Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 14


__ADS_3

Pagi telah datang, kulihat jam yang berada di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul 6. Sulit sekali untuk tidak tidur lagi setelah shalat subuh.


Kurentangkan kedua tangan, meregangkan otot-otot yang kaku. Lalu begegas menuju dapur. Kuikat rambut dengan bentuk cepol. Aku memakai celemek favoritku, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.


Setelah kurang lebih setengah jam aku berkutat dengan peralatan masak, kini dua porsi nasi goreng plus telur mata sapi telah siap untuk di hidangkan. Aku segera menuju kamar untuk membangunkan mas Irsyad.


"Bangun Mas, udah jam setengah tujuh nih. Ayo cepetan mandi." Kataku sembari menggoyangkan tubuhnya.


Dia menggeliat sembari mengerjapkan matanya.


Dia segera bangun, tanpa aba-aba dia mencium bibirku. Jantungku berdetak lebih kencang. Entah kenapa setiap perlakuan sederhana Mas Irsyad selalu membuatku merasa terbang tinggi.


"Pagi Honey, mandi bareng yuk?" Ajaknya dengan suara manjanya.


Aku hanya tersenyum menanggapi ajakannya. Sudah lama juga tak melakukan hal itu. Rindu juga ternyata, bermanja-manja di kamar mandi.


Ishh ... kok pikiran aku jadi mesum gini ya. Aku segera menuju kamar mandi. Mas Irsyad menyusulku, lalu kami melakukan lebih dari sekedar mandi bersama.


******


Aku telah siap dengan rok sepan warna hitam dan kemeja lengan pendek warna dasty pink, tak lupa dengan blezer dengan warna senada.

__ADS_1


Kulihat Mas Irsyad juga sudah rapi dengan setelah jas warna biru navy. Dia terlihat tampan dan juga gagah. Aku sangat beruntung dicintai olehnya.


"Yuk Sayang, kita berangkat," ajaknya seraya merangkul pinggangku.


Aku mengangguk dan kami bergegas menuju kantor. Baru setengah perjalanan, ponsel suamiku berdering. Dia menyuruhku untuk mengangkatnya.


Sebab tangannya tengah sibuk menyetir. Kuambil ponsel yang berada di saku jasnya. Mataku membulat sempurna ketika melihat siapa yang menelfon suamiku.


"Tuan Juna? Mau apa dia menelfon?" Gumamku, seketika terbayang senyum genitnya yang membuatku muak.


"Angkat Sayang! Kok malah dilihatin aja." Ujarnya membuyarkan lamunanku.


"Wa'alaikumsalam. Lho ko kamu yang angkat? Irsyadnya ke mana?" Tanyanya di seberang sana.


"Mas Irsyad sedang menyetir Tuan. Maaf ada apa Tuan menelfon?"


"Oh, saya ingin di jemput oleh suamimu. Mobil saya baru nanti sore baru bisa di ambil dari bengkel."


Aku menyampaikan permintaan tuan Juna pada suamiku.


Ia terlihat bingung, aku tahu dia merasa tak enak kalau sampai aku terlambat masuk kerja. Tak berapa lama suamiku mengangguk pasti.

__ADS_1


"Iya Tuan, kami akan ke sana sebentar lagi."


"Yasudah, saya tunggu. Assalamu'alaikum," pungkasnya.


"Wa'alaikumsalam." Kumasukkan lagi ponsel suamiku ke saku jasnya.


"Gak apa-apakan Yang, kalau ke sana dulu?" Tanyanya, kumenangkap keraguan di nada bicaranya.


"Iya Mas, gak apa-apa kok," balasku seraya tersenyum.


Mas Irsyad menggenggam tanganku. Aku merasa sangat nyaman saat besamanya seperti ini.


"Huh! Seandainya saja aku berani bilang Mas, kalau bos mu itu sangat menyebalkan. Mata keranjang!" Rutukku dalam hati.


"Dan aku, sangat bersyukur mendapatkan suami setia sepertimu. Aku yakin kau dapat menjaga pandangan dan hatimu, selagi kau jauh dariku."


Aku hanya bisa mengatakan itu dalam hati. Terlalu gengsi untuk mengatakan itu secara langsung.


Memang ya, wanita itu makhluk paling gengsi semuka bumi. Aku menjadi tersenyum sendiri, tapi ini balasan untuk mas Irsyad. Sebab, dia juga jarang sekali memujiku.


Membuatku kesal, tapi ya, yang terpenting adalah kita saling mencintai.

__ADS_1


__ADS_2