Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 37


__ADS_3

Mama nampak tahu apa yang aku rasakan. Beliau mendekat padaku, memelukku dengan penuh kasih. Menepuk punggungku pelan. Tanpa terasa, air mata lolos begitu saja.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Nanti Mama akan bicara sama Irsyad, agar dia lebih memperhatikanmu. Lebih baik sekarang, kamu istirahat saja. Ayo Mama antar," ajaknya seraya beranjak dari kursi.


Aku hanya menganggukan kepala, rasanya sudah lebih baik, setelah mendapat pelukan dari Mama. Kami sudah sampai di kamar tamu yang berada tak jauh dari ruang keluarga.


Mama masih duduk di tepi ranjang menemaniku. Mengusap kepalaku, aku tersenyum hangat pada Mama.


Ponselku berdering, kulihat nama Laras yang tertera disana. Langsung saja kuangkat, takut ada hal yang penting.


"Hallo, Assalamu'alaikum. Ada apa Ras? Tumben sekali menelponku di waktu weekend seperti ini," tanyaku diselingi gurauan.


"Wa'alaikumsalam, gitu amat Rai ngomongnya! Aku mau ngajakin kamu jalan-jalan nih, mau ngga?" tanyanya antusias, samar-samar kudengar suara lelaki di dekatnya.


"Jalan ke mana? Mau sih, tapi aku harus izin dulu sama suamiku. Eh ngomong-ngomong, itu siapa yang ada di dekat kamu?"


"Hallo Cantik, weekendnya ngapain aja nih? Jangan di kamar mulu, emangnya gak bosen apa?" Suara di seberang sana.


Aku sudah sangat hafal suara siapa itu. Tapi yang membuatku aneh adalah, kok Billy bisa bersama dengan Laras sih? Hmmm sepertinya ada yang tak beres nih.

__ADS_1


"Hallo Beb, kamu masih di sana kan?" Suara Billy lagi, aku semakin heran saja dengan tingkahnya. Tak ada bosannya menggodaku.


"Iya-iya aku masih di sini, sok manis banget sih Bill. O iya, kenapa kamu bisa sama Laras? Kamu lagi ngapelin dia ya? Hayo ngaku?" Kini terbalik, aku yang menggodanya.


"Apa? Ngapelin dia? Idih, kaya gak ada cewek lain aja!" kilahnya, bisa kutebak wajah Laras sekarang.


Pasti sangat merah karena marah. Bibirnya yang mengerucut dan pipinya yang bergelembung, duh lucunya.


"Heh! Emangnya siapa yang mau diapelin sama kamu? Dih! Ogah banget aku!" ketus Laras, kudengar tawa Billy di ujung sana.


"Jadi gimana Rai, mau ikut gak? Aku lagi di rumah nih, kamu lagi di mana?"


"Oh, oke deh! Aku sama Billy ke sana sekarang. Assalamu'alaikum," tutupnya.


"Wa'alaikumsalam." Kusudahi berbincang dengan Laras, Mama tampak ingin menanyakan sesuatu. Ia terus menatapku.


"Dari siapa Rai? Teman kamu?" selidiknya, namun nada bicaranya masih selembut tadi.


"Dari Laras Mah, teman kantor. Dia ngajakin aku jalan-jalan. Gimana ya? Aku ingin ikut, tapi gimana caranya izin sama Mas Irsyad. Aku takut ganggu dia kalau telfon sekarang," secara tidak langsung aku meminta saran dari Mama.

__ADS_1


"Kamu ikut aja Rai, biar gak jenuh di rumah. Telfon aja sekarang, siapa tahu diangkat. Kalau tiga kali dihubungi gak ada respon, yasudah kamu berangkat saja, nanti Mama yang sampaikan sama Irsyad kalau dia pulang," saran dari Mama.


Kutekan nomor suamiku, satu kali tak dijawab, kucoba lagi, menunggu dengan perasaan yang tak karuan.


Entah apa yang memenuhi dadaku, terasa sesak sekali. Akhirnya di detik terakhir Mas Irsyad menjawab telfonku.


"Assalamu'alaikum, Mas kamu masih lama ngga?"


"Wa'alaikumsalam, gak tau juga nih. Memangnya kenapa gitu?"


"Tadi Laras nelfon ngajakin jalan, aku boleh ikut gak?" tanyaku ragu, biasanya Mas Irsyad jarang memberi izin.


"Boleh, kamu ikut saja. Nanti aku nyusul, udah dulu ya Yang, aku mau meeting lagi. Assalamu'alaikum," sahutnya terburu-buru.


Seketika mataku berkaca-kaca, kenapa dia tergesa begitu? Dan tanpa berpikir panjang dia mengizinkanku untuk pergi ke luar tanpa dirinya.


"Gimana Sayang, apa Irsyad mengizinkan?" tanya Mama yang masih setia menemaniku.


"Ngizinin kok, Ma. Katanya dia mau nyusul kalau sudah selesai dengan pekerjaannya." Jawabku setenang mungkin. Padahal, dadaku sudah sangat bergemuruh.

__ADS_1


Sebisa mungkin aku menyembunyikan kegelisahan hatiku, aku tak ingin Mama memikirkannya. Biarkan beliau melihat rumah tanggaku dengan Mas Irsyad baik-baik saja.


__ADS_2