
Aku masih betah bersembunyi dibalik selimut tebal. Menunggu Mas Irsyad pulang. Berkali kulihat jam yang berada di dinding kamar. Namun, belum menunjukkan tanda-tanda kepulangannya. Air mata mengalir deras tanpa dikomando.
Aku benci hal ini! Ini sudah mau maghrib, tetapi dia masih asyik saja menemani wanita itu. Tak berselang lama, aku mendengar deru mesin mobil. Aku merapikan penampilanku yang sudah berantakan.
Mencuci muka secepat kilat, memoleskan sedikit lipstick dan menabur sedikit bedak. Aku tak ingin terlihat menyedihkan dimatanya. Meski keadaan sebenarnya jauh lebih berantakan dari penampilanku.
Tedengar suara pintu terbuka, aku berpura-pura memainkan gawaiku. Tak memperdulikannya. Dia mendekat ke arahku, mengecup keningku sekilas.
"Kok kamu gak ngasih tahu kalau pulang duluan? Tadi aku ke rumah Mama," tanyanya santai.
Apa dia tidak pernah merasa berdosa? Apa dia pikir, kebohongan akan selamanya tersimpan rapat?
"Maaf Mas, setelah dari Mall tadi kepalaku pusing. Jadi aku meminta Billy dan Laras untuk mengantar ke rumah saja."
"Kamu sudah minum obat? Kenapa bisa pusing? Kamu kecapean Rai, kan aku sudah bilang, jaga kesehatanmu," omelnya.
"Sudah tadi," jawabku malas.
Aku benar-benar merasa muak melihat wajahnya yang polos itu. Lebih muak lagi pada diriku yang tak pernah bisa untuk membencinya. Mendengar jawabanku, Mas Irsyad terdiam. Tiba-tiba tangannya menangkup pipiku.
Diarahkannya pada wajahnya yang sudah terlihat serius. Mata kami saling bersitatap. Sungguh, aku tak kuasa menatap matanya yang teduh itu.
Lama kami saling terdiam. Jantungku berdetak lebih kencang. Apa aku akan sanggup untuk bercerai darinya? Bahkan kini aku sangat ingin dipeluknya.
Aroma tubuhnya sudah menjadi candu bagiku. Mas Irsyad jahat! Dia membiarkan aku mencintainya dengan seluruh kehidupanku.
Namun, kini dia dengan mudahnya berpaling dariku. Wajahku sudah memanas, aku rasa sebentar lagi tangisku pecah. Embun dalam pelupuk mataku sudah berdesakkan ingin keluar.
"Kau kenapa?" tanyanya lembut.
Tubuhku sudah bergetar dan air mataku lolos begitu saja. Aku menangis di hadapannya. Ini memalukan!
"Kamu kenapa Sayang?" tanyanya lagi tanpa merasa berdosa sedikitpun.
"Aku lelah, ingin tidur. Lepaskan aku Mas!" Aku menurunkan tangan Mas Irsyad dari pipiku.
__ADS_1
Segera kurebahkan tubuh membelakanginya. Menangis sesenggukan dibalik selimut. Kurasa sekarang, Mas Irsyad tengah menatapku dengan bingung.
Ranjangku bergoyang, mungkin dia sudah beranjak dari tempat tidur. Baguslah, memang ini yang aku harapkan. Dia meninggalkanku sendiri.
Aku masih butuh banyak waktu untuk bisa memafkan kesalahannya. Meskipun kata maaf tak terucap dari bibirnya.
"Jangan tidur Sayang, sebentar lagi adzan. Kita shalat sama-sama," suaranya terdengar dari arah kamar mandi.
Aku diam saja, suaraku akan terdengar sumbang kalau buka suara. Kenapa mencintainya harus sesakit ini?
******
Selepas shalat maghrib kami makan malam bersama. Tak ada obrolan seperti biasa. Aku larut dalam perasaan sakitku. Tak tahu dengan Mas Irsyad, apa dia merasakan hal yang sama denganku? Aku menyudahi makanku, rasanya sangat mual tidak enak di perut. Kulihat buah jeruk, sepertinya sangat enak dan segar. Segera kukupas dan langsung memakannya.
Hmm segarnya, hanya saja kurang asam. Mas Irsyad meletakkan sendoknya kasar, sehingga terjadi bunyi yang cukup nyaring. Aku menoleh ke arahnya. Kenapa dia mendadak menakutkan seperti itu?
"Ada apa Mas?"
"Kamu yang ada apa?" Dia balik bertanya.
"Maksudmu? Aku gak ngerti."
Ish! Kenapa sih dia itu, dia yang punya salah dia yang marah. Akhirnya mau tak mau aku mengikuti langkah kakinya. Kulihat dia sudah duduk di sofa yang berada di dalam kamar.
Aku duduk di hadapannya. Dia menatapku tajam, seolah-olah mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya.
Aku pindah posisi dari pada runyam nantinya. Toh dia masih suamiku, jadi aku masih harus taat padanya kan?
"Kamu kenapa diam terus dari tadi? Kamu acuh sama aku, ada apa Rai? Aku bukan paranormal yang tahu isi hati kamu tanpa kamu jelaskan," ucapnya to the point.
Apa yang harus aku katakan? Apa aku katakan yang sebenarnya tentang apa yang aku lihat.
Namun, aku benar-benar belum siap mendengar segala kejujurannya. Ah oke! Aku ceritakan saja, agar masalahnya tidak berlarut-larut.
"Tadi sore aku melihatmu di sebuah ruang perawatan," kataku menggantung.
__ADS_1
"Di sana aku melihat ada kamu bersama seorang wanita. Kamu menyuapinya begitu mesra ... siapa dia?" Suaraku sudah terasa tercekik.
Kulihat Mas Irsyad nampak terkejut, ia memejamkan matanya. Menarik rambutnya ke belakang, entah apa maksudnya. Apa dia malu karena ketahuan berbohong? Atau merasa bersalah terhadapku?
"Kamu gak perlu jawab. Aku sudah mengerti sekarang ..." lanjutku, sebab suamiku tak kunjung memberi jawaban.
"Dia Nadin, dia sedang sakit sekarang ..." suaranya tedengar sumbang.
"Apa urusanmu? Hubungi saja keluarganya," ucapku berang. Jawaban Mas Irsyad serupa bensin yang menyulut emosiku.
"Dia hanya tinggal sendiri di sini, keluarganya sudah pindah ke luar kota."
"Lantas kau lebih memilih dia dibanding kan menemaniku di rumah Mama? Kau jahat!" Tudingku padanya. Berkali kulihat dia mendesah frustasi.
"Maafkan aku ... jika aku meminta izin padamu, apa kau akan meng-iya-kannya?"
"Tentu saja, karena aku akan ikut denganmu."
"Maafkan aku ..." katanya cepat. Aku sudah tak kuasa menatapnya. Segera kupalingkan pandanganku ke sembarang arah.
Dia memelukku, kata maaf terus saja terucap dari bibirnya. Aku tak merespon, sungguh sulit memafkan kesalahan yang sama.
Tubuhku bergetar hebat, aku menangis tersedu-sedu. Ia memelukku dari belakang, sepertinya ia menangis di punggungku. Terdengar suara isaknya yang pilu.
"Sebaiknya kita bercerai Mas!" lirihku pelan, berharap Mas Irsyad tak mendengar suaraku.
Namun, betapa sialnya aku, dia mendengar jelas perkataanku. Dijauh-kan-nya tubuhnya dari punggungku. Memaksaku untuk menoleh ke arahnya.
Mataku sudah sembab, air mataku sudah membasahi seluruh wajahku. Bejuta luka kusorotkan padanya. Dia menempelkan keningnya dengan keningku. Dia sama terisaknya denganku.
"Jangan pernah berbicara seperti itu! Aku takkan sanggup kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu Raina," lirihnya.
"Kamu bohong Mas, buktinya kamu tidak bisa menjaga perasaanmu. Kamu rela membohongiku demi wanita itu." suaraku sudah sangat lemah.
"Aku memang salah Rai, maafkan aku. Tadinya aku bepikir, kau akan tersakiti jika tahu aku menjenguknya. Jadi aku lebih memilih merahasiakannya," jelasnya padaku.
__ADS_1
Dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku tak berdaya, jangankan untuk mendorong tubuhnya untuk bersuara pun aku tak mampu. Sungguh dia begitu menyakiti perasaanku.
Berulang-ulang dia mengatakan cinta padaku dan maaf dalam waktu bersamaan. Apa aku harus percaya padanya kali ini? Entahlah, aku masih belum bisa menentukannya.