak, menuntut lebih. Namun, dia bermain dulu sekejap di dada milik istrinya.


Setelah puas, barulah dia memulai permainan inti. Terlihat rasa takut dari raut wajah istrinya. Juna tersenyum lembut. Dia tahu, ini yang pertama untuk Diya, begitupun untuknya.


"Aku akan pelan-pelan, percayalah, Sayang." Ucapnya parau, lalu Juna mulai mengarahkan 'junior'nya.


Beberapa kali mencoba, tetapi tak semudah yang dibayangkan. Ternyata, menerobos adalah hal yang paling sulit. Diya meringis menahan sakit. Juna mengusap lembut kepalanya. Sesekali mencium bibirnya.


Hentakkan yang ke-sekian, akhirnya berhasil juga. Juna sengaja mencium bibir Diya, agar jeritan istrinya tak terdengar keluar kamar. Dan ya, malam panjang baru mereka mulai.

__ADS_1


__ADS_2