Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 36


__ADS_3

Tak terasa hari sudah di ujung minggu. Aku berencana untuk mengunjungi rumah mertua. Semalam, Mama mengatakan merindukanku, dan aku berjanji akan berkunjung ke rumahnya. Aku sangat beruntung memiliki mertua sebaik mereka.


Papa dan Mama sangat menyayangiku, mereka tak pernah mebeda-beda kan kasih sayang. Antara aku, Mas Irsyad dan juga adiknya.


Setelah menyelesaikan urusan di dapur, aku segera menuju kamar. Kubangun kan Mas Irsyad yang masih betah di dalam selimut.


"Mas bangun! Katanya mau main ke rumah Mama, nanti kesiangan lho, Mas." Kataku seraya menggoyangkan tubuhnya.


"Iya Sayang, sebentar lagi ya?" tawarnya dengan suara khas bangun tidur.


"Yasudah, aku mandi dulu. Tapi, awas aja kalau aku selesai mandi, kamu masih betah di dalam selimut. Aku gak akan ngasih--"


"Iya Sayang aku bangun," potongnya seraya mengecup bibirku.


Aku merasa malu dibuatnya. Segera kuberlari ke kamar mandi. Kulihat dia sejenak, dia sedang terkekeh melihat tingkahku. Ish! Dasar suami mesum.


*****


Kami sudah sampai di rumah Mama. Mas Irsyad mengetuk pintu seraya mengucap salam. Tak perlu waktu lama, Mama telah datang untuk membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam, Sayang apa kabar? Mama kangen banget sama kamu," ucap Mama berhambur memelukku.


Mas Irsyad hanya menggelengkan kepalanya. Siapa anaknya? siapa menantunya? Mungkin itu yang ada dalam benak suamiku.

__ADS_1


Karena kebiasaan Mama, jika kami datang, aku lah yang pertama kalinya disapa.


"Alhamdulilah baik Ma. Papa sama Mama gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik Sayang, ayo kita masuk!"


Lalu kami masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, nampak Papa dan adik Mas Irsyad sedang menonton tv. Segera kuhampiri mereka, menanyakan kabar dan mencium punggung tangan Papa.


Kami berbincang hangat, Mas Irsyad merangkul pinggangku. Mama dan Papa tersenyum simpul melihatnya.


Aku sangat malu! Mas Irsyad melepaskan rangkulannya, kala ponselnya berdering. Aku mendongakkan wajah saat suamiku itu berdiri.


"Sebentar ya Sayang, aku angkat telfon dulu," ujarnya berlalu pergi.


Kecurigaanku muncul kembali, padahal baru semalam, aku mempercayai kalau suamiku tidak berpaling.


"Sayang, kok melamun? Kamu memikirkan apa?" tegur Mama, aku terhenyak. Meraih kembali kesadaranku.


"Eh, maaf Ma, tadi aku cuman kepikiran masalah kerjaan saja," kilahku.


Aku tak ingin memberitahu kan tentang Mas Irsyad yang diam-diam bertemu dengan mantan kekasihnya.


"Jangan terlalu bekerja keras Nak, biarkan suamimu yang melakukan itu. Kamu harus pintar jaga kesehatan." Nasehat Mama, masih sama seperti sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"O iya, Mama tadi membuat kue, kamu cobain ya? Ayo kita ke dapur!"


Aku mengekor di belakang Mama, duduk manis di kursi tempat makan. Mama mulai memotong kue coklat yang ia buat.


Hemm sepertinya enak. Aromanya saja sudah menggugah selera. Apalagi taburan keju diatasnya membuat lidahku mengecap beberapa kali.


"Ini Sayang, coba kamu makan! Enak atau engga?" pinta Mama, matanya penuh harap aku akan memujinya.


Kuambil satu potong kue, memasukkannya ke dalam mulut. Ini sangat lezat! Begitu lembut di mulut, perpaduan manis dari coklat dan gurih dari keju, sangat pas menyatu.


"Ini enak banget Ma. Rai boleh minta lagi 'kan?" pintaku tanpa malu.


Mama hanya tertawa mendengar permintaanku. Mama potong beberapa kue, lalu menyodorkannya padaku.


"Sayang, aku harus pergi sekarang. Ada pekerjaan mendadak, maaf ya? Nanti aku jemput setelah pekerjaanku selesai," pamitnya seraya mencium keningku.


Kucium punggung tangannya. Perasaanku menjadi tidak enak. Aku takut Mas Irsyad membohongiku lagi.


Tidak biasanya dia menerima pekerjaan di hari libur begini. Tapi untuk menanyakannya, aku terlalu segan. Aku harus percaya padanya.


"Sayang, apa kamu sedih ditinggal suamimu?" tanya Mama, mungkin Mama melihat gurat kesedihan di wajahku.


"Mm ... iya Ma, akhir-akhir ini, Mas Irsyad sering lembur. Kami jadi jarang bertemu, bahkan hari libur begini, dia masih bekerja." Keluhku.

__ADS_1


__ADS_2