Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 13


__ADS_3

Kami telah selesai makan, aku membantu Mba Diya untuk membereskan piring kotor dan mencucinya.


"Rai, jangan repot-repot. Biar aku aja yang beresin. Kamu kan tamu, masa iya harus cuci piring." Katanya tak enak hati.


"Gak apa-apa Mba, aku udah biasa kaya gini kok. Lagian aku malu, kalau cuman duduk manis aja." Balasku seraya tersenyum.


"Kamu baik banget deh Rai. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu. Aku hanya anak tunggal Rai, jadi aku sangat kesepian selama ini." Keluhnya dengan raut wajah menjadi sendu.


"Mulai sekarang, Mba boleh anggap aku adik Mba. Itu pun kalau Mba Diya mau," hiburku dan memeluknya erat.


Kutepuk punggungnya pelan, ia membalas pelukanku.


Ah rasanya nyaman sekali. Karena kebetulan, aku tidak mempunyai saudara perempuan. Kakak dan adikku laki-laki semua. 


Kami melerai pelukan, lalu membereskan piring-piring itu. Kami berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Dimana mas Irsyad dan tuan Juna sedang berbincang hangat.


Aku duduk di samping suamiku, sedangkan Mba Diya duduk di samping tuan Juna. Kami saling berhadapan. Lagi-lagi aku menangkap ketidak beresan dengan bos suamiku.

__ADS_1


Aku melihatnya mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Meski hanya sekilas, tapi aku bisa menangkapnya dengan jelas.


Aku melototkan mata ke arahnya. Aku tak perduli kalau seandainya dia marah padaku. Malahan itu bagus sekali. Tapi, dugaanku salah, dia malah semakin menggodaku. Tersenyum manis lalu mengedipkan lagi sebelah matanya.


"Ih apaan sih! Sebel deh, meskipun dia tampan, tapi kalau genit begitu, ngeri juga lihatnya." Kataku dalam hati.


"Mas, pulang sekarang yuk? Aku udah ngantuk nih." Bisikku pada mas Irsyad.


Suamiku hanya mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada tuan Juna dan mba Diya.


Tuan Juna terlihat tidak suka dengan penuturan suamiku. Terlihat dari air mukanya, dia menghentikan senyumnya seketika.


"Lho, kok buru-buru sekali Syad? Sebentar lagi saja, biarkan istrimu berbincang dengan istriku." Pintanya mencegah kepulangan kami.


"Males banget deh, harus lama-lama berbagi udara sama anda Tuan! Memangnya mba Diya kurang apa sih? Sampai dia genit ke wanita lain," rutukku dalam hati.


"Maafkan sekali lagi Tuan, tapi istri saya sudah lelah dan ingin segera beristirahat di rumah."

__ADS_1


"Oh... yasudah kalau begitu. Terimakasih sudah datang ke rumahku."


Aku hanya mendengarkan saja, tak lupa tersenyum ke arah tuan Juna dan Mba Diya.


"Harusnya saya dan Rai yang mengucapkan terimakasih Tuan. Terimakasih banyak Nyonya atas jamuannya, masakan Nyonya sangat lezat sekali." Pujinya, aku memutar bola mataku.


Cemburu juga sih, mendengar dia memuji masakan wanita lain.


"Ah mungkin hanya sekedar basa-basi saja. Meskipun makanannya tidak enak sekali pun, pasti mas Irsyad akan bilang enak," batinku bicara. Aku tersenyum geli, dengan cemburuku yang tak masuk akal ini.


"Ah kamu bisa saja Syad. Sering-sering ajak istrimu main kesini. Rai, boleh aku minta nomor ponselmu?" Pinta Mba Diya.


Aku segera mengeluarkan ponselku dan kuberikan padanya.


Usai menukar nomor ponsel, tuan Juna dan juga istrinya mengantarkan kami sampai ke pintu depan. Aku dan Mba Diya saling mencium pipi.


Setelah mengucakan salam, aku dan mas Irsyad bergegas memasuki mobil. Aku ingin seger hilang dari pandangan bos suamiku yang genit itu.

__ADS_1


__ADS_2