
Pagi ini rambutku kembali basah. Rasanya seperti pengantin baru saja. Selalu rindu dan selalu ingin menyatukan tubuh. Mas Irsyad bersikap manis sekarang. Aku senang dengan perubahannya. Semoga dia selalu seperti itu. Tak hentinya senyuman terkembang di bibirku. Mereka yang berpapasan denganku menatap dengan penuh rasa aneh. Kulihat dari dahi mereka yang mengernyit dan saling melempar pandang. Aku melenggang acuh.
Saat akan memasuki lift, kulihat Billy tengah berjalan ke arah kantin. Segera kulangkah kan kaki untuk menyusulnya. Sebab, kulihat sekilas wajah Billy terlihat kesal. Suara nyaring dari high heels-ku menggema ke penjuru ruangan.
Aku sedikit tergesa untuk mengejar Billy. Lelaki petikilan itu tengah duduk seraya memejamkan matanya. Kepalanya bersandar ke kursi. Kuhampiri dia, lantas duduk di hadapannya. Ragu-ragu aku bertanya.
"Bill, kau kenapa?"
Lelaki itu membuka matanya, lantas mengembuskan napas dengan kasar. Pria itu menatapku tajam. 'Apa salahku? Lihatlah tatapan membunuhnya? Mas Irsyad ... tolong aku!'
"Kenapa dia bisa seceroboh itu, Rai? Jelaskan padaku!" tanyanya tiba-tiba.
Aku mengernyitkan dahi. Apa maksud pertanyaan Billy? Dia siapa? Aku mencoba untuk berpikir dulu. Dalam benak hanya sda satu orang, yakni Laras.
"Jawab, Raina?" desaknya mengejutkanku.
__ADS_1
"Laras ceroboh apa?" Aku ganti bertanya.
"Ah ... dia bikin aku kesal sepagi ini. Kau tahu? Dia memakai rok pendek yang ketat dan kemeja berwarna putih. Bagian dalam yang menutupi ****nya tampak jelas sekali," sungutnya.
"Lalu?" Aku masih belum bisa meraba maksud ucapan Billy.
"Dia menjadi pusat perhatian laki-laki, Rai. Setiap pria yang menatapnya pasti langsung ke bagian ****nya itu. Apalagi saat dia akan ke toilet. Aku mengikutinya, takut ada yang berbuat kurang ajar ..." ucapnya menggantung.
"Tenyata benar dugaanku. Di sana ada beberapa pria yang menggodanya. Dia diam saja, Rai. Aku bingung dengan pikiran Laras. Rasanya aku ingin sekali memukul mereka habis-habisan."
Aku mengerti, kesimpulannya dia sedang cemburu. Lantas ke mana si Cerewet itu? Kenapa dia tak terlihat dari tadi. Aku akan memarahinya habis-habisan. Untuk apa dia berdandan seperti itu? Kita di sini bekerja sebagai divisi keuangan bukan sebagai wanita penggoda. Wajar saja kalau Billy sangat marah sekarang.
"Yasudah, Bill, nanti kita kasih tahu Laras. Sekarang, kita harus kerja dulu. Yuk, kita masuk ruangan!" ajakku, berharap lelaki yang sedang cemburu itu mau mengikuti langkahku.
Mau tidak mau Billy harus beranjak dari kursinya lantas kembali ke ruangan. Kami berjalan beriringan, langkah Billh gontai. Raut wajahnya masih menyimpan banyak amarah. 'Begitu cintanya kah Billy pada Laras?'
__ADS_1
Saat sampai di ruangan, mataku terbelalak melihat seseorang tengah duduk manis di sofa. Dia hanya 'nyengir' bak kuda. Lantas dia menghampiriku yang masih tepaku di ambang pintu. Mengapa sepagini harus bertemu dengan bocah ini?
"Hai, Cantik. Kenapa gak masuk? Ayok, sini cepat duduk!" Tangannya menyeret tanganku. Serupa terhipnotis, aku hanya menurut saja tanpa menepis tangannya.
Perasaan yang sama saat berdekataan dengannya. Aku duduk di kursi kerja, lantas mengalihkan pandangan ke meja. Ada beberapa map di sana. Bisma duduk di kursi yang berada di hadapanku. Mengambil berkas itu lalu menyerahkannya padaku.
"Kata Mama, pagi ini kamu akan bertemu dengan Tuan Juna dan Ibu Vania. Aku yang akan mengantarkanmu ke sana," ujarnya menjelaskan.
Aku mendesah frustrasi. Ah ... betapa beratnya hari yang akan aku jalani. Seharian bersama Bisma serupa menghadapi anak kecil .
Ada saja tingkahnya yang membuatku kesal. Terkadang, bocah ini bak orang dewasa yang siap untuk melindungiku. Namun, sedetik kemudian dia akan menjadi seseorang yang menyebalkan dan setiap tindakannya selalu tak terduga.
"Rai ... kok melamun?" Tangannya menepuk pelan lenganku.
"Eh ... aku gak apa-apa kok. Yasudah aku siapkan dulu semuanya. Kamu duduk saja dulu, jangan menyebalkan selama aku bekerja!" Mataku melotot tajam memberikan ancaman.
__ADS_1