
aku sedang cemburu sekarang? Ah ... rasanya aku seperti orang gila. Melihat suamiku didekati wanita lain. Terlebih wanita itu lebih sexy dariku.
Aku menatap taham ke arah Mas Irsyad. Lelaki itu terlihat terkejut dan takut sepertinya. Terlihat dari matanya yang membulat dan jakunnya yang naik turun.
"Mas Irsyad, kita makan siang bersama gimana?" tanyanya manja, jemarinya tak berhenti mengelus lengan suamiku. Meski berkali-kali suamiku menepisnya.
"Jangan mengajak pria beristri makan siang berdua, Vania!" tegur Tuan Juna.
Aku terperangah mendengar ucapan Tuan Juna. Lelaki itu ternyata sudah berubah, aku senang melihat perubahan sikapnya.
"Oh, kau sudah mempunyai istri? Baiklah, kalau begitu kita ajak Mbak Rai saja, agar tidak terjadi kesalah-pahaman," jawabnya ringan.
Hei! Aku ini istrinya. Pasti saja aku akan ikut. Mana rela aku membiarkan Mas Irsyad bersama wanita murahan sepertimu!
"Saya setuju. Lagi pula, saya sangat lapar sekali," jawabku cepat.
Kulihat Mas Irsyad dan Tuan Juna saling pandang.
Sepertinya mereka bingung, kenapa aku tak memberitahu tentang hubunganku dengan Mas Irsyad. Aku hanya ingin tahu, sampai mana wanita rubah ini akan mendekati suamiku.
"Gimana, Mas? Apa kamu setuju?" tanyanya genit.
Ingin sekali aku muntah mendengar suaranya.
"Terserah saja."
Hanya itu jawaban suamiku. Irit sekali. Ah ... bukankah dia memang seperti itu? Jarang sekali berkata panjang-panjang.
Apalagi untuk bermulut manis bak madu, mungkin jika itu terjadi, hujan akan turun dengan derasnya detik itu juga. Kami berjalan keluar menuju mobil suamiku. Aku berada di kursi belakang. Sedangkan wanita centil itu duduk di kursi depan menemani suamiku. Hening! Tak ada obrolan dari kami.
Sesekali suamiku menatapku melalui kaca spion yang ada diatasnya. Saat tatapan kami bertemu, aku melototkan mata padanya. Seketika, dia mengalihkan pandangannya. Awas saja nanti di rumah!
Kami memasuki salah satu cafe ala anak muda. Berkat rekomendasi dari si wanita centil itu, kami makan siang di sini. Setelah menemukan meja yang cocok, kami langsung duduk lalu memesan makanan.
Aku mengunyah makanan dengan kasar. Melihat Vania yang berusaha menyuapi suamiku. Heh! Dia tak tahu malu sekali. Seandainya aku ini bukan istrinya, dia tak bisa bermesra-mesraan di muka umum kan?
"Mas, kamu sudah berapa lama menikah?" Vania memulai obrolan.
"Sebentar lagi kami merayakan anniversary yang pertama," jawab suamiku.
__ADS_1
Aku hanya menjadi pendengar yang baik dan benar saja. Sembari sesekali mataku melotot tajam pada Mas Irsyad.
"Oh, masih baru, toh. Cantikan mana, istrimu atau aku?" tanyanya tanpa berdosa.
Suamiku menghentikan aktivitas makannya. Mungkin dia merasa tak suka dengan pertanyaannya dari Vania.
"Dia wanita paling cantik di dunia ini!" ucapnya tegas.
Aku meleleh dibuatnya. Menguap tanpa jejak kekesalanku padanya. Kulirik Vania yang tampak kesal. Dia memotong daging dengan gerakan kasar.
"Oh, tetapi pasti lebih sexy aku 'kan?" Vania masih belum menyerah.
"Se-tertutupnya pakaian dia, di mataku, dia tetap menjadi wanita paling sexy."
Ingin sekali aku tertawa melihat air muka Vania. Wajahnya merah padam dan ditekuk. Kasihan sekali. Usahanya gagal total dalam mencari perhatian suamiku.
Seperti itulah kami melewati makan siang bersama. Hari ini, aku memutuskan untuk memaafkan suamiku. Dia hanya manusia bisasa bukan? Takkan terlepas dari salah dan dosa. Aku yakin, dia takkan mengulang lagi kesalahannya.
Pintu mobil sudah terbuka, saat hendak memasuki mobil, sebuah teriakkan menghentikan langkahku. Suara itu? Aku sangat hafal sekali. Aku rasa wajahku sudah pucat pasi.
Kulirik Mas Irsyad yang ada di seberangku. Dia mengernyitkan dahinya, seolah-olah bertanya siapa yang memanggil namaku. Suara itu semakin dekat, seseorang itu terus memanggil namaku.
"Raina! Kau di sini? Siapa mereka?" Bisma memberondong pertanyaan.
"Mm ... mereka adalah rekan bisnis di perusahaan bu Risma," jawabku.
Setelah memperkenalkan mereka, Bisma meraih lenganku untuk mengikuti langkahnya. Dia mengajakku kembali ke dalam untuk menemaninya makan. Aku terus diseret olehnya. Kulihat Mas Irsyad mengejarku. Sedangkan Vania--wanita itu hanya diam mematung di dekat mobil.
"Hei! Raina harus cepat kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," sentak Mas Irsyad.
Bisma melepaskan genggamannya. Lalu melangkah mendekati Mas Irsyad. Jantungku sudah berdetak lebih kencang. Takut terjadi baku hantam antara mereka.
"Aku hanya meminjam Raina sebentar. Memangnya kau siapa berani mengaturku?" sindir Bisma.
Bocah petakilan itu tersenyum miring. Berani sekali dia berbicara tidak sopan seperti itu pada suamiku. Mas Irsyad menyunggingkan senyum. Lengannya meraih lenganku, lalu sebelum pergi suamiku berkata kepada Bisma.
"Dia ini, istriku!" tegasnya seraya menyeretku untuk menuju parkiran kembali. Kepalaku menoleh ke arah belakang.
Kulihat Bisma ternganga, mungkin dia tak percaya kalau aku sudah menikah, terlebih suamiku adalah Mas Irsyad. Mas Irsyad menyuruhku untuk duduk di depan menemaninya. Vania protes tak setuju! Perdebatan kecil terjadi antara suamiku dan wanita centil itu.
__ADS_1
Akhirnya Vania mengalah dan duduk di belakang. Raut wajahnya sangat masam. Hah ... aku tak peduli! Lagi pula aku lebih berhak untuk ini. Kami larut dalam perasaan masing-masing.
Aku merasa terus teringat pada Bisma. Bagaimana perasaan laki-laki itu sekarang. Apa dia menjadi membenciku? Atau malah tidak mempercayai ucapan Mas Irsyad?
"Raina ...." panggil Vania, membuyarkan lamunanku.
"Iya, ada apa, Mbak?" jawabku malas.
"Bisma itu siapa? Pacar kamu, ya?"
Aku membulatkan mata sempurna. Melirik lelaki tampan yang sedang fokus mengemudi. Lelaki itu bergeming, sepertinya dia sangat kesal sekali.
"Dia hanya anak dari bos saya, Mbak," ujarku seraya berdehem. Sangat gugup sekali rasanya!
"Oh, tetapi aku yakin kalau kalian saling menyukai. Dia terlihat sekali sangat menyukaimu, Rai. Mengapa kalian tidak berpacaran saja? Dia tampan juga, lucu, seperti Oppa-oppa Korea," cerocosnya seraya tertawa kecil.
Aku semakin gusar, apalagi melihat raut wajah Mas Irsyad yang tak terbaca. Bingung! Itulah yang saat ini kurasakan. Ucapan Vania serupa bensin yang dapat menyambar api cemburu semakin berkobar.
"Kalau begitu, kenapa tidak Mbak Vania saja yang berpacaran dengan Bisma?" aku ganti bertanya. Dia tertawa. Memangnya apa yang lucu dari ucapanku?
"Aku menyukai Irsyad," jawabnya santai.
Jantungku seperti mau copot saja. Dia benar-benar gila! Berani sekali berkata terus terang seperti itu. Suamiku hanya bergeming.
Entah terbuat dari apa hatinya. Sampai tak merespon apa pun dari perkataan Vania. Mobil telah terparkir sempurna di depan kantorku. Aku segera membuka seatbelt tanpa memperdulikan ucapan Vania tadi.
"Rai ...." panggil Vania mencegah langkahku.
"Ada apa, Mbak?"
"Malam minggu nanti, kita double date yuk? Kau dan Bisma, aku dan Mas Irsyad," ujarnya tanpa beban.
Mas Irsyad menoleh ke belakang. Vania tersenyum manis. Cih! Menyebalkan sekali wanita ini.
"Raina, istri saya!" ujar Mas Irsyad, kulihat wajah Vania memerah. Entah karena marah atau malu.
"Sayang, aku balik lagi ke kantor ya? Kamu jangan terlalu cape kerjanya," kata Mas Irsyad seray mencium keningku.
Aku masih tak percaya dengan tindakan mas Irsyad. Dia terlihat asing bagiku.
__ADS_1
Biasanya dia akan terlihat malu-malu jika menunjukkan kemesraan di depan orang lain. Namun, sekarang? Mas Irsyad mengulurkan tangannya, aku segera mencium punggung tangannya.
Sekali lagi dia mengecupku, tetapi bukan di kening, melainkan di bibirku. Kulirik sesaat Vania yang terdiam di kursi belakang. Napasnya begitu memburu. Aku melangkah dengan sejuta kebahagiaan. Tak peduli dengan kekesalan Vania terhadap kemesraan kami.