Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 39


__ADS_3

Sebenarnya, perut dan kepalaku sudah merasa lebih baik. Tapi Billy dan Laras kekeh ingin mangajkku ke Rumah sakit. Yah, aku tak bisa apa-apa, dari pada aku harus pusing mendengar ocehan mereka, lebih baik aku menurut saja.


"Rai, bengong aja! Udah sampai nih, ayo kita turun!" suara cempreng Laras mengejutkanku.


"Iya bawel, ini juga mau turun." Kesalku padanya, dia hanya terkekeh melihat air mukaku yang masam ini.


Kami berjalan beriringan, Billy di sisi kanan, Laras di tengah dan aku di sisi kiri.


Kuperhatikan, sejak tadi, Billy terus saja berada di dekat Laras. Mungkin dia takut Laras ditikung orang lain.


Aku tersenyum membayangkannya, tanpa sadar mereka menatapku tajam. Aku langsung menghentikan tawaku, berusaha bersikap biasa saja.


"Kurasa, karena sakit kepala, dia menjadi sedikit gila," bisik Laras pada Billy.


Namun, pendengaranku masih normal, aku mendengarnya dengan jelas.


"Aku dengar lho Ras," kataku santai.


Billy dan Laras hanya tersenyum kikuk. Kami langsung ke bagian pendaftaran, aku mengambil kartu yang diberikan. Oh ternyata ini nomor antrean.

__ADS_1


Kami duduk di kursi yang sudah di sediakan. Laras nampak sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang dia baca. Dia terus tersenyum menatap ponselnya.


"Sebentar ya, aku ke kantin dulu. Pengen beli minuman yang segar," pamit Billy padaku dan Laras.


"Iya, jangan lupa minuman buat kita. Kalau bisa kembalinya jangan cepat-cepat," jawab Laras asal.


Membuat Billy mencebikkan bibirnya. Sudah 15 menit aku menunggu, namun namaku tak kunjung dipanggil. Aku menunggu dengan gelisah, tak tahu karena apa.


Ponsel Laras berdering, dia langsung berdiri dan menyuruhku untuk menunggunya sebentar. Ia pergi menjauh, untuk berbicara dengan Si penelfon.


Mataku menyapu seluruh ruangan ini, banyak orang berlalu-lalang. Ada yang menebus obat, ada yang sedang mendorong seseorang di kursi roda. Saat mataku melihat ke arah apotik, aku melihat bayangan suamiku.


Dengan mengendap-ngendap aku mengikutinya, bajunya, bentuk tubuhnya, rambutnya, segala yang ada pada dirinya, mirip sekali dengan Mas Irsyad.


Lalu dia memasuki sebuah kamar, kamar ini? Aku merasa tak asing, aku merasa pernah ke tempat ini. Ah ... ya aku ingat, ruangan ini adalah ruangan wanita itu!


Dadaku semakin berdebar, semakin sesak rasanya. Embun di pelupuk mataku salingĀ  berdesakkan ingin turun, kutahan saja. Tidak! Aku tidak boleh menangis, aku harus kuat.


Kutarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Mencoba untuk menguatkan hatiku, perasaanku mengatakan akan ada hal buruk yang akan kulihat.

__ADS_1


Langkah kakiku menuju depan pintu, kupejam kan mata sebelum benar-benar melihat, ada siapa di ruangan itu.


Bismillah, perlahan kubuka mata, pemandangan yang pertama kali kulihat adalah, dia! Suamiku, tengah menyuapi seorang wanita.


Dengan senyuman yang mengembang, wanita itu mengunyah makanan seraya memandangi wajah tampan Mas Irsyad. Cih! Bahkan disaat seperti ini, aku masih sempat memujinya.


Menyebalkan sekali hatiku ini, kenapa aku terlalu mencintainya? Di saat dia mematahkan hatiku berulang kali, aku tak bisa sedikit saja untuk membencinya.


Sumiku tersenyum ke arah wanita murahan itu! Dosa tidak sih, aku mengatakannya murahan? Sebab, dia tega menyakiti perasaan wanita lain. Air mataku jatuh dengan derasnya.


Badanku bergetar menahan tangis. Sungguh, aku tak ingin seperti ini. Kucoba untuk menelfonnya. Aku ingin tahu, apa respon laki-laki itu, apa dia akan menjawab dan mengatakan kalau istrinya menelfon.


Dengan tangan gemetar aku menekan nomornya. Kulihat suamiku merogoh saku celananya, ia menatap layar gawainya.


Lalu dimasukkannya kembali. Dia tidak mengangkat telfonku! Kucoba menelfonnya lagi. Dan ya, jawabannya tetap sama. Dia mengabaikanku!


"Tega kamu Mas!" pekikku seraya berjalan menjauh dari ruangan itu.


Telapak tanganku terus saja menghalangi mulutku, aku tak ingin isakanku terdengar oleh orang lain. Aku berlari sekencang-kencangnya.

__ADS_1


__ADS_2