
Tuan Juna terlihat menghela nafas berat, sepertinya dia mulai tersentuh dengan ceritaku. Yes! Berhasil rupanya, aku yakin sekarang dia akan bersikap manis pada Mba Diya.
"Maaf Tuan, sepertinya saya harus kembali ke kantor. Ibu Risma telah mengirim pesan, bahwa yang menjemput sudah berada di luar."
"Oh iya, saya pikir kamu takkan dijemput. Tadinya saya akan mengantarkanmu," jawabnya seraya tersenyum genit.
Ish... dia masih belum sadar ternyata. Aku segera saja pamit meninggalkannya. Aku cerita panjang lebar, bahkan di lebih-lebihkan agar dia bisa melihat ketulusan istrinya.
Tapi sikap genitnya masih saja ada! Aku berdiri di depan restoran, kata Bu Risma yang menjemputku adalah anaknya. Sebab, Pak sopir sedang bersamanya.
Seperti apa ya kira-kira anak Bu Risma itu? Yang kudengar sih, katanya umur anak Bu Risma baru 20 tahun. Masih muda sekali, ganteng gak ya?
Aku menggelengkan kepala, pikiran aneh itu tak boleh muncul di benakku. Ah ngobrol sama Tuan Juna membuat otakku menjadi error.
"Hai, kita ketemu lagi. Makin cantik aja sih, sekarang terlihat semakin hot," godanya sangat menyebalkan.
Kupukul bahunya, tak kuhiraukan rintihannya. Kurang ajar sekali sih anak ini!
"Ampun Mba, aku cuman bercanda. Tapi kalau cantiknya sih seriusan," jawabnya cengengesan.
Aku mengatur nafasku yang memburu, menatap tajam ke arahnya. Cowok tengil yang pernah bertemu di supermarket waktu itu.
__ADS_1
"Sebentar, ciri-ciri Mba mirip sama yang dikatakan Mama. Mba, Raina bukan?" Tanyanya mengejutkanku.
Jadi ternyata? Dia adalah anaknya Bu Risma. Tidak mungkin! Aku membulatkan mata tak percaya.
"Aku Bisma, anaknya bu Risma. Salam kenal Mba Raina yang cantik dan juga..." ucapannya menggantung. Alisnya naik turun, apa maksudnya coba?
"Apa? Awas saja ya, kalau kau membuatku kesal lagi. Aku takkan memberimu ampun, aku akan mencubitmu di sini, di sini, dan juga di sini." Tunjukku di beberapa bagian tubuhnya.
Dia hanya terkekeh melihatku marah begini. Dia manusia bukan sih? Kok dimarahin malah cengengesan.
"Iya Raina, jangan galak-galak dong ah. Makin cantik tahu," godaan recehnya.
"Ayo antar aku ke kantor sekarang!" Pintaku, dan segera memasuki mobil.
Cih! Masih bocah saja sudah menyebalkan begini, apalagi nanti kalau sudah tua. Kulihat penjual gorengan di pinggir jalan. Kuminta agar Bisma menghentikan mobil.
"Ada apa Rai? Kok minta berhenti di sini?"
"Aku mau beli bakwan, dari tadi pagi aku pengen makan itu. Tunggu sebentar ya," kataku tak seketus tadi. Sebab, sepanjang perjalanan dia tak membuatku kesal.
"Biar aku saja yang turun. Tunggu saja di mobil, ini panas Rai. Nanti kamu kepanasan terus demam gimana coba?" Sergahnya sembari memegang tanganku.
__ADS_1
Kutepis tangannya. Dia mengaduh seraya tertawa. Aku terbuai juga dengan kata-kata manisnya. Bocah ini ternyata bisa sweet juga.
"Jangan curi-curi kesempatan ya! Pake pegang-pegang segala. Yaudah cepat turun sana!" Usirku agar dia cepat berlalu.
Tak pakai lama, dia sudah kembali ke mobil sembari membawa satu kantong kecil bakwan yang kuminta lengkap dengan cabe rawitnya.
"Makasih ya," ucapku tulus.
Segera kusambar kantong tersebut. Lalu kuambil satu bakwan dengan cabe rawit dan mulai memakannya. Sepanjang perjalanan, aku sibuk mengunyah sedangkan Bisma fokus menyetir.
"Enak banget ya? Kamu lahap banget makannya. Jangan kebanyakan makan cabenya, nanti kamu sakit. Gak makan cabe aja kata-katamu suka pedas, apalagi sekarang," candanya seraya terkekeh.
Aku memukul lengannya pelan. Entah kenapa aku bisa merasa senang mendengar kata perhatian darinya. Dia berbeda sekali dengan suamiku yang datar itu.
Astagfirullah, Mas Irsyad maafkan aku. Aku ralat deh, kamu tidak datar Mas, cuman jarang kasih perhatian saja.
"Udah deh, jangan membuatku kesal. Apa kau mau? Ini enak banget lho, masih anget pula."
Dia membuka mulutnya, aku mengernyitkan dahiku.
Jangan bilang kalau dia ingin aku suapi? Idih! Ogah banget deh!
__ADS_1
"Rai, mana bakwannya? Tadi nawarin sekarang malah gak dikasih," katanya.
Aku tersenyum jahat ke arahnya.