Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian
Episode 40


__ADS_3

Aku tak perduli tatapan aneh dari orang-orang sekitar. Mereka takkan tahu betapa sakitnya perasaanku saat ini.


"Rai, kamu kenapa?" Tangan Laras mencekal lenganku. Aku menatapnya dengan penuh luka.


"Ada apa ini? Kamu ... kenapa Rai?" tanya Billy yang baru saja kembali.


Aku menatap sahabatku dengan nanar, lidahku kelu untuk mengucapkan semuanya.


Tanpa di duga, Billy menghampiriku, memelukku dengan erat. Mengusap kepalaku, kutumpah kan segala rasa sakitku di dada bidangnya. Sesaat lamanya aku merasakan ketulusan Billy.


Namun, aku teringat dengan statusku dan juga Laras. Ah ... gadis itu? Pasti dia salah paham. Aku langsung menjauh dari dekapan Billy. Kulihat mata Laras yang sudah berkaca-kaca.


Aku tahu apa yang dia rasakan. Maafkan aku Ras, sungguh aku tak bermaksud untuk merebut Billy darimu.


"Maaf Ras, tadi aku--aku sedang kalut, jadi aku ..." kataku terbata.


"Kau sudah seperti adik bagiku Rai, jadi jangan salah paham. Kau mengerti kan Cerewet?" ucap Billy, aku dan Laras saling pandang.


"Untuk apa kau bertanya seperti itu? Apa hubungannya denganku?" jawab Laras pura-pura kesal.

__ADS_1


Padahal aku yakin, dalam hatinya ia begitu senang. Sebab Billy hanya menganggapku seperti adiknya. Dan ya, aku rasa Laras paham dengan ucapan Billy yang terkahir. Billy tak ingin Laras cemburu padaku.


"Alah, pura-pura gak tahu!" cibir Billy, lelaki itu memang gampang sekali untuk berubah menjadi menyebalkan.


"Eh tapi, kau belum menjawab pertanyaan kami Rai. Kau kenapa?" tanya Billy, kini wajahnya terlihat serius.


Ah kau ini Bill, baru saja aku melupakan kejadian menyakitkan itu. Sekarang, kau mengingatkanku kembali.


"Jawab Rai, jangan membuat kami khawatir,"  kini suara Laras yang terdengar.


"Aku gak bisa cerita sekarang, aku ingin pulang," lirihku.


Kini aku tak kuasa menatap mereka. Bulir bening kembali membasahi pipiku.


Di dalam mobil kami tak ada yang bersuara, mungkin Billy dan Laras mengerti tentang keadaanku. Aku lebih memilih melihat ke luar kaca mobil, melihat pepohonan yang saling berkejaran.


Perasaanku sangat sakit, seperti pisau sedang mengiris-ngiris hatiku. Aku menangis tersedu. Tangan Laras mengelus-ngelus pundakku.


"Aku lupa, tadi beli minuman untuk kalian. Ras, tolong berikan ini untuk Rai. Supaya dia bisa lebih tenang," titah Billy.

__ADS_1


Dengan sigap Laras mengambil minuman itu dan memberikannya padaku. Aku langsung meminumnya, rasanya kerongkonganku begitu kering.


"Rai, apa pun yang terjadi sama kamu, kami akan selalu ada di samping kamu. Aku yakin kamu kuat untuk menjalani ini semua," ucap Laras memberiku dukungan.


Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Aku bersandar di bahu Laras. Menumpahkan segala rasa yang tumpah ruah di dada.


"Yang sabar ya, Rai," ucapnya seraya mengelus kepalaku.


Aku hanya bisa mengangguk, aku tidak bisa berkata-kata. Tubuhku terus saja bergetar menahan isak.


Ajari aku untuk berhenti mencintaimu, Mas.


Karena aku takkan bisa membagi perasaanku dengan wanita lain. Lebih baik, kita bercerai saja.


Meski aku pun ragu, apakah aku bisa hidup tanpa dia? Kenapa mencintaimu harus sesakit ini?


********


Assalumu'alaikum reders 🤗 Selamat pagi 😊 Mohon dukungannya ya, like, komen dan juga vote.

__ADS_1


Meski karyanya tak seberapa, aku harap kalian suka dan menghargainya. Tekan tombol like gak susah, kok. 😆


Terimakasih banyak yang sudah mampir dan yang sudah memberikan dukungannya. 😘


__ADS_2