
Langit pagi ini begitu cerah. Angin berembus sedikit kencang. Jendela di ruangan yang ditempati Laras, sengaja dibuka. Billy sempat protes. Sebab, AC takkan terasa sejuknya. Kedua orang ituย sibuk berdebat. Dua orang teman lainnya hanya menggelengkan kepala.
"Dasar si Cerewet keras kepala!" rutuk Billy. Tangannya mencubit pelan pipi Laras.
"Ih, tangan kau gak bisa dijaga!"
Billy hanya terkekeh mendengar omelan Laras. Entah mengapa, mengganggu gadis itu sangat menyenangkan.
"Eh, nanti siang kita ajakin Raina makan di kafe seberang, yuk! Udah lama kan kita gak makan mie ramen," seru Laras.
"Telepon aja. Kalau aku, sih, oke-oke aja," sahut Billy. Pria itu tengah serius menekuri layar komputer. Rupanya, dia sudah mulai mengerjakan tugasnya.
"Kalau bicara itu, lihat wajah orangnya!" Kedua tangan Laras meraih pipi Billy dan mengarahkan kepadanya. Lelaki itu terkejut. Pandangan mereka beradu. Detak jantung mereka sama cepatnya.
Detik kemudian, Laras sadar apa yang telah dia lakukan. Secepat kilat dia melepaskan tangannya. Lalu, mengalihkan pandang. Mencoba berdeham, merapikan rambut, dan bajunya. Malu bukan main. Namun, Billy malah sebaliknya. Tersenyum penuh makna.
"Lain kali, lihat situasi, ya, Sayang," bisik Billy menggoda. Laras mendelik sambil berdecih.
Sementara itu, di ruangan Raina, dia tengah dipusingkan dengan tingkah Bisma. Pemuda petakilan itu tengah rebahan di sofa. Tertawa cekikikan sambil memainkan ponsel. Raina jadi susah fokus. Rapat dengan klien sebentar lagi. Nasib buruk, dia harus ditemani Bisma untuk menghadiri rapat tersebut.
"Ya Tuhan, tidak ada makhluk lainkah di dunia ini? Mengapa harus pemuda ini yang menemaniku," keluh Raina.
"Apaan, sih, Kak. Ngeluh mulu," sahut Bisma santai.
Ada debaran aneh. Dipanggil Kakak oleh Bisma terdengar lebih sweet. Padahal, itu wajar bukan? Mengingat usia mereka terpaut cukup jauh.
"Cepat siapkan mobil! Aku sudah selesai membereskan berkas-berkasnya," titah Raina. Sebelum berangkat, dia menyempatkan membalas pesan Laras yang mengajaknya untuk makan siang bersama.
***
Sebelum memasuki ruang rapat, Raina memberi intruksi kepada Bisma. Sikap pemuda itu sulit ditebak. Maka dari itu, Raina meminta Bisma diam saja. Tidak boleh mengganggu. Namun, sesaat setelah pintu ruangan tertutup sempurna, dia secepatnya keluar. Dua jam menunggu Raina, lumayan juga. Jadi, Bisma menggunakan kesempatan itu untuk menemui Nadin. Wanita yang dia temui di taman beberapa waktu lalu.
Bisma dan Nadin menjadi teman dekat. Keduanya memiliki banyak kesamaan. Meskipun Nadin lebih tua dari Bisma, tetapi keduanya sangat nyambung.
"Hai," sapa Bisma dengan senyum meriah.
"Hai. Kenapa ngajak ketemuan mendadak? Untung saja aku kerja sip siang," sahut Nadin.
"Mumpung ada kesempatan. Ibu sedang rapat dengan klien. Asisten pribadi Ibu juga sedang meeting. Jadi, untuk mengusir kebosanan aku menghubungimu."
"Oh, jadi aku hanya pengusir bosanmu?" Mata Nadin sudah menyipit.ย
__ADS_1
"Tuh kan, kalo berhadapan sama wanita, pasti serba salah," batin Bisma.
Nadin memanyunkan bibirnya. Melipat tangan di dada. Wajahnya dialihkan menjadi menghadap ke danau.
"Maksud aku bukan begitu, Nad. Aku ... itu ... anu ...." Bisma kebingungan hendak menjawab apa.
Namun, Nadin malah tertawa. Baginya, wajah polos Bisma sangat lucu. Dia bisa melihatnya melalu ekor mata. Bisma menyadari kalau Nadin hanya pura-pura merajuk.
"Awas kau, ya!" Bisma mengancam. Tangannya menggelitik perut Nadin. Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Ampun, Bisma," ujar Nadin.
Bisma menghentikan aksinya. Untuk beberapa saat, mereka bersitatap. Ada gelenyar aneh yang dirasakan keduanya. Semakin lama, wajah mereka kian mendekat. Dengan debaran yang semakin kencang, Bisma memberanikan diri untuk mengecup bibir mungil Nadin. Pada akhirnya, perasaan mereka melebur menjadi satu.
Di ruangan Irsyad, Vania tengah duduk manis. Sesekali dia menggoda lelaki itu. Namun, pertahanannya begitu kuat. Bahkan, Vania sangat berani membuka dua tiga kancing kemejanya. Lalu, memutari kursi yang tengah Irsyad duduki. Berbisik ke telinganya, tetapi suami Raina itu tetap tak acuh.
"Keluar dari ruangan saya!" tegas Irsyad. Dia sudah tidak dapat menahan emosinya. Baginya, wanita seperti Vania sangat menjijikan.
"Kau tidak bisa mengusirku, Syad. Mas Juna sudah memerintahkanmu untuk rapat bersamaku," sahutnya santai.
"Sial! Kenapa hari ini begitu sulit," rutuk Irsyad dalam hati.
Sedari tadi Irsyad menyiapkan berkas-berkasnya. Namun, Vania terus saja mengganggu sehingga pekerjaannya tidak selesai-selesai.
Vania menyunggingkan bibirnya. Entah apa yang akan dia perbuat. Wanita itu berjalan menghampiri Irsyad. Lalu, duduk di kursi berhadapan dengan pujaan hatinya.
"Irsyad," panggilnya manja.
Lihatlah! Baru saja semenit yang lalu Irsyad menyuruhnya untuk diam dan jangan mengganggu, tetapi Vania sudah membuatnya jengkel.
Irsyad menatap Vania dengan tajam. Wanita itu tersenyum menggoda.
"Kau sangat tampan," pujinya.
"Berkasnya sudah siap. Mari kita bahas ini dengan klien. Jangan membuang-buang waktu Nona Vania," sindir Irsyad. Dia langsung meraih kunci mobil dan meninggalkan wanita rubah itu sendirian.
"Awas saja kau! Lelaki mana yang tidak bisa aku taklukan," geram Vania. Dia menghentakkan kakinya mengikuti Irsyad.
***
Sudah setengah jam Raina menunggu Bisma. Namun, lelaki itu tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Berkali-kali ditelepon, tetapi tidak diangkat.
__ADS_1
"Ke mana, sih, pemuda petakilan itu! Sudah kuduga, dia hanya akan membuatku kesal saja." Raina terus saja melalukan panggilan.
Tidak berapa lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan Raina. Matanya langsung memelotot saat sang pengemudi membuka kaca mobil.
"Maaf, Cantik. Tadi aku jalan-jalan dulu setitik," ujar Bisma tanpa merasa berdosa.
Raina berjalan cepat menghampiri Bisma. Dia akan memarahi anak itu. Tidak peduli oleh pengunjung yang memperhatikan mereka.
"Setitik katamu? Heh, bocah! Aku sudah menunggumu setengah jam, tau. Yasudah, cepat antar aku ke kantor," sentak Raina.
Dengan cepat Raina memasuki mobil. Terik matahari telah membakar kulitnya sejak menunggu Bisma di parkiran.
"Jangan marah, Kak. Aku minta maaf. Tadi habis ketemu ...." Bisma merutuki kebodohannya. Jangan sampai dia keceplosan telah bertemu dengan seorang wanita.
"Bertemu siapa?" Raina menjadi penasaran.
"Itu ... anu ... gak penting kok, Kak." Bisma menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sepanjang perjalanan, Bisma membayangkan adegan di tepi danau. Betapa manisnya bibir Nadin. Dia bisa menebak, kalau gadis itu memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Setiap kali mengingat wajah Nadin, dadanya akan berdebar-debar. Bibirnya akan tersenyum merekah.
Raina melirik Bisma. Lalu, mengernyitkan dahi. Merasa aneh dengan sikap pemuda itu. Namun, Raina tidak ingin menanyai alasannya. Dia lebih memilih memejamkan matanya sejenak. Akhir-akhir ini, tubuhnya sering merasa mudah lelah.
Sepuluh menit kemudian, Raina membuka matanya. Lalu, terbayang makanan yang mungkin susah didapat.
"Bisma, aku ingin nangka," ujarnya.
"Hah, nangka? Yang benar saja, Kak. Beli nangka harus di pasar tradisional," sahut Bisma.
"Gak mau tahu, pokoknya aku pengen makan nangka!" teriak Raina. Dia merajuk, terus menyebutkan buah itu berulang-ulang. Bisma menjadi sangat pusing.
"Wanita itu bikin ribet," kata Bisma pelan.
"Apa kau bilang?" Raina memukul pelan bahu Bisma. Pemuda itu meringis, lalu tertawa.
"Yaudah, kita ke pasar dulu sebentar." Bisma akhirnya mengalah. Dia harus sangat sabar menghadapi seorang wanita. Apalagi, wanita itu secerewet Raina.
Ponsel Raina berdering. Ada pesan masuk melalui WhatsApp. Dibukanya pesan tersebut. Mata Raina terbelalak melihat foto yang baru saja dia terima.
"Ini tidak mungkin," gumamnya. Air matanya lolos.
***
__ADS_1
Assalamualaikum, Readers. Apa kabar? sudah lama sekali kita tidak bersua ๐ semoga kali ini saya bisa melanjutkan novel ini. mohon dukungannya, ya. like, komen, tekan tombol favorit, dan vote ya ๐